Home / Cerpen (page 4)

Cerpen

Perjalanan Pulang

Oleh: Retno Andriani Laki-laki itu tak punya uang lain selain selembar uang sepuluh ribu dan dua lembar uang dua ribu. Kota kecil ini masih asing saja. Padahal, ia tahu beberapa kilometer dari sini jurang dan hutan ada. Bukan berarti ia Tarzan meski penampilan sama, tapi jalan untuk pulang ada di …

Read More »

Polisi Cepek

Oleh: Santi Herlina Akhir tahun 2004 silam, Kenek masih berumur dua tahun. Goncangan yang begitu dahsyat datang. Semua makhluk berlarian, tak hanya manusia, hewan-hewan pun berlarian mencari tempat, menyelamatkan diri masing-masing. Sekejap kemudian air menghantam apa saja yang berdiri di kota itu, bak ombak ganas menyapu apapun yang ia lewati. …

Read More »

Amplop Biru

Oleh: Vanisof Kristin Manalu Senyuman memang bisa membuat hidup ini berawal dengan indah. Tak khayal bila semua itu pupus semata karena banyaknya masalah datang mendera. Langit pagi itu hitam pekat tak menunjukkan warna biru yang memikat. Walau cuma setitik awan kecil, namun ia tampak enggan menunjukkan. Begitu juga dengan keadaan di …

Read More »

Senjakala Bersemu Rindu

Oleh: Amelia Ramadhani Ibu, apa kabar? Masih sakitkah? Aku baru sadar kemarin ada yang tak beres. Ada yang kau dan orang-orang di rumah tak mau sampaikan padaku. Kenapa begitu? Toh, akhirnya aku tahu Ibu tak baik-baik saja. Orang bilang, saat hujan turun semua rindu bisa saja berkelebat di kepala. Mereka …

Read More »

Kala Ayah Pergi

Oleh: Dewi Annisa Putri Bak cerita Cinderella, tepat pukul dua belas tengah malam, jam tua yang menempel di dinding itu berbunyi. Tapi itu bukan pertanda aku harus segera pulang. Pakaianku pun tak akan berganti dengan sendirinya. Lagi pula, aku juga tak sedang berdansa dengan seorang pangeran tampan yang menjadi idaman …

Read More »

Lintang Kartika

Oleh: Tantry Ika Adriati Tak terasa hampir setiap hari hujan turun. Kau tahu, ini musim penghujan. Angin Muson Barat bertiup dari Benua Asia ke Benua Australia. Ia membawa banyak uap air, sehingga kristalnya mencair dan menjadi hujan di benua Asia. Seperti yang terjadi hari ini, air-air hujan jatuh membasahi kulit …

Read More »

Deja Vu

Oleh: Nurmazaya Hardika Putri Seorang anak laki-laki berlari di depanku. Di punggungnya tergantung sebuah tas bergambar tokoh pahlawan dalam serial kartun. Sepatunya berukuran kecil dan berwarna biru. Sebuah botol minum ia kalungkan di lehernya. Tangannya membawa kotak berisi bekal dari rumah. Matanya berbinar karena ini hari pertama sekolah. Setelah itu …

Read More »

Merayakan Kehilangan

Oleh: Nurmazaya Hardika Putri Pemuda bertubuh jangkung itu masih sibuk meracik ramuan daun temuan terbaru. Ia menggiling daun tersebut setelah dipetik dari belakang kebun rumah barunya. Daun tersebut kemudian ia giling menjadi potongan halus. Kemudian dengan hati-hati diletakkannya dalam beberapa cetakan berbentuk kerucut lalu dilinting. Katanya lintingan seperti itu lebih …

Read More »

Becak Bang Do

Oleh: Alfat Putra Ibrahim Ini era digital, Bang Do. Tak ada orang yang mau berhentikanmu di tengah jalan untuk memakai jasa becakmu dan menawar harga semurah-murahnya. Kalau pun ada, hanya segelintir. Itu pun tak seberapa, hanya beberapa orang tua yang tidak punya ponsel pintar dan orang kampung yang gagap teknologi. …

Read More »

Anak Ular

Oleh: Amelia Ramadhani Tangan kanan Ayah sama sekali tidak bisa digerakkan. Ia bilang jari-jarinya mati rasa. Tak bisa menerima respon yang diberikannya. Ia sudah mencoba untuk menggerakkan jari-jarinya tapi tak satupun bisa bergerak. Lagi jari-jarinya tak dapat menerima respon itu. Kemudian ia mengangkat tangannya. Terlihat dari gurat wajahnya, ia kesakitan. …

Read More »