Home / Cerpen / Bang Joy

Bang Joy

Oleh: Cristine Falentina

Pukul 11.00 WIB. Masih terlalu pagi untuk pulang ke rumah. Padahal sejak dua hari yang lalu belum juga menginjakkan kaki di kediamanku itu. Beberapa gadis kecil yang duduk di dekatku melihat dengan tatapan takut. Yang lain memandangku aneh. Busanaku yang tiap hari hanya memakai kaos hitam, celana jeans belel dengan lubang yang berbeda ukuran di kedua lututnya, plus tas kulit yang sudah rusak yang setia menemani kemanapun aku melangkah. Yah, memang agak kucel. Tapi inilah aku! Tak ada yang bisa melarang tata cara berbusanaku.

Ayah benci melihat trademark-ku ini. Ia bilang aku macam anak kampung yang kerjanya mengambil hak orang lain alias mencopet. Padahal aku pernah melihat sendiri foto ketika ia masih muda, celananya bolong di bagian paha. Tapi ketika aku membuat perbandingan tersebut, ia malah berdalih. Ia bilang waktu itu celananya rusak karena kecelakaan. Oh Ayah…

Bus ini berhenti tepat di seberang suatu keramaian. Banyak pedagang dan sepeda motor yang menghambat arus lalu lintas. Mungkin sedang berlangsung pekan raya kota yang diadakan secara berkala. Aku tertarik untuk turun. Mumpung hari masih pagi. Badanku memang lelah sepanjang malam berkutat di studio, tapi suara penyanyi band dari dasar keramaian itu merayuku untuk berhenti. Maklum, pemusik juga ingin menikmati musik orang lain. Kondektur yang sedari tadi memantau penumpang di dalam, terperangah melihatku jalan ke arahnya. Aku mengeluarkan secarik kertas uang lima ribuan dari kantung jeansku.  Aku segera turun tanpa menghiraukan sodoran uang kembalian.

Aku menyeberangi jalanan yang ramai. Mulai masuk ke arah keramaian. Berdesak-desakan dengan banyak orang. Penjual minuman, penjaja rokok, pedagang asongan, mungkin segala jenis penjual ada di dalam.

Aku terus berjalan. Mencari sumber suara penyanyi itu. Tiba di sana aku menikmati suara dan musik jazz mereka. “Lumayan juga untuk band regional,” pikirku. Sekitar 20 menit aku menikmati penampilan mereka. Baru kusadari seorang lelaki bertubuh kurus tinggi tengah mengamati sesuatu di radius tujuh meter ke arahku. Aku melirik ke sekeliling. Aku memastikan siapa yang tengah diperhatikannya itu. Apakah mungkin aku? Oh, aku tidak peduli.

Akhirnya kakiku merasa lelah. Aku mencari tempat untuk melepas lelah dan menghindar dari teriknya matahari. Aku duduk di areal yang agak sepi. Mencoba menikmati alunan jazz yang membuai jiwa.

Aku duduk di lantai sambil menyandarkan punggungku di tembok toko baju yang sudah tutup. Rokok tinggal sebatang rupanya. Kucoba mencari pemantik api. Aku rogoh semua kantung celana. Aku meraba tasku dari luar berharap merasakan keberadaan sang pemantik api.

“Korek Bro?” saran seorang laki-laki mengagetkanku.

“Eh, iya Bang.”

Oh, Tuhan! Ini lelaki tadi yang memperhatikanku. Darimana asalnya lelaki ini? Jangan-jangan dia memperhatikanku sejak aku masuk. Aku menyambut manis pemantik api yang ia tawarkan. Lalu dia bergerak ke arah samping kiriku. Duduk di atas tumpukan kardus. Dia memperhatikanku lekat-lekat. Menilai setiap gerakanku. Usai menyalakan rokok, aku mengembalikan pemantik tersebut.

“Makasih Bang,” kataku.

“Ya,” katanya.

Aku memandangi keramaian yang lalu lalang di sana. Sementara pemuda itu memperhatikanku lebih dalam. Nampaknya dia menganggapku kawan sejawatnya. Baru kusadari sekarang tampangku memang tampang pencopet.

“Lagi mantau Bro?”

“Iya nih. Gak ada yang empuk,” jawabku sok paten.

“Lagi pada makan siang yang empuknya Bro!”

Aku menyeringai. Lagi-lagi aku diperhatikannya. Aku jadi merasa tak nyaman.

“Gerak sendiri Bro?” tanyanya lagi.

“Iya bang, yang lain lagi pada melancong di daerah seberang.”

“Hahaha. Begitu rupanya.”

Lelaki yang usianya beberapa tahun lebih tua itu bersuara berat. Aku rasa dia sudah jadi pecandu rokok sejak masa pubertasnya.

”Namaku Joni,” katanya sambil menjulurkan tangan kanannya padaku. “Tapi kalo buat situ panggil aja Bang Joy. Daerah sini tahu aku dengan nama itu”

“Felix, Bang,” kataku lagi sambil menyambut tangannya.

Bang Joy ini ramah juga. Baru kali ini akrab sama pencopet yang baik hati. Tapi aku tak boleh lengah. Harus tetap terjaga jangan sampai dia melihat celah.

“Bang Joy pasti bos kawasan ini ya?” giliranku mengambil alih percakapan.

“Iya kayak yang kau bilang itu lah,” jawabnya sambil menghisap rokok lebih dalam.

Kali ini aku yang mendapat kesempatan memandangi dia. Rambut yang sengaja dibiarkan panjang tak terurus. Mata besar, alis tebal, tulang pipi yang menonjol. Berbagai jenis tindikan di hidung, telinga dan di sudut kiri bibirnya. Pakaiannya mirip seperti yang kukenakan sekarang. Kaos hitam, celana belel lengkap dengan berbagai sobekan di sekitarnya. Bedanya dia tidak punya tas kulit rusak sepertiku.

“Kau pasti mahasiswa,” tanyanya.

“Dulu Bang. Sekarang gak lagi,” ujarku bohong.

“ Udah berapa lama kuliah?”

“Cuma sampai semester II, Bang. Gak tahan sama bayarannya.”

“Oh, keluhan setiap mahasiswa juga begitu. Aku gak pernah jadi mahasiswa, tapi aku punya adik yang harus aku sekolahkan. Masih SMA. Supaya dapat uang beginilah aku.”

Hening pun menyelimutiku. Aku takut salah ucap.

“Hmm, waktunya makan siang nih. Ayok makan Bro. Lapar juga kan pasti?” tanyanya memecah keheningan.

“Eh, iya Bang. Boleh.”

Bang Joy menuntunku ke arah warteg yang sepertinya biasa ia tongkrongi. Ia disambut oleh si pemilik warteg.

“Makan apa Bang Joy? Ada soto nih baru aja masak!”

“Ya, dua ya. Aku bawa kawan kemari nih buk!” katanya sambil tersenyum padaku.

Wah ternyata aku dianggap kawan. Ternyata Bang Joy ini memang sosok abang yang baik. Meskipun dia pencopet tetap saja dia sopan dan baik. Mungkin pekerjaannya saja yang salah. Aku semakin mengakrabkan diri dengannya. Aku mulai bercerita tentang pengalamanku.

Bukan hanya mengajak makan, dia juga mentraktirku makan di sana. Sepertinya aku mendapat kenalan baru. Mungkin ada juga keuntungan berhubungan dengan seorang penjahat jalanan.

Usai menyantap makan siang, kami kembali ke tempat tadi untuk beristirahat sejenak. Tiba di sana dia mulai menceritakan bagaimana kariernya sebagai seorang pencopet.

“Jadi pencopet itu enggak enak. Kita harus bisa membawa diri bagaimanapun situasinya. Di saat ramai. Saat sepi. Entah siang atau malam. Entah kita sedang bersama-sama dengan jutawan atau polisi sekalipun. Asal dia mampu menyesuaikan situasi dia pasti bisa berhasil. Apalagi  terhadap sesama pencopet. Aku pernah kecopetan hasil copetanku. Bekal makanku satu hari amblas.”

Aku mendengarnya bak mendengar dongeng yang disampaikan di penghujung tidur. Kantukku tak tertahan lagi. Begitu juga bang Joy. Yang sudah lelah akan perbincangan panjang kami.

Angin yang berhembus kencang membelai kami untuk melepas lelah sejenak. Akhirnya kubiarkan kelopak mata menyelimuti mataku yang letih bekerja.

***

“Mas… Mas…” sayup-sayup kudengar suara itu membangunkanku.

‘Kenapa Bang Joy jadi manggil aku “Mas” ya?’  batinku.

Aku membuka mata, ternyata orang itu bukan Bang Joy.

“Jangan tidur di sini Mas. Nanti diusir Satpam,” tegur seorang anak kecil penjaja gulali yang membuatku sadar akan sekitarku.

“Eh iya dek..”

Aku melirik jam di tangan kiriku. Namun jam itu tak lagi melingkar di tanganku. Kuraba saku jeansku. Aku merogoh ke dalam tasku. Lalu aku menyadari kelengahanku. Dan aku tersadar akan Bang Joy!

“COPEEEEEEEETTT!!!”

Check Also

Binasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *