Home / Cerpen / Mimpi Uwak Deli

Mimpi Uwak Deli

Ilustrasi: Krismon Duha

 

Oleh: Yulia Pransiska

Malam ini, tabunganku telah terisi penuh. Dalam celengan kaleng berwarna biru besar, bergambar tokoh kartun Frozen kesukaanku. Kubunyikan celengan kalengku. Krek. Krek. Inilah modalku ‘tuk berlibur!

***

Jakarta adalah ibukota dari negara Indonesia. Di mana, terdapat Monumen Nasional atau biasa disebut dengan Monas. Monas ialah salah satu monumen yang melegenda dalam sejarah Indonesia. Terdapat di Jakarta Pusat. Monas memiliki ciri khas yaitu terdapat tugu emas pada puncaknya.

Televisi di depanku terus bersuara.

Sudah ketiga kalinya dalam sehari Uwak Deli menyetel siaran mengenai Monas. Aku yang sedari tadi duduk di ruang televisi hanya memperhatikan raut wajah kagum dari Uwak Deli. Aku tahu betul mimpi Uwak Deli. Jakarta dan Monas. Rasanya telingaku ini terasa panas bila siaran tersebut habis, karena Uwak Deli akan mengatakan, “Makanya kau cepat-cepat lulus dari kuliahmu. Biar bisa kerja di Jakarta dan bisa bawa uwak ke Monas.” Ia lalu menunjuk – nunjuk televisi bergambar Monas tersebut.

Biasanya aku hanya mengangguk dan mengatakan, “Iya, Uwakku.”

Belakangan ini aku merasa sedikit terganggu dengan pembicaraannya mengenai Jakarta-Monas. Terbukti, pembicaraan itu mengiang-ngiang di otakku setiap mau makan, mandi, kuliah, main.. Ah, pokoknya saat aku beraktivitas. Bahkan, keadaan yang terburuk terbawa hingga ke dalam mimpi, dan aku mengigau.

****

Jakrata-Monas, Jakarta-Monas!

Huuuuhh,” hembusan napas panjang dari mulutku.

Bahkan saat membaca buku untuk ujian mid nanti, kedua kata tersebut masih terlintas dalam benakku. Hmmm… Aku merasa otakku ini telah dikuras untuk memikirkan hal sepele seperti itu. Uwak Deli memang sosok yang hebat dalam memengaruhi pikiranku.

Bosan membaca buku untuk ujian, aku mencoba menghibur diri. Aku berniat duduk di teras rumah uwak. Pukul lima sore adalah waktu yang tepat memandang langit senja di sore hari. Segera kupasang tampang riang tuk mengurangi kepenatanku.

Sesampainya di luar teras, uwak Deli ternyata sedang mengobrol dengan tetangga dari sebelah rumah kami. Bu Hindun dan putri kecilnya, Kendis yang masih duduk di kelas lima sekolah dasar. Ini kali pertama aku melihat ibu dan anak itu ada di rumah cat berwarna telur asin. Seingatku, terakhir bertemu mereka pada saat lebaran tahun lalu dan Kendis masih suka memakai gaun layaknya putri kerajaan. Aku yang baru datang, hanya bisa mendengarkan pembicaraan mereka.

“Iya, Wak. Kami baru pulang dari sana,” ucap bu Hindun dengan dialek Jawanya yang khas. Bu Hindun menjelaskan bahwa selama ini ia dan Kendis tak berada di Kampung Duren ini karena mengikuti suaminya, Pak Badar yang harus bekerja di luar daerah. Bu Hindun pun menceritakan bahwa pemindahan suaminya ke luar daerah hanya sementara. Mereka akan tetap menetap kembali di Sumatera Utara, tepatnya di Kampung Duren ini.

Hah, pulang? Jadi benar ya mereka tak ada di kampung ini sedari lebaran tahun lalu. Namun dari mana? Aku yang masih belum mengerti banyak dengan pembicaraan mereka. Kembali aku masih terus menyimak.

“Oh, jadi benar di sana ada Monas yang megah itu di ibukota?” tanya uwak Deli yang penasaran dengan Monas. Maklum kami belum pernah memang menginjakkan kaki ke kota metropolitan itu. Tapi, oh jangan lagi pembahasan Jakarta-Monas itu, ya Tuhan. Aku hanya bisa memohon dan menggaruk-garuk rambutku.

“Iya, Wak. Megah, bersih, dan emas,” kali ini Kendis yang berbicara. Hanya dengan ketiga kata tersebut Kendis mendeskripsikan Monas kepada Uwak Deli.

Aku yang mulai penasaran dengan topik yang awalnya memuakkan ‘tuk didengarkan, entah kenapa diriku mulai mendekat dan antusias dengan percakapan mereka. Kendis pun mulai menceritakan Jakarta dan Monas. Mulai dari pengalamannya menaiki bus trans Jakarta, hingga mengunjungi Monas yang berpuncak emas itu.

Aku semakin larut dan membayangkan bila aku dan Uwak Deli berada di Jakarta dan berkunjung ke Monas. Kurasa kami akan menjadi turis lokal yang sangat norak. Terlihat dari segi pakaian. Aku membayangkan Uwak Deli menggunakan topi pantai besar, kacamata hitam, dan syal bulu-bulu melingkar di lehernya. Tak lupa kipas tangan yang berada di tangan angkuhnya, persis seperti ibu pejabat yang tamak.

Sementara aku bagaikan anak kecil norak dengan logat Batak yang khas, selalu teriak-teriak setiap berada di ibukota Indonesia tersebut. Tak sadar aku membayangkan hingga melukiskan raut wajah senyum-senyum sendiri. Uwak Deli pun mencubit telingaku, dan aku tersadar dari lamunanku.

“Ai, sakit sakit, Wak,” rintihku karena telingaku dijewer oleh Uwak Deli.

“Serem ya kau, Wen! Ini udah mau Magrib loh, jangan mesem-mesem sendiri,” perintah Uwak Deli padaku. Aku pun bergegas masuk ke kamar agar terhindar jeweran Uwak Deli kembali.

***

Krek…. Krek… Krek…

Aku menggoyangkan celengan kalengku. Aku rasa sudah penuh terisi lembaran uang.

“Lumayan berat nih,” kataku senang. Kurasa aku sudah tau mau diapakan celengan kaleng bergambar Frozen tersebut nantinya.

***

Pagi harinya, aku berniat mampir ke sebuah ruko ber-AC. Bukan sekadar untuk mengademkan diri, tetapi aku sudah memiliki tujuan tersendiri ke ruko tersebut. Tekadku sudah bulat. Sebulat buah apel yang sedang aku makan di perjalanan menuju ruko.

Sampai di ruko, aku disambut hawa segar dari mesin pendingin ruangan berwarnah putih itu. Dingin, pas untuk aku yang sedari luar berjalan di bawah matahari terik tadi.

Aman, kawan SMA-ku yang bekerja di ruko ini segera menyapa. Tak kusangka dia cocok sekali memakai kemeja putih bergaris-garis biru dengan paduan celana kulit berwarna cokelat. Ia duduk di depan komputer layaknya pengusaha muda. Padahal, ia baru berstatus karyawan di ruko yang menjual jasa travel di kampung Duren.

“Eh, Wen, tumben kau ke sini. Mau beli tiket ke Malaysia?” tanyanya meledek . Tak heran ia bertanya seperti itu padaku walaupun hanya bercanda. Sebab, banyak warga yang biasanya memakai jasa travel ini ‘tuk membeli tiket ke negeri jiran tersebut.

Aku yang sudah akrab dengan Aman, refleks memukul lengannya yang kokoh sambil tertawa. “Begitu cantik mukaku bila harus merantau ke sana, Man.” Balasku dengan ekspresi dibuat angkuh.

“Jadi? Mau ke mana kau? Lagi pula setahuku mahasiswa belum libur tuh,” katanya heran.

Lalu aku menjelaskan tujuan kedatanganku, beserta ceramah dan impian Uwak Deli mengenai Jakarta-Monas. Dan Aman pun ber-oh ria. Setelah mendengar ceritaku, Aman mulai mencarikan tiket menuju Jakarta.

“Ada nah, Wen. Paling murah Rp699.000-, nih. Ya, maklumlah kalo agak kena tunda-tunda nanti,” jelasnya menunjukkan tulisan di kertas padaku.

Entah kenapa tekadku yang tadinya penuh, sekarang berkurang dan membuatku menjadi bimbang dengan keputusanku awal. Aku pusing sekali. Aku pun berpamitan pada Aman, mungkin nanti aku akan menghubunginya.

Sesampainya di rumah, aku tak melihat keberadaan Uwak Deli. Biasanya Uwak di siang hari seperti ini duduk di ruang TV dan menonton siaran Monas. Perasaan khawatir pun menyelimutiku. Tak ada tanda-tanda keberadaan uwak di rumah.

Segera aku berlari ke rumah Bu Hindun. Aku sudah mengetuk pintu rumahnya, tetapi tak ada balasan. Aku berpikir mungkin Uwak Deli menghadiri kenduri di rumah warga. Tapi tak biasanya uwak tak memberitahu bila akan pergi kenduri. Batinku mulai sesak. Aku takut terjadi sesuatu pada Uwak Deli.

Dengan langkah gemetar, aku menuju rumah Bou Delila. Biasanya Uwak Deli mampir ke rumahnya.

Sesampainya di sana, aku bertemu Bou Delila. Aku menanyakan keberadaan Uwak Deli. Dia pun bukannya menjawab, malah memelukku. Aku tak mengerti apa arti bahasa tubuh itu, Seketika dunia ini berputar dan menggelap dalam mataku. Tak dapat kudengar suara apapun lagi. Hingga akhirnya, badanku memilih tuk terjatuh.

***

“Wenti, Wen, bangunlah ko Wen,” terdengar suara parau yang membangunkanku.

“Uwak Deli!” Teriakku, hingga terduduk dari posisi tidurku.

Aku paksakan membuka mata. Samar-samar. Tetap saja, aku masih mencari keberadaan Uwak Deli. Tapi nihil. Sosok keibuan yang selalu menceramahiku akan mimpinya masih tak ada. Aku pun semakin panik, membuat napasku tak beraturan.

Sssttt, Wen, tenang dulu. Uwak Deli gak apa-apa. Sekarang Uwak Deli lagi ke Jakarta nemuin Bang Hotma. Kan minggu depan Bang Hotma mau pelantikan buat naik pangkat. Buru-buru tadi Uwak, makanya gak sempat pamit. Soalnya takut ketinggalan pesawat, Wen. Bareng Bu Hindun dan si Kendis,” jelas Bou Delila membuatku menjadi sedikit tenang. Namun tetap saja, ini tak adil. Masa aku tak diajak oleh uwak. Ada perasaan kecewa yang menghampiriku saat ini.

“Bou, Wenti juga mau nyusul uwak ya. Besok,” ucapku singkat. Bou Delila membalas dengan anggukan singkat. Ia tak mau membantah apa yang telah kuucapkan, karena ia tahu keponakannya ini mempunyai karakter yang bila dilarang pasti akan menjadi-jadi.

“Tapi, habiskan dulu makanan ini dan obatnya,” pintanya sambil memberikanku makanan rumah sakit dan obatnya.

***

Esok paginya, di sinilah aku sekarang, akan terbang di atas awan dan melewati pulau-pulau dan lautan dengan pesawat. Perjalanan hanya dua jam lamanya. Tapi, aku merasa bagai 24 jam di atas sana, karena aku sedikit takut ketinggian. Lagi pula ini kali pertamaku naik kapal terbang.

“Iya, Wak, tunggu Wenti ya. Pokoknya mimpi Uwak Deli pasti akan terwujud. Sebentar lagi pesawat Wenti berangkat kok,” obrolanku dengan Uwak Deli melalui telepon membuat rasa takut ini sedikit berkurang. Aku tak sabar ingin mengunjungi Monas yang ‘megah, bersih, emas,’ seperti kata Kendis saat lalu. Dengan hati gembira, aku mulai berpamitan kepada Bou Delila dan Aman mengantarku ke bandara.

About SUARA USU

Check Also

Pemuda dan Sang Penenun Waktu

Oleh: Samuel Sihaloho Hidup manusia bertempat dalam tenunan waktu pada pola yang tak mampu dilihatnya. Sementara …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *