Home / Resensi / Bukan Shailene yang Biasa

Bukan Shailene yang Biasa

Oleh: Fredick BE Ginting

Judul : White Bird in A Blizzard
Sutradara : Emanuel Finkiel dan Gregg Araki
Naskah : Gregg Araki
Pemain : Eva Green, Shailene Woodley, Cristopher Meloni, Shiloh Fernandez
Tahun : 2014
Durasi : 91 menit

Shailene Woodley kembali hadir di layar lebar, setelah sukses membawa The Fault in Our Stars—yang disebut sebagai Titanic-nya masa kini—masuk jajaran top box office. Di film baru ini, ia mainkan peran yang amat berbeda.

Katrina dalam mimpi saat di tengah badai salju. | Sumber istimewa
Katrina dalam mimpi saat di tengah badai salju. | Sumber istimewa

2014 boleh dikatakan tahun untuk Shailene Woodley. Aktris asal Simi Valley, California ini mencuat di tahun ini melalui dua film yang dibintanginya sebagai pemeran utama. Pertama sebagai Tris Prior dalam Divergent, kemudian sebagai Hazel Grace Lancaster dalam The Fault in Our Stars. Namun, Shailene masih punya satu film penutup 2014 ini: White Bird in a Blizzard garapan Gregg Araki.

Desember 2013, Shailene sebenarnya sudah muncul di panggung Hollywood ketika berperan sebagai Aimee Finicky dalam The Spectacular Now. Kemudian jika ditarik lagi, film pertama yang dibintanginya adalah The Descendants pada 2011 bersama George Clooney. Ketika itu dia berperan sebagai pemeran pembantu.

Satu hal yang berbeda dalam film terbaru ini adalah peran Shailene yang tidak seperti film-film sebelumnya. Shailene berperan sebagai gadis remaja Chicago yang berani dalam Divergent, kemudian berperan sebagai gadis penderita tumor paru-paru yang penuh harapan dalam The Fault in Our Stars. Di The Spectacular Now ia berperan sebagai gadis lugu yang beranjak dewasa dengan cita-cita yang sudah disiapkan dengan matang.

Di tiga film tersebut, Shailene cukup identik dengan sifat sopan, sederhana, lugu, cukup percaya diri, dan punya segala atribut lain yang mampu menjadikan dirinya idola penonton sebagai tokoh protagonis.

Nah, dalam film terbaru ini Shailene akan memaninkan peran “nakal”. Indiewire, situs berita untuk film menyebut, “Kalian mungkin tidak melihat Shailene Woodley seperti sebelumnya lagi.” Mungkin bisa dikatakan perannya mirip ketika ia menjadi Alexandra King dalam The Descendants. Kala itu ia menjadi seorang remaja sekolah menengah atas yang bebas dan kurang terkontrol karena kurang mendapat perhatian orang tua. Gambaran “nakal” sudah terlihat sebenarnya dalam trailer dan ulasan sutradara sebelum film ini dirilis.

Ceritanya pada 1998, saat umurnya tujuh belas tahun ia kehilangan ibunya, Evelyn Connors (Eva Green) secara mendadak dan misterius. Ini diketahuinya pada suatu hari sepulang sekolah. Di rumah, ayahnya Brock Connors (Christopher Meloni) sudah duduk di sofa menunggunya dengan wajah pucat. Ia memberi tahu Katrina Connors (Shailene Woodley) bahwa ibunya menghilang. Anehnya, tak satu  pun barang pribadi seperti mobil, uang, atau pakaian yang dibawa Eve. Awalnya Kat—panggilannya—hanya menganggap ibunya pergi sebentar dan akan segera kembali. Tidak ada rasa terkejut sama sekali.

Hari berikutnya ternyata masih sama: Eve belum pulang. Dugaan Kat bahwa ia menghilang menguat. Kat dan Brock lantas melaporkan kasus ini ke kepolisian dan diterima oleh seorang detektif yang kelak akan bertugas menyelidiki. Anehnya, Kat tetap tidak terlalu merasa kehilangan. Bahkan hidupnya berubah menjadi lebih “liar” setelah itu, terutama bersama pacarnya (Shiloh Fernandez).

Kat kemudian mengalami mimpi aneh yang sama beberapa kali. Ia tiba-tiba berada di sebuah tempat yang dipenuhi salju. Lalu ia menemukan ibunya di salah satu sudut tanpa busana dan minta pertolongannya. Belum sempat lanjut Kat sudah terbangun. Sayangnya, tak dijelaskan apa maknanya hingga akhir film. Penonton dibiarkan menyimpulkan sendiri. Ini pula satu-satunya kaitan yang menyinggung judul film ini: White Bird in A Blizzard.

Katrina saat dikejutkan ibunya. | Sumber istimewa
Katrina saat dikejutkan ibunya. | Sumber istimewa

Di tengah film, pencarian atas Eve sempat berganti fokus jadi kehidupan Kat yang tak terkontrol bersama teman-temannya. Kat mulai minum, merokok, hingga seks bebas. Disinilah terlihat jelas perbedaan Shailene dalam berperan dibanding film-film sebelumnya.Kat sebagai gadis yang berubah “liar” dan menjadi Shailene yang bukan biasanya. Film yang menggunakan alur maju-mundur ini juga sempat menggambarkan bagaimana harmoninya keluarga Connors sebelum Eve menghilang.

Gregg Araki memang sengaja menjaga tempo lambat agar kesan drama-misteri—genre film ini—terasa oleh penonton. Secara keseluruhan film ini pantas diacungi jempol, mulai dari sinematografi, efek visual, hingga plot. Kesan suram film ini juga sampai kepada penonton. Dan satu lagi rasa penasaran akan alasan menghilangnya ibu Kat memang sengaja dijaga sang sutradara sebagai inti utama cerita. Meskipun di tengah cerita sempat tidak terfokus pada inti cerita ini. Di akhir, sutradara sudah menyiapkan twist ending yang menjelaskan segala permasalan dalam film.

Film ini sudah ditayangkan dalam Festival Film Sundance awal tahun ini. Bersama The Raid 2, film ini termasuk dalam sepuluh film terbaik. Film ini resmi dirilis di bioskop secara internasional pada 24 Oktober lalu. Sayangnya Indonesia tidak menayangkan film ini. Namun sejak 25 September film ini bisa didapat dengan membeli di iTunes.

About Portal Berita Pers Mahasiswa SUARA USU

Check Also

The Incredibles 2, Alur Baru Ending Lama

Oleh : Randa Hasnan Habib Judul The Incredibles 2 Sutradara Brad Bird Pemeran Craig T. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *