Home / Cerpen / Catatan Rio dan Parta

Catatan Rio dan Parta


Oleh: Dewi Annisa Putri

Catatan Parta.

Parapat, 7 Februari 2017.

Sore hari merupakan waktu paling sempurna dibandingkan yang lainnya—pagi, siang, dan malam. Setiap kali matahari mulai lelah membantu umat untuk mencari nafkah dan bersekolah, kami pun bersiap menjemput kebahagiaan.

Kebahagiaan kami menetap di suatu tempat di pinggir Danau Toba. Di sebuah pelabuhan di mana hiruk-pikuk terjadi sepanjang hari. Orang-orang berdatangan sejak tiba pagi hingga malam hadir.

Pelabuhan Ajibata tak pernah sepi oleh semua orang dari berbagai usia. Setiap sore kulihat seorang kakek duduk di depan sebuah toko kecil, tak jauh dari pinggir danau. Di hadapannya puluhan kacamata tersusun rapi pada sebuah rak. Rata-rata berwarna hitam dengan ukuran dan warna tangkai yang berbeda.

Setiap ada orang melintas di hadapannya—seringnya yang terlihat seperti turis atau pelancong, dia akan melambaikan tangan dan berkomat-kamit. Tak ada  suara keluar dari mulutnya, tapi semua orang akan mengerti maksudnya menawarkan kacamata untuk dibeli.

Selain sang kakek, masih banyak lagi ragam manusia yang bergantian datang ke sini. Laki-perempuan, tua-muda, gemuk-cungkring, serta yang bermata biru, coklat, ataupun hitam. Rata-rata tujuan mereka ke Ajibata adalah menyeberang ke Samosir, sebuah pulau tunggal di tengah danau.

Lain lagi dengan kami—aku, Rio, Ijonk, dan Mikael. Setiap sore tujuan kami datang ke pelabuhan adalah untuk bahagia. Dengan modal suara yang nyaring bahkan nyaris melengking, kami bisa menambah uang jajan untuk besok pagi. Cukup dengan menanggalkan pakaian, terjun ke pinggir danau, lalu berteriak pada para penumpang kapal. “Kak, koin lah. Gopek aja, Kak!” jerit kami bergantian sambil melambaikan tangan dari dalam air.

Kami para perenang handal. Koin dan uang kertas yang dilemparkan para penumpang itu akan kami tangkap dengan cepat. Sebab, jika uangnya koin, kami bisa kehilangan karena bila tak tertangkap akan tenggelam ke dasar danau. Jika uang kertas, akan mudah sobek jika terlalu lama terkena air.

Namun, sungguh, menjemput kebahagiaan yang kumaksud di awal tadi bukanlah soal uang yang kami dapatkan. Itu hanyalah bonus kebahagiaan. Sudahlah bahagia itu asyik, dapat uang lagi. Enak, kan?

Bahagiaku adalah ketika tak bisa merebut uang tersebut dari si Rio. Sejenak kami akan bertengkar. “Abang itu lemparkan duit buatku!” teriakku padanya. Lalu marahku akan dijawabnya dengan cipratan air yang diciptakan kedua kakinya saat berenang menjauh dariku. Ia langsung naik ke atas, kutebak uang yang didapatnya memang sudah banyak. Namun tak lama setelah itu, aku akan segera lupa pada emosiku saat penumpang lainnya memanggil untuk melemparkan uang sebagai gantinya.

Biasanya, para penumpang itu menonton pertengkaran kami sehingga ada saja yang akan melemparkan uangnya lagi dan lagi. Hujan uang tersebut baru akan berhenti setelah kapal terakhir pergi. Bahagia yang kumaksud juga masih berlanjut. Sebelum pulang ke rumah masing-masing, kami akan menghitung ‘uang jajan’ yang kami dapatkan hari itu bersama.

***

Catatan Rio.

Parapat, 7 Februari 2017.

Sore hari merupakan waktu paling sempurna dibandingkan yang lainnya—pagi, siang, dan malam. Tapi sore ini, aku putus asa. Teman-temanku sedang asyik berenang di bawah sana. Aku lebih dahulu naik ke atas meski uang yang kudapat masih dua ribu saja.

Tak apa, pikirku. Toh aku datang sore ini bukan untuk uang yang dilemparkan pelancong dari atas kapal. Aku hanya ingin berenang bersama Parta, Mikael, dan Ijonk. Mereka adalah sahabat- sahabat terbaikku.

Malah aku merasa tak enak pada Parta. Uang dua ribu di tanganku ini seharusnya dia yang mau tangkap. Hanya saja lebih dekat padaku, makanya kuambil lebih dahulu sebelum terlalu basah. Dia langsung membentak, jadi kutinggalkan saja dia daripada kami harus bertengkar.

***

Catatan Parta.

Parapat, 14 Februari 2017.

Sore ini rasanya sepi. Padahal pelabuhan masih sibuk seperti biasanya. Sebentar lagi, kapal terakhir akan berangkat menyeberang menuju Tomok. Seperti biasa, tubuhku meliuk-liuk di dalam air di pinggir danau. Aku berenang tak jauh dari kapal terakhir yang berwarna biru senada dengan danau.

Di sebelahku, teman-teman juga masih asyik sendiri dengan kantong plastik di tangannya. Di plastik itu, kami menyimpan uang yang telah kami kumpulkan sejak sekitar dua jam yang lalu. Uang jajan.

Tapi, sore ini kami hanya bertiga. Tanpa Rio.

Terkadang, aku tak suka melihatnya mendapat uang lebih banyak dariku. Tak paham aku, kenapa ia sangat sering menjadi pemenang dan malah mendapat tambahan bonus kebahagiaan dari kami.

Untuk memacu semangat berenang selama berjam-jam, kami biasanya bertaruh akan membelikan pisang goreng untuk yang paling banyak mendapatkan uang. Maka, dialah yang selalu pulang ke rumah dengan perut berisi.

Tiga hari yang lalu, Rio pergi ikut abangnya merantau ke Jawa. Ia pergi begitu mendadak, bahkan tak mengucapkan selamat tinggal kepada kami. Kami baru tahu tadi siang saat mencari Rio ke rumahnya, saat sepupunya bercerita.

Untuk ukuran anak yang duduk di kelas tiga sekolah dasar, aku kasihan padanya karena harus pergi sejauh itu. Ia masih terlalu muda, pikirku. Sepeninggal bapaknya dua tahun lalu, dia memang cuma punya abangnya. Mereka berdua menumpang pada bibi yang punya tujuh anak. Tentu rasanya sangat segan karena merepotkan.

Abang Rio sudah tamat sekolah menengah atas. Kabarnya, abangnya telah ditawari pekerjaan di Jakarta. Tak tahu sebagai apa.

Abang Rio telah membawanya pergi. Kebahagiaan kami bertiga tak sempurna sore ini. Meski alam telah mencoba menghibur, dengan menciptakan pemandangan matahari terbenam yang sungguh eksotis. Dari sisi pemandangan alam, ini sore terindah yang pernah kulihat. Namun, dari sisi situasi dan perasaan, ini sore paling tidak bahagia sepanjang hidupku.

Tiba-tiba, aku punya ide yang menurutku sangat brilian. Aku menghampiri Ijonk dan Mikael, Setelah kejelaskan panjang lebar apa maksudku, mereka senyum sambil termangut-mangut.

***

Catatan Rio.

Jakarta, 14 Februari 2017.

Di sini panas dan aku kegerahan sepanjang hari. Ini kedatangan pertamaku ke Jakarta. Meski sudah tiga hari berada di sini, aku masih tak percaya ada daerah seperti ini di Indonesia. Pertama kali sampai, aku bahkan berpikir sedang berada di luar negeri.

Tapi, seluar biasa apa pun kota ini, percuma saja karena tak ada danau indah seperti biasanya. Tak ada kakek-kakek penjual kacamata hitam. Tak ada kapal dan tak ada penjaja ulos. Dan yang paling penting, tak ada temanku di sini. Tak enak rasanya tanpa teman. Sepi.

Teman-teman terbaikku ada di Parapat. Sore ini, pasti mereka sedang asyik berenang di Pelabuhan Ajibata. Parta, Mikael, dan Ijonk. Sementara aku akan terkurung di kota besar ini. Aku tak pernah ingin datang ke sini. Namun, aku harus menurut kata abangku. Aku tahu dia memikirkanku dan apapun yang dilakukannya, dia hanya ingin yang terbaik untukku.

Aku hanya ingin bilang, aku sungguh terpaksa meninggalkan teman-teman terbaikku. Di kota besar yang asing ini, aku hanya berharap dapat bertemu mereka lagi suatu hari nanti. Jika waktu mengizinkan, tentunya.

***

Catatan Parta.

Parapat, 7 Maret 2017.

Sore ini mendung. Di pinggir danau, kami merenung. Ijonk terduduk lemas, semangatnya terkuras. Mikael menatap nanar pada langit, kelihatan seperti sedang menyumpah dalam hati. Masing-masing dari kami sedang menjerit tanpa suara.

Padahal, baru tiga hari lalu kakek penjaja kacamata itu meninggal dunia. Orang sekampung tahu dan menguburkannya bersama-sama sebab ternyata ia tak punya keluarga di sini. Aku bergetar melihatnya dikebumikan.

Lalu, tiba-tiba aku kasihan pada para turis yang akan datang ke sini dan tak menemukan orang lain yang menjual kacamata. Dalam bayanganku, mungkin mata biru para turis itu akan memerah atau mungkin mereka tak akan puas lagi melihat hasil fotonya di tengah danau. Tak ada lagi penjaja kacamata selain si kakek.

Hari ini, kami benar-benar rindu pada Rio. Tadi malam, kami dengar kabar buruk. Sepupunya bilang kami tak akan bisa ketemu Rio lagi. “Kata abangnya, operasinya gagal,” cerita sepupunya.

Tiga minggu yang lalu, aku mendapat ide untuk mengumpulkan ‘uang jajan’ kami bertiga. Kami akan ke Jakarta menyusul Rio. Yang kami pikirkan hanyalah mengumpulkan ongkos naik bus ke sana meski belum tahu berapa harganya. Urusan tempat tinggal, kami akan menumpang saja di tempat Rio, meski belum tahu alamatnya di mana. Soal makan, bisalah itu diatasi, pikir kami. Tinggal cari danau di Jakarta dan berenang sore hari untuk mengumpulkan uang jajan. Sungguh, rencana kami sudah matang.

Sekarang, tumpukan uang receh itu sudah ada dua kaleng. Tak tahulah apakah itu sudah cukup atau belum, karena kami memang belum lagi menghitungnya. Rencananya akan kami buka minggu seminggu sebelum libur sekolah dimulai. Sehingga kami bisa memesan tiket bus dan pergi saat libur semester nanti.

Tak ada yang bisa kami lakukan. Uang recehan yang sudah kami kumpulkan selama tiga minggu itu, lalu kami serahkan pada sepupunya. Entahlah akan digunakan untuk apa. Kami tak peduli lagi.

Kami baru tahu kalau Rio pergi untuk menjalani operasi paru-paru. Aku tak mengerti juga soal penyakitnya itu. Menurutku dia perenang yang handal. Meski, memang dia selalu lebih cepat naik ke daratan karena katanya kulitnya tak tahan dingin. Hanya itu yang kutahu. Rio tak tahan dingin.

Jadi, di sinilah kami sore ini. Mematung di pinggir Danau Toba. Biasanya, di sini kami berempat menjemput kebahagiaan setiap sore. Namun kebahagiaan itu mungkin tak akan pernah lagi kami temukan.

About Portal Berita Pers Mahasiswa SUARA USU

Check Also

Akhir Penantian

  Oleh: Nikyta Ayu Indria Langit mendung tak selalu menandakan akan turun hujan. Ia datang …