Home / RAGAM / Kesehatan / Apakah Kamu Ambivert?

Apakah Kamu Ambivert?

Oleh: Lazuardi Pratama

Ilustrasi: Lazuardi Pratama
Ilustrasi: Lazuardi Pratama

Kamu merasa kurang yakin bahwa kamu introver atau ekstrovert? Kemungkinan besar kamu ambivert.

Pernah beberapa kali saya coba beberapa tes kepribadian yang banyak tersebar di internet. Salah satunya adalah Myers-Briggs Type Indicator. Itu loh, kemungkinan besar teman-teman di dunia mayamu banyak berbagi di media sosialnya: INFP, ENTP, ISTJ, ESFJ, dan kawan-kawannya yang lain.

Saya juga pernah—banyak sekali malah—mencoba tes-tes yang ujung-ujungnya menghasilkan label, apakah kamu seorang ekstrovert atau introver. Artikel-artikel yang benar-benar ilmiah atau santai juga banyak membahas soal dua kutub itu. Dan ujung-ujungnya di kolom komentar artikel tersebut—saya juga—dengan senang hati berbagi hasilnya.

Konsep psikologi seperti ekstrovert dan introver ini dipopulerkan oleh Carl Gustav Jung, seorang psikater dan psikolog dari Swiss. Kalau kamu pernah coba tes Myers & Briggs, pasti sering menemukan nama bapak ini. Bagaimana tidak, Katharine Cook Briggs dan Isabel Briggs Myers mengembangkan konsep itu dari buku Jung berjudul Psychologische Typen yang terbit pada 1921.

Pengertian ekstrovert menurut Jung adalah, “an attitude type characterised by concentration of interest on the external object.” Secara umumnya adalah perilaku atau kebiasaan yang mendapatkan energi dari apa yang ada di luar diri sendiri.

Sementara introver adalah kebalikannya, “attitude-type characterised by orientation in life through subjective psychic contents”. Orang introver bukan bisa dipastikan orang yang pemalu, sebab si introver masih dapat berinteraksi sosial dengan orang lain tanpa ketakutan, ya cuma kurang nyaman saja.

Kedua kutub inilah yang selama ini kita tahu membagi setiap manusia ke dalam dua kotak. Kita bisa dengan mudah mengatakan diri kita sendiri introver hanya karena sering menyendiri di kamar. Atau, sebaliknya, mentang-mentang kita senang hidup terbuka bersama orang—yang seringkali belum kenal betul—kita terburu-buru melabeli diri kita ekstrovert. Siapa pun kamu, mungkin kamu punya bagian kecil dari dirimu sendiri yang merupakan bagian dari ekstrovert maupun introver.

Ternyata ada satu variasi lagi, yang bukan ekstrovert maupun introver. Ia adalah si abu-abu: ambivert.

Bayangkan saja, apakah kamu suka menyendiri dengan main gim, baca novel, atau minum teh manis panas di kamar sendirian kemudian setelah sekian lama kamu jenuh dan memutuskan keluar kamar dan mengobrol dengan teman satu indekos? Atau sebaliknya, apakah kamu ikut acara jurusanmu di sabtu malam, kalian memutar musik, dan kamu bergoyang seperti biduan organ tunggal, namun besoknya kamu mengurung diri dan menikmati kesendirianmu di kamar?

Atau kadang-kadang kamu suka pergi ke kafe yang ramai pengunjung, namun kamu datang sendirian dan menikmati waktu sendirimu? Atau kamu pernah datang ke konser band favoritmu dan alih-alih berjingkrak-jingkrak atau ber-chanting, kamu memilih untuk lebih banyak mengobservasi lingkunganmu walaupun kamu ada dalam kerumunan itu?

Itu semua tergantung suasana hatimu juga. Kamu merasa capek setelah banyak berinteraksi, tapi enggak suka telalu lama menyendiri.

Kamu seperti itu? Selamat! Kita sama-sama ambivert.

Ambivert bukanlah kelabilan antara introver atau ekstrovert. Justru kamu memiliki dua sifat dari dua kutub tersebut. Adam M Grant dalam jurnalnya yang berjudul Rethinking the Extraverted Sales Ideal, The Ambivert Advantage dari The Wharton School, Universitas Pennsylvania mengatakan ambivert mampu mengontrol dirinya agar tidak terlalu percaya diri. Ambivert juga bisa fleksibel dengan menjadi tokoh utama dalam percakapan atau menjadi pendengar yang setia.

Oleh karena kamu ambivert, beberapa persoalan-persoalan kedua kutub tadi bisa diatasi. Seperti, kamu mungkin kelihatan SKSD alias sok kenal sok dekat sebagai ekstrovert. Atau kesulitan berhubungan sosial dengan tetangga karena kamu introver. Tapi, ambivert bisa nyaman dengan keduanya!

About Portal Berita Pers Mahasiswa SUARA USU

Check Also

Mythomania: Bukan Bohong Biasa

Oleh: Vanisof Kristin Manalu Kebiasaan terlalu sering berbohong bisa berdampak buruk bagi kesehatan mental. Salah …