Anak Ular

0
226
Ilustrasi: Anggun Dwi Nursitha

Oleh: Amelia Ramadhani

Ilustrasi: Anggun Dwi Nursitha
Ilustrasi: Anggun Dwi Nursitha

AmelTangan kanan Ayah sama sekali tidak bisa digerakkan. Ia bilang jari-jarinya mati rasa. Tak bisa menerima respon yang diberikannya. Ia sudah mencoba untuk menggerakkan jari-jarinya tapi tak satupun bisa bergerak. Lagi jari-jarinya tak dapat menerima respon itu. Kemudian ia mengangkat tangannya. Terlihat dari gurat wajahnya, ia kesakitan.

Ibu langsung membawa Ayah ke tempat tukang urut. Tangannya patah. Harus di-lukah sampai sarafnya bisa menerima respon kembali. Ayah juga tak diperbolehkan untuk banyak menggerakkan tangannya. Harus digantungkan dengan kain yang diikatkan di leher sampai tulangnya benar-benar menyatu kembali.

Aku diam-diam menghampiri Ayah. Ia tak banyak berkata. Senyum manis yang jarang dipertunjukkannya ia berikan padaku. Aku membalasnya dengan senyum kesakitan. Kusentuh tangannya yang sedang digantung dengan kain berwarna biru. Kain ini aku pilih karena aku menyukai warnanya dan berharap ia akan segera sembuh.

“Sakit ya, Yah?” Aku mengelus-elus tangannya yang kurus.

Ndak kok. Kalau digerakkan aja yang sakit,” ia kembali tersenyum.

***

Pakaian kotor di kamar mandi sudah menumpuk. Padahal baru beberapa hari aku tak mencuci. Susahnya mendapatkan air bersih saat musim kemarau semakin menyulitkan masyarakat yang menampung air hujan untuk keperluan sehari-hari, termasuk keluargaku. Kami memiliki bak penampung air yang begitu besar, tapi airnya habis akibat kemarau sejak tiga bulan lalu.

Aku memutar otak untuk mengambil air di rumah tetangga yang memiliki sumur. Tapi harus antre karena banyak warga yang mengambil air untuk minum ternak. Aku berusaha agak pagi supaya dapat antrean paling depan. Tepat sekali. Hanya ada dua orang ibu-ibu yang membawa dua jirigen masing-masing ukuran 20 liter air. Buru-buru kuletakkan emberku sebelum penduduk lain berdatangan.

Sekitar sepuluh menit menunggu tibalah giliranku. Setelah itu datang seorang laki-laki dengan badan jangkung tapi sedikit kurus sehingga badannya terlihat bungkuk. Aku mengenal baik sosok itu dan aku senyum kepadanya.

“Kau rupanya, tumben kau cepat bangun,” serunya.

Dia adalah Haikal. Ia tinggal di rumah kami. Ayah dan Ibu menganggapnya sebagai anak laki-laki kedua mereka. Ia tinggal di rumah kami sejak ia masih sekolah di Madrasah Tsanawiyah (MTs.) sampai ia tamat dari Madrasah Aliyah.

Aku memanggilnya Uda Haikal. Beberapa bulan yang lalu ia menikah dengan teman kakakku. Kak Tiara namanya. Setelah menikah mereka tetap tinggal di rumah kami. Kak Tiara hanyalah ibu rumah tangga. Sesekali ia ikut dengan Ibu ke ladang untuk memanen sayuran. Sedangkan Uda Haikal bekerja di salah satu kampus swasta di kota sebagai staf administrasi.

Uda Haikal ditinggalkan oleh ibunya ketika ia kelas satu MTs karena ia ikut dengan suaminya yang baru. Kemudian ia tinggal dengan neneknya. Setiap hari ia membantu neneknya untuk mengambil rumput yang nantinya dijadikan makanan kambing. Ayah hanya memiliki satu anak laki-laki, karena itulah ia mengajak Uda Haikal untuk tinggal bersama kami. Aku dan Ricco, kakak kandungku, senang bukan main saat pertama kali Uda Haikal datang ke rumah kami. Kami ada teman baru yang juga pintar di sekolah dan juga ia sangat baik kepada kami berdua.

Walaupun sekarang ia sudah bekerja, Uda Haikal tetap memelihara hewan ternak. Ia adalah salah satu manusia yang suka bekerja keras.

“Aku mau cuci baju. Nanti jam 10 mau les juga,” jawabku.

“Ya udah, biar aku timbakan untuk kau,” Uda Haikal mengambil ember yang diletakkan di samping sumur.

“Embernya besar. Bisa ketarik kau nanti ke dalam sumur ini,” katanya dengan nada bariton seperti biasa.

Setelah emberku penuh aku membawanya pulang dengan gerobak. Kemudian aku mencuci pakaian yang sudah dipisah-pisahkan di kamar mandi. Setelah semua pakaian selesai kujemur, aku bersiap untuk berangkat ke tempat les bahasa Inggris di kota.

“Uda, enggak ikut ke pasar?” Aku merasakan hal yang aneh ketika melihat Uda Haikal masih menonton televisi. Padahal jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi. Biasanya pukul tujuh pagi ia sudah berangkat dengan Ayah untuk menjual sayuran ke Pasar Minggu. Ia tak menjawabku. Aku pun berlalu masuk ke kamar untuk menyiapkan buku-buku yang akan kubawa les.

“Chika.”

Aku kaget bukan main. Tiba-tiba Uda Haikal sudah berdiri di depan pintu kamar sambil memegang kepalanya. Sesekali ia mengusap-usap hidungnya.

“I.. Iya. Ma.. Mau ngapain? Kaget aku tiba-tiba udah muncul aja,” aku tergagap menjawabnya.

“Kau udah pernah ciuman gak?” Uda Haikal menatapku lekat.

Jantungku berdetak kencang. Tiba-tiba mataku panas. Rasanya darahku mengalir deras dari ujung kaki melunjak sampai ke ubun-ubun. Aku makin gemetar. Ada sinyal-sinyal bahaya yang akan dilancarkan oleh Uda Haikal.

Benar saja ia langsung mendorongku ke dinding. Kemudian ia menciumku tepat pada bibirku. Kurasakan aroma tembakau yang menyengat dari mulutnya. Aku meronta-ronta supaya aku bisa terlepas darinya. Tapi ia lebih kuat dariku. Aku memukulnya dengan tanganku tapi ia mencengkram kuat kedua lenganku.

“Ya Allah, aku butuh bantuan.”

Air mataku berjatuhan bagai hujan. Tak ada satupun orang di rumah yang bisa menyelamatkanku. Mereka semua di Pasar Minggu menjual sayuran. Aku benar-benar butuh bantuan saat ini. Benar-benar butuh.

Tiba-tiba Uda Haikal terjungkal jatul. Aku terisak-isak karena takut. Ia berteriak minta ampun. Terdengar beberapa pukulan menghujamnya. Terdengar suara laki-laki lain berteriak menyuruh Uda Haikal untuk keluar dari kamar. Suara itu makin tinggi dan membuatku takut bukan main. Aku tak berani membuka mata. Tubuhku terasa beku.

Ada sosok yang memelukku.

“Ayah di sini, Nak.” Aku memeluknya erat dan menangis sekuat-kuatnya. Aku tenggelam dengan kesedihan dan rasa takutku di pelukannya.

Ayah memukul Uda Haikal sampai jatuh. Ayah menyelamatkanku dari fitnah yang akan merusakku selama hidupku nanti. Ayah tersenyum padaku. Matanya mengatakan kalau semuanya baik-baik saja dan aku aman bersamanya.

Ibu datang dengan segelas air putih hangat. Aku meminumnya untuk meredamkan rasa terkejutku. Ibu ikut menangis melihatku yang masih kaku di pelukan Ayah.

“Ragukanlah segalanya, Nak, termasuk ayahmu sendiri. Pengkhianatan selalu terjadi di setiap ada kepercayaan. Ragukanlah segalanya.” Ia keluar dari kamar.­­

Komentar
(Visited 18 times, 1 visits today)