Home / Cerpen (page 10)

Cerpen

Anak Belanda

Oleh: Tantry Ika Adriati Pacarku yang bertubuh kurus itu menyodorkan buku setebal lima ratus halaman padaku. Lantas keningku mengernyit, belum pernah aku membaca buku setebal itu. Kecuali memang karena buku itu genre kesukaanku: roman atau misteri. “Ini masih roman, roman Indonesia dengan latar abad dua puluh, kau akan suka,” ia …

Read More »

Pengkhayal Moderat

Oleh: Amanda Hidayat Ini bukan kisahku, ini kisah seseorang yang aku andai-andaikan. Semua yang aku andai-andaikan, tentu dalam khayalan. Tokoh utama dalam khayalanku namanya Aku, tapi penyebutannya sama seperti aku yang sebenarnya. Pernah aku mengkhayal terbang. Dalam lamunan itu, aku entah bersayap atau tidak, yang jelas aku terbang. Terbang mengitari, …

Read More »

Tadi Senja, Saya Mampir di Gerbang Surga

Oleh: Aulia Adam Saya sedang berpikiran liar. Maksudnya, pikiran liar tentang diri saya sendiri. Bukan tentang buah dada menggiurkan milik Scarlett Johansson; atau bokong bahenol milik Beyonce Knowles (terkutuklah si jelek Jay Z yang sialnya sangat beruntung itu). Kali ini pikiran liar saya berisi semua apa-apa yang baunya negatif. Sedikit …

Read More »

Dara

Oleh: Guster CP Sihombing Perjalanan ini masih panjang, ini hanya secuil dari kisah yang harus kau tahu tentang menjadi perempuan. Tergantung penilaianmu, aku perempuan yang bagaimana. Dara Udara semakin dingin menusuk tulang hingga persendian ngilu tak karuan. Penglihatan di langit semakin memudar, awan gelap mulai menyerang. Matahari entah kemana larinya. …

Read More »

Mei

Oleh: Guster C P Sihombing Namaku Mei. Sebut saja begitu. Aku terlahir dari sebuah keluarga tak bergelimang emas namun berlimpah kasih. Aku ditimang bak cendana di tengah belantara. Aku disusui seorang perempuan berparas bak peragawati. Namaku Mei. Sebut saja begitu. Umurku ketika itu masih sekitar enam atau tujuh tahun. Masih …

Read More »

Selamat Pagi, Adam

Oleh: Sri Wahyuni Fatmawati P Selamat pagi, Adam. Sebenarnya aku ingin berbicara denganmu lebih cepat. Tapi kata Ibu tak boleh. Kau masih belum bisa berbincang. Masih sakit, kata Ayah. Ya sudah, tidak apa. Jadilah aku bermain sendirian hari ini. Tentu saja rasanya tak enak. Lebih menyenangkan bermain denganmu. Oh, ya, …

Read More »

The Afghan Girl

Oleh: Ika Putri A Saragih Dia terdiam di sudut kamar. Kristal menggumpal di sudut matanya. Dalam sekedip, kristal itu akan jatuh ke lantai. Pecah berserak, seperti hatinya saat ini. ”Apakah malam akan muncul setelah ini?” Aku menggeliat manja di pangkuannya. ”Ah, ya, tentu saja. Dia tak pernah berkhianat pada rangkaian …

Read More »

Sepasang Berdialog, Sepasang Bermonolog

Oleh: Ridho Nopriansyah Malam baru sejengkal menyapa saat Biru masuk ke aula tempat diadakannya kebaktian. Jemaat yang datang pun masih satu-satu. Biru mengambil tempat duduk di sisi kanan, di barisan tiga terdepan. Memeriksa tasnya kembali apakah ia tak lupa membawa Injil. Biru kemudian memutar tubuhnya, pandangannya menyapu seluruh aula menikmati …

Read More »

Tamu Iblis Terhormat

Oleh: Mutia Aisa Rahmi Aku akan pulang. Betapa kebahagiaan akan menggerogoti jantungku saat aku bertemu ayah dan ibu. Itulah yang aku nantikan sejak berbulan-bulan, berada di rumah yang nyaman bersama orang-orang paling aku cintai di bumi ini. Sungguh, banyak rencana indah kususun kala bayangan pulang semakin dekat. Entah itu sekadar …

Read More »

Machu Picchu

Oleh: Audira Ainindya Di sebuah lorong kecil di Gedung Magister Psikologi, Universitas Eötvös Loránd, aku menyaksikan pemuda itu dikerumuni beberapa orang. Berkali-kali orang yang lewat menyalami lalu melemparkan senyuman ke arahnya. Aku menjadi saksi pemuda itu benar-benar dihormati di kampusnya. “Hal yang paling menyeramkan bagi wartawan adalah ketika narasumber utama tak kunjung bisa …

Read More »