Home / Cerpen

Cerpen

Terlahir Sebagai Pemenang

  Oleh: Surya Dua Artha Simanjuntak Kami banyak, namun kami bukan Legion. Kami tak punya nama. Ah, setidaknya belum. Kami adalah alfa. Ya, semua bermula dari kami. Maka dari itu dengarkan lah karena ini adalah ceritamu. *** Aku tak tahu mengapa ada di sini. Sial, aku bahkan tak tahu siapa …

Read More »

Nyai

  Oleh: Suratman Nyai. Mereka sebut aku demikian. Tuan memberi beberapa kantong keping emas dan jabatan tinggi kepada Bapak. Tentu Bapak senang dengan imbalan tersebut. Kamu baik-baik ya di sana. Jangan menentang Tuanmu. Pikirkan adik-adikmu, Ibumu, juga Bapakmu ini. Begitu Bapak katakan padaku. Aku sebenarnya tidak bisa berkata apa-apa. Mau …

Read More »

Jiwa Teduh

  Oleh : Nikyta Ayu Indria Percayalah, semua yang ada di dunia ini hanyalah titipan. Roda kehidupan selalu berputar  membentuk kepribadian yang lebih kuat. Pada akhirnya keteduhan akan menghampiri setelah kepiluan menyinggahi batin. *** Derit ayunan tua terdengar miris. Bunyi karatan besi usang mulai menandakan ia tidak semenarik dahulu. Bunga-bunga …

Read More »

Potret Kenangan

  Oleh : Yael Stefany Sinaga Aku pikir semua baik-baik saja. Tanpa berkata banyak semua akan selesai. Ternyata tidak. Aku salah. Atau mungkin dia yang salah. Atau kami yang tak peduli. Awalnya manusia biadab itu. Semuanya jadi seperti ini. **** Terdiri dari dua puluh empat kepala dalam satu komunitas yang …

Read More »

Cerita Satire

  Oleh: Widiya Hastuti   Benarkah semua milik pemenang? Anugerah pahlawan milik pemenang? Kebenaran milik pemenang? Sejarah milik pemenang? Ah, kurasa tidak! Itu semua milik penguasa. Mereka menguasai segala-galanya. Mahasiswa mengamininya. Dia pemenang. Pemenang di kenyataan, hati, dan pikiran mahasiswa, tapi tidak di penguasa. Siapa mahasiswa di zaman edan ini …

Read More »

Jerit Jeruji

  Oleh: Adinda Zahra Noviyanti Dalam hati berkata mau jika di kotak keji ini kukemanakan telapak kaki ini. Ke atas ada kepala. Bawah ada wajah. Kanan ada dada. Baiklah, kiri ada bokong pemuda yang  mengaku wartawan asal kampus kecil di Kota Medan. Oh. Babi. Membabi buta. Buta. Buat mereka itu …

Read More »

Dongeng Masa Depan

  Oleh: Widiya Hastuti Panas tak terik. Tak ada air hanya keringat disini, diruas-ruas padi. Tanah menguapkan bayangan yang bergerak-gerak menimbulkan ilusi optik. Tak ada cahaya, kelabu di ufuk sana. Ah, tak penting tak lebih penting dari rasa menyengat pada kulitku yang tidak lagi berlendir. Hanya kering, retak. Aku mengerjap-ngerjap …

Read More »

Gadis Sumatera

Oleh: Adinda Zahra Novioyanti Hampir penuh 12 jam tanpa henti vaginanya dicekoki tongkat lunak pria-pria biadab bergantian. Tentara Jepang pada masa penjajahan memang hanya bisa meluapkan gairahnya pada para wanita bodoh itu. Mereka tak tahu; sebagian dipaksa; sebagian ditipu. Usia Kimiko saat itu masih 14 tahun. Bertahun-tahun berlalu mereka tetap …

Read More »

Ruang Monokrom

Oleh: Dewi Annisa Putri Dewi mana bisa sembunyikan segala gundah dalam jarak waktu kelewat lama hingga menahun? Tak ada putri dapat kubur semua luka tanpa merana. Dan, perempuan yang kau kata menarik dengan segala rahasianya yang dikunci rapat-rapat dalam peti hitam, tak mungkin lupa rasa meski peti itu dihempas jauh-jauh …

Read More »

Ketika Suara dan Mulut Bungkam

  Oleh: Syafril Agung Oloan Siregar Siapa kita? Kita bukan siapa-siapa, Teman. Kita hanya buih di tengah lautan darah. Analogi yang kejam. Tidak! Itu tidak kejam. Itu hanya peringatan kecil. Berteriak? Diamlah? Suaramu takkan didengar malah kau akan dibungkam. Mengkritik? Untuk apa? Idealisme? Itu tak berlaku di negeri para tiran …

Read More »