Home / Cerpen / Nyai

Nyai

Ilustrasi: Surya Dua artha Simanjuntak

 

Oleh: Suratman

Nyai. Mereka sebut aku demikian. Tuan memberi beberapa kantong keping emas dan jabatan tinggi kepada Bapak. Tentu Bapak senang dengan imbalan tersebut.

Kamu baik-baik ya di sana. Jangan menentang Tuanmu. Pikirkan adik-adikmu, Ibumu, juga Bapakmu ini.

Begitu Bapak katakan padaku.

Aku sebenarnya tidak bisa berkata apa-apa. Mau menangis saja tidak sanggup. Aku lihat mata bapak berkaca-kaca menerima kantongan berisi kepingan emas. Tak tanggung-tanggung memang. Selain kantongan berisi kepingan emas Bapak juga diangkat jadi kepala gudang sapi milik Tuan. Dua puluh lima keping emas sudah pasti ia terima untuk gajinya dalam satu bulan. Uang dua puluh lima keping setidaknya baru habis untuk makan selama dua bulan, itu sudah kelewat banyak jumlahnya.

Senang bukan kepalang mainnya. Ibuku, adikku dan Bapak tidak akan kelaparan lagi. Mereka sudah punya uang sekarang untuk persedian, jauh dari kata kekurangan seperti kami alami dulu.

Tapi, Jika kau tahu, sebenarnya dadaku terasa begitu sesak, mau menangis sudah tidak kuat. Sejak kemarin Ibu tidak mau berbicara padaku, melihat saja tidak. Aku tahu, Ibu tidak pernah setuju dengan tindakan Bapak menerima pinangan Tuan Horbet, seorang Panglima Belanda yang disegani nan kaya raya itu. Dengan Ibu dan diriku, Bapak tidak ada bicara tentang pernikahan.

Mungkin tidak perlu aku jelaskan ulang, kamu pasti paham bagaimana sifat Ibu. Seperti perempuan lainnya yang sudah menikah, Ibu harus manut kepada suami. Tidak boleh menentang, begitu Ibu tegaskan padaku.

Menurutku tindakan Ibu itu salah. Dan justru yang salah itu aku jika menentang kata Ibu. Aku sudah pusing jika harus diakui, tentang sifat Ibu yang selalu meng-iya-kan perbuatan Bapak walau terkadang salah.

Lebih pusing kuakui daripada rumus matematika yang kupelajari dari pak Sarjo, guru sekolah dasar yang suka mengajariku tempo kecil dulu. Salahnya, rumus matematika pak Sarjo tak mengajarkan jalan penentangan, karena hanya rumus menghitung balok yang kuketahui.

Ajaran yang diikuti Ibu kemungkinan sudah menjadi titah dari leluhurnya tempo lampau dari mulut ke mulut yang sudah mendarah daging dan getir jika harus ditentang.

Sudah kuperkirakan, nantinya, lepas aku benar-benar mendapatkan gelar Nyai untuk nama depanku, sungguh, orang-orang tentu bakal iri pada Bapak. Karjono dapat rezeki durian runtuh begitu mereka sebutnya karena Tuan Horbet mau meminangku.

Yang tidak kumengerti sekarang, ialah kedudukan seorang Nyai di mata warga desa hingga demikian mereka memaksa anak gadisnya harus pandai memikat hati Tuan Belanda si penguasa.

Percantik wajahmu anakku, belajar masak, senyum kalau ada Tuan Belanda, tegur mereka. Jangan menolak jika mereka minta apapun. Rebut hati mereka. Hidup kita akan dijamin sampai tua.

Begitu lah mereka berujar pada anak gadisnya agar dapat membawa Tuan Belanda kaya raya untuk jadi mantu. Sungguh celakah. Antara yang terdidik dan tidak sama saja, harta dan tahta membuat lupa dan tak berdaya. Memang begitu kurasa sifat orang-orang, rakus pada harta dan tahta. Melolong-lolong bengis seperti setan yang tidak beradab jika tak diberi. Menunduk diam tak bercakap laiknya penjilat jika sudah kenyang disuapi. Sudah gesang langgeng— hidup kekal—kenyataannya hal-hal seperti itu.

Memang tak punya malu, hidup terus dikangkangi Belanda tapi tetap saja cari muka agar bisa hidup senang. Bukan melawan, malah merendahkan diri.

Sudahlah. Menjadi Nyai sudah takdirku sekarang.

Begitu aku menguatkan diriku sekuat-kuatnya.

Menggunakan kereta dinas Tuan yang cukup mewah aku dihantarkan ke istana baru yang akan mengisi kisah baruku lengkap dengan segala bentuk pemain pendukungnya, bakal indah atau barangkali menyengsarakan tokohnya ke dalam kelam yang gelap, aku juga tidak dapat memastikan.

Cukup lama di perjalanan, tanpa ada banyak pembicaraan yang diutarakan oleh Tuan saat di kereta, akhirnya selepas langit meringsut menjadi petang kami baru tiba di kediaman Tuan Horbet yang kini menjadi istana baru bagiku.

Rasa lelah seharian di kereta dan gerah diserang sengatan matahari akhirnya luluh lantah oleh gemricik air keran sebagai penyeka tubuh. Tidak berlama-lama, dinginnya air mengingatkanku untuk menyudahi ritual bersih-bersih. Menggunakan piyama lanjut meringkukkan tubuh ini di ranjang agar persendian dapat meregang seperti semula.

Bermenit kemudian berlalu, pintu kamar kemudian berderit membangunkanku dari tidur yang belum sempat sampai tujuannya. Tuan Horbet masuk dengan handuk putih melilit dipinggangnya. Harum sabun mawar yang ia gunakan masih kentara hingga ke penciumanku. Tuan lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah ranjang. Tubuhnya tinggi lihwal keturunan Belanda kebanyakan. Kulitnya putih, hidungnya mancung, dadanya tampak bidang, ditambah perutnya yang berkotak-kotak. Aku tertegun dan sedikit gugup ketika Tuan mendekatkan tubuhnya kepadaku.

Kulihat mata Tuan tampak nyalang, nafasnya mendengus tak beraturan. Aku sudah menduga akan seperti ini. Pria manapun sudah tentu akan terbakar birahinya jika sekamar denganku.

Bayangkan saja, payudara berukuran 36B milikku kali ini benar-benar tercetak menyeratkan keranumannya. Seperti tak dibalut sehelai benang pun, lekukan-lekukan tubuhku juga menampakkan setiap sudutnya.

Bagaimana tidak, piyama tidur yang aku kenakan sungguh tipis sekali ditambah ukurannya hanya satu jengkal di atas lutut. Kaki jenjangku yang putih tak luput menambah gairah. Tuan menyala-nyala.

AARRGHHHHHHHHH………… Tuannnnnn…….

Desahanku tak tertahankan lagi. Dengan cepatnya Tuan sudah menimpali tubuhku tanpa meminta persetujuan. Sekonyong-kenyong maunya saja, tangan tuan dengan bebasnya meremas-meras payudaraku. Memelintir putingku hingga merah menyala terasa perih pula.

Tuannnnn…. Arghhhgghhhhhttt……

Aku benar-benar seperti tersengat listrik saja rasanya. Darahku mendesir tak karuan, keringatku tak terbendung lagi mengalir ke segala tempat mencari penyekanya. Tuan, siapa sangka telah mengubahku menjadi perempuannya karena birahi.

Nafas kami lantas sama-sama kian beradu, irama jantung kian tak menentu detakannya. Tuan sungguh membawaku lupa tentang kelas di antara kami. Aku semula tidak menyukai pernikahan ini malah berseru ria bermain-main nakal bersamanya. Kenakalan ini entah mengapa susah diejahwantahkan dariku.

Bibirku gantian melumatnya, menyesap-nyesapi lehernya, dan membalas bercak-bercak merah yang sudah tertanggal di leherku. Aku rasa sudah imbang, bercak-bercak merah silih tertanggal di lehernya.

TUANNNNN….. HHHHFFFFFFTTTT…

Tubuhku mengejang, sengatan listrik nyata menyambar tubuhku. Sepontan aku menjadi lemas kembali. Orgasme ketiga menyambangiku, lelah menyesak. Tenagaku habis terkuras. Sendi-sendiku kian terseok-seok dari persendiannya.

HUUUU lelah sekali rasanya. Kamu benar hebat. Sungguh. Tak seperti kebanyakan yang pernah kurasai, uhhh. Kamu, tetap lah di sini! Jadi lah pemuas ranjangku seutuhnya. Itu tugasmu di sini, tidak beratkan!

Begitu Tuan horbet bisikan ke telingaku. Sebagai pemuas, itu tugasku. Tidak lebih katanya. Dan aku diam tanpa menentang karena gelar Nyai mengingatkan aku ialah istrinya. Jadi harus manut seperti kata Ibu.

About SUARA USU

Check Also

Abnormal

  Oleh : Yael Stefany Sinaga Ada benarnya. Hanya sang penenun waktu yang tahu jawabannya. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *