Home / Cerpen / Akhir Penantian

Akhir Penantian

Ilustrasi: Krismon Duha

 

Oleh: Nikyta Ayu Indria

Langit mendung tak selalu menandakan akan turun hujan. Ia datang sebagai penenang hati setiap insan kala siang hari. Terlindungi dari sinar matahari juga tak menginginkan rintik hujan membasahi. Kadang memberi manfaat pada orang lain akan membawa berkah bagi diri kita juga kelak.

***

Odong-odong ukuran besar itu terlihat begitu ramai malam ini. Mulai dari anak-anak yang menaikinya, lagu pop yang di-remix, hingga gemerlap lampu yang menghiasi sekeliling gerobak baru itu. Tak heran Bang Ujang selalu pulang lebih larut dari hari biasa.

Semua orang tua melambaikan tangan sambil mengambil beberapa foto ke anak-anak mereka. Berbeda dengan aku dan Mas Agus lakukan pada Dila, putri kami. Kami hanya bisa memandang Dila dari ujung sudut gerobak karena terhalang orang lain di depan. Tak apa, Dila tetap tersenyum riang dan berlagak bisa menyetir mobil yang ia naiki.

Tak lupa, gula kapas juga balon gambar Masha and The Bear sudah di genggaman tangan kanan-kirinya. Aku dan mas Agus senang, Dila bisa merasakan malam minggunya di pasar malam hari ini.

***

Dua tahun lalu, aku sedang menyapu jatuhan daun mangga di halaman belakang milik Pak Aryo dan Bu Sekar. Perut besar yang begitu berat tetap harus kupaksakan ikut bersamaku mengerjakan kewajiban di tempat pemilik juragan ternak lembu ini.

“Dek, kau di rumah saja lah. Tak usah pergi menyapu. Biar abang yang kerja seharian,” kata Mas Agus. Begitu yang ia ucapkan tiap hari. Tapi ucapannya tak pernah kuhiraukan.

Kerasnya hidup membuat aku dan Mas Agus harus bekerja berdua. Tak akan cukup jika hanya mengandalkan Mas Agus sendiri. Aku paham kekhawatirannya, tapi aku tak tega dia banting tulang dari pagi sampai larut malam. Kerjanya tergantung apa yang orang-orang dusun butuhkan. Ia bisa mengecat rumah, mencangkul lumpur parit, perbaiki genteng bocor, angkat kayu dari toko bangunan, apa saja. Kalau tak ada yang memanggil, maka hanya bisa makan sisa semalam.

Jadinya aku bekerja diam-diam setelah Mas Agus pergi dan selesai sebelum Mas Agus pulang ke rumah. Sama dengan Mas Agus, aku bisa bekerja sesuai yang bisa kukerjakan. Tapi lebih banyak di rumah pak Aryo dan Bu Sekar, di tempat mereka ada saja kerjaan.

Tendangan kuat dari dalam perut membuatku tak kuat menahannya saat menyapu. Aku berteriak keras sambil memegang perut depanku meminta pertolongan. Aku berdarah. Lemas. Tapi rasa sakitnya tak kunjung reda.

Untung Lela, putri Pak Aryo melihat ke belakang. Ia langsung berteriak kuat juga meminta pertolongan untuk membantuku. Orang-orang datang menggotongku ke mobil Pak Aryo menuju klinik pinggir kota. Aku mengerang kesakitan sepanjang jalan. Entah kata-kata apa saja yang kuucapkan untuk menahan sakit ini, aku tak peduli.

Perjalanan amat cepat, aku sudah masuk ke ruang bersalin. Di sana sudah ada Mas Agus yang menunggu. Semua cemas. Aku dituntun oleh bidan untuk ngeden sekuatnya. Mas Agus disamping memegang tanganku. “Bu, kuat ya. Satu.. dua .. tiga,” aba-aba bidan.

Kucuran keringat membasahi daster kuningku. Ah, rasa sakit yang tak tertahankan. Tapi aku harus menyelamatkan yang ada di kandunganku selama sembilan setengah bulan ini. “Bu, yang kuat lagi. Ini kepalanya masih keluar setengah,” teriak bidan lagi. Ingin rasanya ocehan dari bidan aku sumpel, tapi tak mungkin.

Rahimku koyak melebar, selebar suaraku berteriak agar bisa keluar.  Mungkin ini yang dirasakan ibuku dulu ketika melahirkanku. Pikirannya mau mati saja daripada bayinya tidak selamat.

Pukul 15.34 suara tangisan bayi terdengar, bidan bilang perempuan. 15.36 bayi laki-laki lahir tanpa terdengar suara tangisannya. Kami berusaha membuatnya menangis tapi tak berhasil. Sunyi, senyap . Aku melahirkan kembar sepasang walaupun tak sempurna. Mereka aku beri nama Dila dan Habil.

Dila dan Habil pernah sakit demam selama seminggu berturut-turut. Mas Agus juga sakit, tapi tak selama si kembar. Mbah Sri, tukang obat samping rumah bilang sakit mereka tak akan mempan jika hanya mengandalkan kompres air hangat. Habil tetap tak bersuara sampai akhir menuju rumah sakit. Sementara Dila langsung dibawa ke ruang ICU. Kehilangan satu, tetap akan membekas juga.

“Semuanya empat juta lima ratus ribu Bu,” kata resepsionis. Aku mengambil bon pembayarannya dan menunjukkan pada Mas Agus. Kami berdua diam tak berkutik setelah melihat jumlah nominal yang harus dibayarkan. Mas Agus mengembalikan bonnya padaku setelah itu pergi meninggalkan.

“Bu, sini saya bayarkan,” ucap seorang wanita tinggi berkulit putih

***

Seperti biasa, hari ini pasar minggu ramai dengan rombongan keluarga dan anak-anak. Dagangan telur goreng dan sosis goreng cukup banyak dibeli. Sama dengan dagangan es buah Mas Agus banyak dibeli. “Nanti malam kita ke pasar malam ya, Bu,” ajak Mas Agus. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum kecil menjawabnya.

Ah, waktu kembali cepat berlalu. Pasar malam juga ramai seperti biasa. Odong-odong elit itu sudah memutarkan lagu remix nya berulang-ulang. Badut ber-make up dempul juga sedang menunjukkan atraksinya pada anak-anak. Beginilah yang aku dan Mas Agus lakukan tiap minggu jika rindu dengan Dila. Aku tak akan bilang melupakan Habil juga. Mereka penyemangat kami.

Segala yang pernah terjadi dalam hidup kami tetap diingat, bahkan saat harus membantu keluarga pemilik ternak lembu itu. Aku tak bermaksud mengungkit, tapi apakah harus melewati seberat ini. Entahlah.

Keluarga pemilik ternak lembu menebus biaya rumah sakit si kembar. Dengan syarat Dila harus ikut menjadi bagian di keluarga mereka. Sementara aku dan Mas Agus tak boleh mengunjungi dia dan mengaku kami orang tua kandungnya. Jahat memang. Tapi harus bagaimana. Tak ada biaya untuk menebusnya.

Senggolan dengan gadis remaja tadi sedikit sakit karena dia sedang berlari dikejar kakak perempuannya. Dia sempat minta maaf, dan aku diam tersenyum. Dia baik-baik saja. Ah, aku tak bisa melihatnya berlama-lama. Toh, harus tahu diri juga. Tapi aku rindu, jadi harus aku apakan perasaan ini.

Mas Agus mengajakku pulang. Ia bilang senang melihatnya di minggu ini. aku mengangguk pelan. Berharap minggu depan dapat melihatnya lagi.

About Portal Berita Pers Mahasiswa SUARA USU

Check Also

Cinta Kita Benar(kan)!

  Oleh: Suratman Terus keintim-intiman yang kita nyala-nyalakan setiap harinya. Pergumulan, erangan, pada tiap malamnya …