Home / Cerpen / Ayah, Bolehkah Aku Bertanya?

Ayah, Bolehkah Aku Bertanya?

Oleh: Nurhanifah

Siang itu langit mendung, Jihan baru saja pulang les biola. Sebenarnya masih ada satu jam lagi untuknya berlatih, tapi mendadak datang telpon dari rumah memintanya segera pulang. Secepatnya. Jihan setengah hati meninggalkan gurunya, masuk ke mobil. “Aku bisa apa?” ucapnya dalam hati. Selama perjalan hanya hening yang tercipta, ia takut untuk bertanya. Salah-salah ia akan dimarahi.

Ia termenung melihat bendera kuning di pagar rumah. Mengernyit. Terlebih melihat ramai sekali tamu di ruang tamu, beberapa sibuk menganggat telpon mengucapkan turut berduka cita. Matanya memperhatikan seorang ibu yang nampak terburu-buru keluar ruangan. Sebuah karangan bunga datang, diletakkan di halaman rumah. Jihan mulai bertanya-tanya, tapi tak tahu harus haturkan kemana? Semua sepertinya sedang sibuk sendiri.

Pelan-pelan ia berjalan menuju tangga, ke kamar. Ia ingin meletakkan biolanya kembali ketempatnya. Langkah Jihan terhenti, seseorang menarik lengannya, menangis, memeluknya. Jihan terpaku, diam. “Sing sabar ya non, non jangan berkecil hati karena bapak telah pergi. Sing tabah non,” bisik wanita itu ketelinga Jihan.

Jihan diam, tak tau mau berucap apa. Ia tersenyum. Mereka saling bertatap, lantas pelukan itu terlepas. Wanita itu meninggalkan Jihan, tapi dari kejauhan sesenggukan tangis itu masih terdengar Jihan. Jihan masih diam, berusaha mencerna apa yang sedang terjadi. Matanya memperhatikan semuanya, mencoba menemukan seseorang. Setelah lima kali menyapukan penglihatannya kesegela penjuru, akhirnya orang itu berhasil ditemukan.

“Ka, ada apa?” Jihan bertanya pada pria setengah baya.

“Kamu dari mana saja? Kenapa baru tiba? Bukannya Pak Min sudah menjemputmu sejak tadi?”

“Akuu…”

“Sudahlah, kamu lebih baik diam saja. Jangan banyak bicara dan bertanya, amati saja.”

“Tapi…”

“Diam dan amati Jihan!” Pria setengah baya itu membentaknya, lantas pergi menginggalkan Jihan yang masih dipenuhi tanda tanya.

Jihan masih terpaku, tapi  berusaha sebisa mungkin menghilangkan kekakuan di wajahnya. Matanya membulat, ayahnya terbujur kaku. Mungkin ayah tidur, terlalu lelah. Hibur Jihan pada diri sendiri. Ia mendekat, ingin bercerita dengan ayah.

Jihan menggenggam tangan ayahnya, dingin.

“Ayah kedinginan?” Jihan berbisik

Hening, semua mata memperhatikan mereka.

“Ayah, bolehkah aku bertanya?” Jihan menidurkan kepalanya ke dada ayahnya. Posisi ini sangat Jihan suka untuk membangunkan ayahnya saat tidur jika ingin bercerita.

Hening.

“Mengapa ayah tak menjawab? Ayah marah dengan Jihan?” Ia mengecup tangan ayahnya.

“Jihan berhenti bersikap seperti anak kecil!” Pria setengah baya itu menarik Jihan, membawa menjauh dari tatapan mata yang memandang sendu. Prihatin.

“Mulai saat ini, berhentilah bertanya! Kita tidak butuh tatapan itu! Tatapan kasihan! Jadi cobalah menjadi dewasa sejak saat ini!” Pria itu menatap Jihan.

Jihan mengangguk, bahunya bergetar, tatapannya mengarah ke lantai.

***

Jihan tumbuh dengan cepat, tubuhnya sangat berisi. Lebih berisi lagi di bagian paha, dada, dan pinggul, semua penuh. Setiap ia berjalan, semua mata akan menuju padanya. Terpesona. Lekukan itu benar-benar menghipnotis, selonggar apapun pakaian yang ia kenakan entah bagaimana lekukan itu tetap terlihat. Ah, biarlah anggap saja itu bonus.

Terlebih senyumnya, senyum itu begitu meneduhkan hati. Lantas nanti siapapun yang berhasil memiliki gadis ini, pasti jadi pria yang beruntung. Terlebih tatapan matanya, begitu tajam. Sekali tatap, jiwamu seperti diringkusnya. Dipaksa untuk mengangguk, setuju. Jihan memang hebat, kemampuan ayahnya benar-benar menurut seratus persen padanya. Lagi kemolekan ibunya juga tampak bagai cermin di tubuhnya. Ibaratnya, ia adalah perpaduan gen ayah dan gen ibu yang seimbang, sempurna.

Menjadi menajer di sebuah perusahan ternama membuatnya terlihat makin menggoda. Tapi, siapa sangka di balik kesempurnaan ini ada sebuah luka. Luka yang tertutup sangat rapat, seolah telah sembuh sempurna. Siang itu, setelah selesai menyelesaikan tugasnya di kantor Jihan memacu kendaraannya menuju suatu tempat. Tempat favoritnya ketika gunda melanda.

“Selamat sore ayah, maaf Jihan telat,” ia menyiram air ke pusara.

Matanya tempak sendu, ia mengusap pusara tersebut. Rumput-rumput kecil ia cabuti perlahan. Sebuah doa ia haturkan. Lima tangkai mawar putih ia letakkan diatas pusara. Mawar kesukaan ayah.

“Ayah bolehkan Jihan bertanya?” air matanya mulai menetes

“Sore itu sepulang dari les biola, mengapa ayah pergi tanpa sempat berpamitan? Padahal Jihan ingin bercerita bahwa Jihan baru saja lolos seleksi lomba bermain biola untuk tingkat nasional. Tahukah ayah, bahwa Jihan ingin ayah menyaksikan penampilan Jihan di bangku paling depan. Ayah yang akan memberikan tepukan paling keras setelah Jihan usai bermain. Maafkan Jihan karena terlalu banyak berharap pada ayah.”

Seseorang menyentuh pundaknya. Ia berhenti bicara, menarik nafas. Mengusap air mata di pipinya.

“Sudahlah Jihan, jangan kau ungkit lagi hal itu,” ucap pria itu lirih.

“Andai kau tau, mengapa aku sulit sekali memainkan biola kembali. Andai kau tau mengapa aku batal mengikuti lomba itu. Kau tak akan melarangku untuk berhenti bercerita pada ayah,” ia menepis tangan pria di bahunya.

“Sampai kapan kau mau menyiksa dirimu Jihan? Bahkan disaat kau sudah menduduki posisi tinggi seperti ini, kau ternyata belum dapat berdamai pada masa lalu.”

“Ayah, sudah dua puluh tahun sejak kepergianmu. Bolehkah aku bertanya? Mengapa kau pergi pada hari itu? Ayah siapa wanita yang memelukku ketika pulang saat itu? Diakah wanita itu?”

“Cukup Jihan, jangan kau tanyakan itu pada ayah. Tolong izinkan ayah tenang Jihan,” pria itu ikut menangis.

“Dua puluh tahun, sudah selama itu aku menyimpan pertanyaan itu. Bahkan saat kakak akhirnya memilih pergi bersama wanita itu. Aku masih terus bertanya-tanya siapa dirinya. Dan tak ada satupun yang mau menjawab. Maka biarlah kali ini aku tanyakan pada ayah, biar ayah yang menjawab pertanyaanku.”

Hening.

Seorang wanita memeluk Jihan dari belakang. Menenangkannya. “Nak, akulah orangnya. Seseorang yang melahirkanmu tanpa sempat membesarkanmu. Wanita yang dipilih kakakmu. Jangan marah pada ayah, ibu, bahkan kakakmu atas rahasai ini. Sebab kau adalah malaikat untuk kami semua.”

Jihan terdiam, dilepasnya pelukan itu. Lalu ditatapnya wajah wanita itu. Dalam.

“Kau kah itu?” dahi Jihan mengernyit.

Mengangguk.

“Ayah bolehkah aku bertanya? Ayah diakah wanita itu?  Ayah diakah yang kau pinta aku jauhi? Ayah diakah ibuku?”

Angin berdesir, membelai tengkuk Jihan.

“Ibu?”

Wanita itu menangis, memeluk Jihan.

“Ayah apakah aku boleh bertanya? Bolehkah aku mencintai wanita ini seperti aku mencintaimu?”

About Portal Berita Pers Mahasiswa SUARA USU

Check Also

Tembune

  Oleh: Widiya Hastuti Kupandang desaku, desa yang hidup dan berputar dengan kopi ini. Gunung …