Home / Cerpen / Terlahir Sebagai Pemenang

Terlahir Sebagai Pemenang

Ilustrasi: Surya Dua Artha Simanjuntak

 

Oleh: Surya Dua Artha Simanjuntak

Kami banyak, namun kami bukan Legion. Kami tak punya nama. Ah, setidaknya belum. Kami adalah alfa. Ya, semua bermula dari kami. Maka dari itu dengarkan lah karena ini adalah ceritamu.

***

Aku tak tahu mengapa ada di sini. Sial, aku bahkan tak tahu siapa diriku. Namun yang pasti, aku tahu harus apa. Ya, aku tahu tujuanku. Aku harus memenangkan pertandingan ini. Pertandingan hidup mati.

Kiri, kanan, belakang, depan. Wow, banyak sekali sainganku. Puluhan, ratusan, ah bukan, ini jutaan. Mungkin ini hanya khayalan, namun sepertinya mereka semua mirip denganku. Biar ku ingat. Ya, kami berasal dari tempat yang sama, kami juga memiliki tujuan yang sama. Mereka adalah saudaraku.

Walaupun begitu, pertandingan tetap pertandingan. Harus ada yang menang dan yang kalah. Harus ada si juara dan si pecundang. Persetan dengan mereka, Ini bukan pilihan, aku harus menang.

Ya, aku harus sampai ke tempat itu. Tempat yang bahkan belum pernahku lihat. Bukan, maksudku tempat yang belum pernah kami lihat. Tempat yang menjadi tujuan kami semua. Tujuan dari pertandingan ini. Tempat bagi sang pemenang.

Sial, mereka curi start. Ah, tapi biarkan saja. Ini bukan hanya pertandingan yang mengandalkan kecepatan. Ini lebih dari itu. Baiklah, ayo ke sana.

***

Kami semua bergegas ke tempat itu. Namun kami tak tahu harus ke arah mana. Tempat ini sungguh ganjil. Kami hanya mengandalkan insting. Ya, insting yang menuntun kami. Mungkin juga tempat itu yang menuntun insting kami. Biarlah, aku tak peduli. Aku hanya ingin secepatnya sampai ke sana.

Selama perjalanan, kami terus terpisah-pisah. Kami memilih jalan yang menurut kami benar, walaupun belum tentu itu yang terbaik. Coba kulihat, sanginganku tinggal ratusan, ya setidaknya di kelompok ini. Entah mengapa, itu membuatku semakin bergairah.

Semakin jauh jarak yang ku tempuh, semakin aneh kurasa. Sial, di sini semakin panas. Kami akan mati jika terus seperti ini. Tidak, tidak. Aku tidak boleh mati. Aku ingin menang. Aku harus terus berperang.

Arrgghh, panas sekali! Pertandingan ini seakan-akan dirancang untuk tak dimenangi. Aku rasa tak akan ada yang tahan jika terus seperti ini. Tak ada pilihan, aku harus segera sampai ke tempat itu. Pertandingan ini akan ku akhiri.

Seperti yang kukira, lihatlah, Kami hanya tersisa puluhan. Yang lain mungkin sudah bermatian di belakang sana. Haha, dasar pecundang. Aku tak akan seperti mereka.

Aku semakin merasakannya. Ya, aku sudah dekat dari tempat itu. Benar. Lihatlah di depan sana. Itu seperti barikade.

Sial, barikade ini sangat tebal dan juga lengket. Aku harus menerobosnya. Aku tahu di dalam sana adalah tempat yang ku tuju, yang kami semua tuju.

Tidak, ini di luar kontrolku. Munafik jika ku katakan bisa melewati barikade ini dengan mudah. Namun aku tahu menyerah bukan pilihan. Jika aku menyerah sekarang, aku tak akan pernah tahu siapa diriku. Aku tak akan pernah merasakan apapun. Aku tak akan pernah menjadi apapun. Aku harus menang.

Ya, sedikit lagi. Berhasil. Aku berhasil menembus barikade sialan ini. Baiklah, sedikit lagi. Sedikit lagi aku akan memenangkan pertandingan ini.

Seperti kesetanan, aku terus bergegas ke tempat itu. Tak kupedulikan lagi para pesaingku, mereka mungkin tersisa tak lebih dari sepuluh.

Sial, jalur ini seperti tak ada ujungnya. Kapan pertandingan ini akan berakhir? Tunggu dulu, aku melihat cahaya di depan sana. Apakah itu tempatnya? Ah, indah sekali. Aku harap ini bukan fatamorgana. Ya, benar. Itu adalah tempatnya. Tempat yang kami semua tuju. Tempat yang sedari tadi aku dambakan.

Aku akan memasukinya. Aku akan menembusnya. Hanya ada satu pemenang. Aku harus jadi yang pertama. Aku akan mengakhiri rasa sakit yang kurasakan selama ini. Ya, sedikit lagi. Sedikit lagi aku menang.

Akhirnya aku berhasil masuk. Wow, tempat ini langsung membentuk barikade. Ya, tak ada lagi yang boleh masuk. Hanya aku. Karena aku adalah sang pemenang.

Aku merasakannya. Aku akan menyatu dengan tempat ini. Inikah akhirnya? Bukan, ini bukan akhir, ini adalah awal dari segalanya.

***

“Owek.. owek… owek,” suara tangisanku menggema ke seluruh ruangan.

“Selamat ya Bu, anaknya sudah lahir dengan selamat,” kata seorang wanita berpakaian serba putih.

“Sini, biar aku gendong,” kata wanita lainnya yang sedang terbaring di tempat tidur. Dia tersenyum melihatku. Ah, cantik sekali. Entah mengapa, aku merasa bahagia melihat wanita cantik ini tersenyum.

“Ini ibu Nak, jangan menangis lagi.”

Seperti terhipnotis, tangisanku langsung berhenti. Aku merasa tenang berada di dekapannya. Ya, dia adalah ibuku. Semua perjuangan ku selama ini tak sia-sia. Aku berhasil melihat wajah ibuku.

Tak lama berselang, seorang pria datang menghapiri kami. Sambil menangis, dia kemudian memelukku. Aku yakin, dia adalah ayahku. Melihat itu, ibu ikut menangis. Mungkin terbawa suasana.

Sudahlah Yah, Bu. Anakmu ini sudah lahir. Tak perlu menangis. Aku sudah mengalahkan jutaan pesaing, aku adalah sang pemenang. Aku yakin tak akan mengecewakan Ayah dan Ibu karena aku bukan pecundang.

About SUARA USU

Check Also

Abnormal

  Oleh : Yael Stefany Sinaga Ada benarnya. Hanya sang penenun waktu yang tahu jawabannya. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *