Home / Cerpen (page 3)

Cerpen

Inyiak di Labuah

Oleh: Dewi Annisa Putri Sejak kecil, aku tak pernah kenal bapakku. Kau tahu? Bapak nikah lagi dan tidak tinggal bersama kami. Kami, delapan bersaudara, tinggal bersama Mamak di rumah yang diberikan Bapak. Di depan rumah kami ada kolam ikan yang sama lebarnya dengan lebar rumah. Di dalamnya ada banyak sekali …

Read More »

Bertemu Ayah

Oleh: Nurhanifah Masih pagi, jam menunjukkan pukul lima. Aku ditemani Butet menuju rumah Ayah, tak lupa kami bawa sebotol air. Iya berjalan malu-malu, tampak canggung. Aku mengajaknya bicara, bertanya bagaimana kampung kami yang lalu. Ia tampak semangat, semuanya ia ceritakan. Sekolah dasar yang lalu punya kolam ikan, sudah berubah kini …

Read More »

Undangan

Oleh: Yulien Lovenny Ester Gultom Raja Matara sibuk mondar-mandir, kepulan asap rokok dihembuskan dari bibirnya yang tebal. Seminggu lagi akan diadakan pesta untuk mencari calon mantunya. Cerita punya cerita, si putri tengah dirundung duka sebab calon suaminya mati ketika berburu satwa. Sibuk cari pengganti Raja menelepon sanak saudara. Tua-muda, miskin-kaya …

Read More »

Bersimpuh Cerita Dalam Senja

Oleh: Suratman Seiring senja menghitam, lekas semi beruntut berakhir pula. Seperti langkahku yang kian jauh menapak seiring itu pula usiaku terus bertambah. Tak cukup waktu singkat tiba di sini. Aku yakin pastilah kau mengerti juga memahami. Aku sudah dewasa. Aku pun lebih tinggi darimu sekarang. Usiaku pun sudah dua puluh …

Read More »

Saga Pangkal Paha dan Kloset si Tuan

Oleh: Amelia Ramadhani Mataharinya terlalu terik, Tuan. Tak sanggup sahaya untuk berjalan sejauh itu dengan kaki telanjang. Sahaya bukanlah orang berada seperti yang Tuan harapkan. Sahaya hanyalah kumpulan dari orang kampung kurang pendidikan. Sudahilah Tuan. Malam semakin larut. Apalah daya sahaya yang tidak berpendidikan ini. Jangankan sekolah, berbuku pun tidak. …

Read More »

Musim  Kemarau dan Langit Biru

Oleh: Retno Andriani Langit hari itu tampak cantik dihiasi awan tipis yang bergerak lambat. Aku dan Mbak Asih merebahkan tubuh di atas tanah yang kering. Tak peduli kotor, kami hanya ingin menikmati langit sore. Mumpung masih biru, belum berubah hitam. Kalau sudah hitam, biasanya kami tak akan berani berada di …

Read More »

Gara-gara Alat Ajaib

Oleh: Maria Patricia Sidabutar   Perkenalkan, namaku Ala Kadar. Emak sering memanggilku Ala. Seorang pria normal yang ingin memancungkan hidung sebab hidungku kurang sempurna bentuknya. “Maunya seperti Michael Jackson lah mancungnya. Atau bisa juga kayak si Mancung,” ujar Emak. ** Setelah memancungkan hidungnya dengan jangka waktu yang telah ditentukan, sekarang …

Read More »

Namaku Soejono

Oleh: Dewi Annisa Putri Namaku Soejono. Aku sedang memerhatikan anak-anak muda itu. Mereka asyik tertawa, bercanda ria. Ada sekitar dua puluhan orang mengenakan pakaian yang seragam; baju putih dan celana jeans. Mereka orang kesekian yang mengunjungiku minggu ini. Setiap melihat anak muda seperti mereka, aku selalu bertanya-tanya dalam hati; apa …

Read More »

Tamiang No Gabai Bachan

Oleh: Elda Elfiyanti Perkenalkan, namaku Delayanti. Hari ini aku menemukan buku Saga No Gabai Bachan. Aku tak paham itu, sampai aku membaca artinya; ‘Nenek Hebat dari Saga’. Mendengar kata nenek, aku langsung tertarik dengan buku ini. Sekali lagi kubilang aku tertarik karena ada kata nenek. Aku ingin tahu sehebat apa …

Read More »

Dunia dalam Drama

Oleh: Vanisof Kristin Manalu Dia bukan orang kaya. Rumahnya terbuat dari bebatuan keras, sekeras batu precious stone. Dia juga tak pandai. Menghitung buah apel yang ada dalam satu keranjang saja susah minta ampun. Matanya melongo, kosong saat melihat tumpukan di sana-sini. Ia hanya berusaha mengumpulkan tanpa menghitungnya lagi. Pernah suatu ketika …

Read More »