Bintang Thunder, Sang Pembual yang Terbukti Berprestasi

0
206
Bintang Thunder, Mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi 2014 yang telah memiliki banyak prestasi di bidangnya. | Evan Christhopel Marpaung

Oleh: Vanisof Kristin Manalu

Bintang Thunder, Mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi 2014 yang telah memiliki banyak prestasi di bidangnya. | Evan Christhopel Marpaung

Kasih tahu mimpimu ke semua orang. Bukan sekadar membual, tapi juga lakukan dan buktikan. – Bintang Thunder

Awal kali ia terobsesi ingin kuliah di Institute Teknologi Bandung. Bintang Thunder namanya. Ia suka dunia teknologi dan sangat yakin dengan pilihannya karena saat try out nilainya salah satu yang tertinggi. Namun, ternyata ia gagal.

Bintang sempat depresi selama setahun, karena sempat terucap pada temannya ia harus kuliah di ITB. Bualan pertamanya gagal ia raih. Namun, ia tetap kuliah di Institut Teknologi DEL dengan alasan dekat dengan rumahnya.

Lantaran masih mempertanyakan kegagalan dirinya kala itu, Bintang pun kembali membual. “Aku ujian SBM (seleksi masuk bersama-red), harus bisa masuk negeri,” ujarnya sambil tersenyum.

Bualannya terbukti. Pada 2014 lalu, ia lulus di Ilmu Komputer USU, pilihan ketiganya waktu itu. Dua bulan kuliah di USU, Bintang ikut lomba di Makassar, tentang keamanan jaringan. Tapi tak jadi berangkat karena terkendala biaya—tiket pesawat sedang tinggi-tingginya.

Tak berhenti di situ, lomba tetap ia ikuti mulai dari tingkat kampus sampai Asia Tenggara. Ia pernah ikut lomba Sociopreneur Program pada 2015 lalu di Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta, mewakili Indonesia dalam ajang lomba se-ASEAN. Dari 250 tim yang diseleksi, timnya masuk dalam 20 terbaik.

Di sana, mereka membuat alat yang namanya BOST—Brainwave Open Source Technology. Teknologi yang bisa menguji tingkat konsentrasi otak manusia. Sampai saat ini, BOST masih dalam bentuk prototype dan belum diimplementasikan dalam bentuk packaging produk yang bisa digunakan sehari-hari. “Kendala kami kekurangan dana. Kebetulan itu perangkat hardware, butuh biaya yang cukup besar untuk membuat prototyping. Sampai puluhan juta,” ujarnya.

Awalnya saat SD ia bercita-cita jadi presiden, lalu ketika lanjut SMA berubah jadi pengusaha. “Sekarang presiden perusahaan, CEO (Chief Executive Officer),” katanya sambil tertawa. Bualan lagi, saat mengikuti pelatihan kepemimpinan dari Djarum di Surabaya, ia berucap ingin jadi CEO dalam lima tahun ke depan. Sounding di depan kawan-kawan se-Indonesia.

Ia mengaku pencapaian yang ia raih adalah hasil dari usaha dan kerja kerasnya. Satu hal yang paling membuatnya bangga adalah menjadi bagian dari Microsoft Student Partner, karena baru dua orang yang bisa bergabung dari USU. Selain itu, Bintang juga merupakan penerima beasiswa Oppo Campus Community dan XL Future Leader batch 5.

Banyak sekali yang USU tidak tahu tentang prestasi yang sudah ia raih. “Kalau universitas tidak mendukung, aku inisiatif gerak sendiri,” tegasnya. Ia pernah mengajukan proposal ke rektorat namun tak membuahkan hasil. Jadilah sampai saat ini ia mengikuti lomba, orientasinya bukan untuk universitas melainkan untuk dirinya sendiri.

Ia mengatakan orang tuanya kadang bingung kenapa ia harus jadi pengusaha, karena jelas saja tak punya duit untuk kasih modal awal. “Aku bilang sama mamak, kalau misalnya nggak ada modal, kan aku bisa berusaha sendiri, aku kan masih punya otak di mana aku bisa berpikir, aku masih punya mulut untuk aku bercerita,” katanya.

Kejar Mimpi Jadi CEO

Bintang Thunder bercita-cita menjadi seorang CEO. | Evan Christhopel Marpaung

Saat ini, ia lebih fokus untuk membuat start up technology yang tujuannya untuk memudahkan pekerjaan manusia. Ia dan beberapa temannya membuat parkir yang nyaman tanpa harus di pinggir jalan. Konsepnya on demand,  layanan sesuai permintaan dari pengguna.

Ia akan mencari orang yang punya rumah dan mau diajak kerja sama. Lalu pengguna kendaraan bisa menggunakan aplikasi yang ia buat untuk mencari rumah yang punya halaman luas. “Sistemnya mirip aplikasi gojek. Jadi, kita hanya sebuah perusahaan yang punya aplikasi di mana kita memberdayakan halaman rumah orang-orang untuk tempat parkir,” jelasnya.

Bintang sampaikan aplikasinya masih tahap pengembangan bisnis model dengan perancangan aplikasi. Menurutnya, orang-orang yang mau diajak bekerja sama dan mengerti bisnis sangat sulit ditemukan.

Hingga kini Bintang masih berusaha menyelesaikan aplikasi tersebut. Walaupun hanya memiliki satu atau dua fitur dan tampilannya tak terlalu sempurna, yang penting baginya adalah aplikasi ini dapat berguna bagi orang lain.

Setelah selesai nanti, barulah Bintang akan menunjukkannya kepada orang lain. Ia berpikir tak ada orang yang mau diajak kerja sama bila aplikasinya belum selesai. Aplikasi yang sedang dikerjakan, ia usahakan selesai tahun ini.

Bintang berharap, nantinya aplikasi ini dapat membantu meningkatkan pendapatan masyarakat. Tidak hanya duduk di rumah, tapi masyarakat bisa melakukan hal baik dan mendapatkan penghasilan. Pun pengendara nantinya lebih nyaman untuk memarkirkan kendaraan karena ada yang menjaga. “Dari pada di pinggir jalan, nantinya bisa kena derek, kena tabrak, atau disenggol pengendara yang lain,” tuturnya.

Bualan bisa saja hanya bualan belaka apabila tak diwujudkan. Namun bagi Bintang, berani omong besar bukan untuk menyombongkan diri namun lebih kepada alarm untuk cepat-cepat mewujudkan mimpi. “Emang enggak malu sama orang lain kalau cuma omongan doang? Lakukan dan kejar juga,” tutupnya.

Komentar
(Visited 151 times, 13 visits today)