Home / Cerpen (page 10)

Cerpen

Langit Bumi

Oleh: Andika Syahputra Pertarungan di antara kami terjadi lagi. Tapi kali ini aku yang kalah. Well, ini sudah menjadi hal biasa untukku. “Aku enggak nyangka dia bisa menang,” kata Aldi temanku. Suaranya yang setengah oktaf lebih tinggi mengejutkan aku yang sedang melamun. “Ah, biasa aja. Kami cuma selisih sepuluh poin. Dia cuma berhasil menjawab satu …

Read More »

Janjimu Lima Belas Tahun Lalu

Oleh: Gio Ovanny Pratama Jam sepuluh pagi aku dibangunkan oleh nada dering di handphone. Kulihat, rupanya adikku yang menelepon. Adikku baru berumur lima belas tahun. Ia giat berlatih sepak bola di tim lokal kampungku.Mereka tiap hari latihan di sebuah lapangan, lapangan itu jugalah yang membesarkanku hingga jadi pemain sepak bola profesional. “Ada apa, To?” “Halo, Mas. Ini Mas Bambang, kan? Oh …

Read More »

Sebuah Ironi

Oleh: Guster CP Sihombing Pagi-pagi sekali, aku bangun dari tidurku. Mengambil handuk di depan kamar, bergegas ke kamar mandi. Kuguyur beberapa gayung air ke badan, sikat gigi, guyur lagi, selesai. Kuambil sembarang kaus oblong dari lemari berderit di sebelah kasur kapuk yang tak lagi empuk. Aku sudah lupa kapan terakhir …

Read More »

Hanyut!

Oleh: Lazuardi Pratama Pernah suatu kisah manusia suci dan terpilih dilahirkan dari langit. Turun pelan-pelan bersama semburat cahaya terang. Lalu tiba dengan cantik di atas pelukan sang ibu. Atau di atas batu besar. Atau di atas sebuah altar mengkilat. Atau di depan pintu rumah milik pasangan suami-istri mandul. Manusia itu …

Read More »

Nephillim 2.0

Oleh: Aulia Adam SUDAH dua minggu sejak nenek dimakamkan, tapi air mata ibu tak kunjung kering. Dia masih saja mengurung diri di kamar, sambil terus mengisak tangis dan memeluk selembar daster terakhir yang nenek pakai saat kematian menjelangnya. Padahal tak ada yang mengejutkan dari kematian nenek. Ia genap kepala sembilan, dua …

Read More »

Terpasung

Oleh: Rati Handayani   Bilik kecil itu gelap gulita. Sarang laba-laba di kanan kiri pintu masuk membuatnya makin nyata tak dijamah tangan manusia. Tebal debu di lantai papannya pun menggambarkan lama bilik itu tak diperhatikan pemiliknya. Tak disapu apalagi sekedar dipercantik dengan tikar sekadarnya. Di sana hanya ada kayu yang …

Read More »

Buronku

Oleh: Ridho Nopriansyah  Pria itu menggerakkan kedua bola matanya. Memutarnya bersamaan dengan cepat, ke atas, ke kanan, ke bawah, ke kiri. Sesekali ia juga mengusap wajah. Tiupan pendingin ruangan tak serta merta menguapkan keringat. Perasaannya berdebar, ia bakal menjalani babak baru dalam hidupnya. Setelah sekian tahun mendekap dalam gelap, ia …

Read More »

Pulang

Oleh: Sri Wahyuni Fatmawati P   Kau datang ke Rumah. Padahal dua belas tahun terakhir ini tak sedikitpun terpikir olehmu untuk datang. Tapi kali ini ceritamu berbeda. “Ada hal penting yang ingin aku lakukan di sana,” ujarmu. Dua belas tahun tak pernah datang ke Rumah bukan tanpa alasan, bahkan beragam. …

Read More »

Teluh

Oleh: Febri Rahmania Dari sebuah bilik tak terpakai di dalam rumah. Bilik yang terkunci rapat,jauh di belakang. Tak terurus tak terperhatikan. Di dalamnya menguap aroma kematian, hawa lembab yang tidak sedap dan bau apek barang-barang usang. Kotor berdebu tak berpenerangan, gelap pekat adanya. Tengah malam buta, seorang lelaki duduk bersila di dalam bilik itu. Ditemani …

Read More »

Kau Payah, Yah!

Oleh: Andika Syahputra Aku tidak bisa percaya. Setelah dua puluh tahun, bagaimana aku bisa tertipu? Aku heran, kenapa dia berbuat sampai sejauh ini? Dia yang orang bilang sudah meninggal sejak aku kecil, tiba-tiba mengaku masih hidup? Dia pasti sudah gila! Kalian bertanya dia itu siapa? Dia adalah ayahku. Ayahku yang gila! …

Read More »