Home / Cerpen

Cerpen

Gadis Sumatera

Oleh: Adinda Zahra Novioyanti Hampir penuh 12 jam tanpa henti vaginanya dicekoki tongkat lunak pria-pria biadab bergantian. Tentara Jepang pada masa penjajahan memang hanya bisa meluapkan gairahnya pada para wanita bodoh itu. Mereka tak tahu; sebagian dipaksa; sebagian ditipu. Usia Kimiko saat itu masih 14 tahun. Bertahun-tahun berlalu mereka tetap …

Read More »

Ruang Monokrom

Oleh: Dewi Annisa Putri Dewi mana bisa sembunyikan segala gundah dalam jarak waktu kelewat lama hingga menahun? Tak ada putri dapat kubur semua luka tanpa merana. Dan, perempuan yang kau kata menarik dengan segala rahasianya yang dikunci rapat-rapat dalam peti hitam, tak mungkin lupa rasa meski peti itu dihempas jauh-jauh …

Read More »

Ketika Suara dan Mulut Bungkam

  Oleh: Syafril Agung Oloan Siregar Siapa kita? Kita bukan siapa-siapa, Teman. Kita hanya buih di tengah lautan darah. Analogi yang kejam. Tidak! Itu tidak kejam. Itu hanya peringatan kecil. Berteriak? Diamlah? Suaramu takkan didengar malah kau akan dibungkam. Mengkritik? Untuk apa? Idealisme? Itu tak berlaku di negeri para tiran …

Read More »

Terang di Ujung Jalan

Oleh: Samuel Sihaloho Apa yang aku mimpikan tadi malam? Aku bertanya pada diri sendiri. Di dalam sebuah ruang tempatku belajar dan juga beristirahat di malam yang melelahkan aku coba mengingatnya kembali. Aku resah akan mimpi tadi malam yang sangat terbayang-bayang dalam pikiran. Seolah-olah cahaya jauh di depan dan aku masih …

Read More »

Mimpi Uwak Deli

  Oleh: Yulia Pransiska Malam ini, tabunganku telah terisi penuh. Dalam celengan kaleng berwarna biru besar, bergambar tokoh kartun Frozen kesukaanku. Kubunyikan celengan kalengku. Krek. Krek. Inilah modalku ‘tuk berlibur! *** Jakarta adalah ibukota dari negara Indonesia. Di mana, terdapat Monumen Nasional atau biasa disebut dengan Monas. Monas ialah salah …

Read More »

Tembune

  Oleh: Widiya Hastuti Kupandang desaku, desa yang hidup dan berputar dengan kopi ini. Gunung Gerdung, di sebelah selatan menatapku tenang. Hutan lebat pada pucuknya memberi kesan seolah seorang pak tua berperut buncit nan bijaksana memberi petuah. Kopimu sedang tidak baik-baik saja, Nak. Di gunung itu aku sering berburu merbah …

Read More »

Akhir Penantian

  Oleh: Nikyta Ayu Indria Langit mendung tak selalu menandakan akan turun hujan. Ia datang sebagai penenang hati setiap insan kala siang hari. Terlindungi dari sinar matahari juga tak menginginkan rintik hujan membasahi. Kadang memberi manfaat pada orang lain akan membawa berkah bagi diri kita juga kelak. *** Odong-odong ukuran …

Read More »

Pemuda dan Sang Penenun Waktu

Oleh: Samuel Sihaloho Hidup manusia bertempat dalam tenunan waktu pada pola yang tak mampu dilihatnya. Sementara para penenun bekerja dan kumparan terus melaju sampai fajar keabadian tiba. Sebuah caption foto yang menarik. Fotonya juga menarik dengan latar menara Eiffel dan senyum memancarkan kebanggaan. “Ah, itu kan cuma kalimat orang yang pandai …

Read More »

Cinta Kita Benar(kan)!

  Oleh: Suratman Terus keintim-intiman yang kita nyala-nyalakan setiap harinya. Pergumulan, erangan, pada tiap malamnya selalu menyergap kita. Sepanjang lima tahunnya, malam kita selalu berasa hal itu. Berulang-ulang. Tapi, kita tidak memiliki keturunan. Kau paham, kau tidak kecewa, dan tidak menuntutnya. *** Malam ini malam pertama kita. Hanya kau dan …

Read More »

Alamiah Manusia

  Oleh: Vanisof Kristin Manalu Hidup itu bukan pilihan. Yakinlah. Tapi kita dipilih untuk hidup itu pasti. Sebab ada miliar sperma merebutkan satu posisi pemenang. Dan kita terlahir sebagai pemenang. Ya… Kita menang. Di ruangan itu terdapat sebuah meja makan yang indah. Ukiran meja itu unik sekali. Sepertinya berasal dari …

Read More »