Home / Cerpen (page 5)

Cerpen

Darah Juang

Oleh: Adinda Zahra Novianti Aku hidup di zaman yang datar. Tak ada tangisan pemuda karena ditinggal mati teman sejalan. Tak ada barisan pemuda dengan nyanyian yang pernah kulihat di Youtube dengan titel reformasi. Mereka dirampas haknya, tergusur, dan lapar. Bunda, relakan darah juang kami padamu kami. Cuma itu lirik yang …

Read More »

Memoar Merindu Mei

Oleh: Ika Putri AS Dewi Maia adalah anak tertua di antara ketujuh putri Atlas dan Pleione. Maia melahirkan Hermes yang atletik. Anak yang dilahirkannya ini berjasa menyampaikan pesan dari para Dewa Olimpus ke umat manusia. Maia yang baik hati lantas mengadopsi Arkas untuk melindunginya dari mantra jahat Hera. Bulan Mei …

Read More »

Pindah

Oleh: Tantry Ika Adriati   Dalam benak Mamak pindah adalah sebuah bencana. Seperti gempa bumi yang mengguncang dan memporak-porandakan hati Mamak. Membuat hati bergetar. Jantung Mamak dibuatnya berdetak cepat tiada henti. Pindah bagaikan tsunami dahsyat yang datang menghancurkan kebahagiaan mamak. Datangnya selalu tiba-tiba, sehabis gempa, tanpa tanda-tanda langsung menyembur rumah-rumah …

Read More »

Jagat Maya

Oleh: Alfat Putra Ibrahim   Jagat Maya, arwah nenek moyangku yang bersemayam dalam sebuah tengkorak makhluk purba sejenis manusia. Bertaring layaknya binatang buas. Postur tengkoraknya persegi dengan rahang lebar. Ditambah balutan rambut lebat memanjang, tersemat dalam pori-pori tengkoraknya. Wujudnya sempurna dalam kompleksitas magis. Tak ada yang tahu sejak kapan dan …

Read More »

Inyiak di Labuah

Oleh: Dewi Annisa Putri Sejak kecil, aku tak pernah kenal bapakku. Kau tahu? Bapak nikah lagi dan tidak tinggal bersama kami. Kami, delapan bersaudara, tinggal bersama Mamak di rumah yang diberikan Bapak. Di depan rumah kami ada kolam ikan yang sama lebarnya dengan lebar rumah. Di dalamnya ada banyak sekali …

Read More »

Bertemu Ayah

Oleh: Nurhanifah Masih pagi, jam menunjukkan pukul lima. Aku ditemani Butet menuju rumah Ayah, tak lupa kami bawa sebotol air. Iya berjalan malu-malu, tampak canggung. Aku mengajaknya bicara, bertanya bagaimana kampung kami yang lalu. Ia tampak semangat, semuanya ia ceritakan. Sekolah dasar yang lalu punya kolam ikan, sudah berubah kini …

Read More »

Undangan

Oleh: Yulien Lovenny Ester Gultom Raja Matara sibuk mondar-mandir, kepulan asap rokok dihembuskan dari bibirnya yang tebal. Seminggu lagi akan diadakan pesta untuk mencari calon mantunya. Cerita punya cerita, si putri tengah dirundung duka sebab calon suaminya mati ketika berburu satwa. Sibuk cari pengganti Raja menelepon sanak saudara. Tua-muda, miskin-kaya …

Read More »

Bersimpuh Cerita Dalam Senja

Oleh: Suratman Seiring senja menghitam, lekas semi beruntut berakhir pula. Seperti langkahku yang kian jauh menapak seiring itu pula usiaku terus bertambah. Tak cukup waktu singkat tiba di sini. Aku yakin pastilah kau mengerti juga memahami. Aku sudah dewasa. Aku pun lebih tinggi darimu sekarang. Usiaku pun sudah dua puluh …

Read More »

Saga Pangkal Paha dan Kloset si Tuan

Oleh: Amelia Ramadhani Mataharinya terlalu terik, Tuan. Tak sanggup sahaya untuk berjalan sejauh itu dengan kaki telanjang. Sahaya bukanlah orang berada seperti yang Tuan harapkan. Sahaya hanyalah kumpulan dari orang kampung kurang pendidikan. Sudahilah Tuan. Malam semakin larut. Apalah daya sahaya yang tidak berpendidikan ini. Jangankan sekolah, berbuku pun tidak. …

Read More »

Musim  Kemarau dan Langit Biru

Oleh: Retno Andriani Langit hari itu tampak cantik dihiasi awan tipis yang bergerak lambat. Aku dan Mbak Asih merebahkan tubuh di atas tanah yang kering. Tak peduli kotor, kami hanya ingin menikmati langit sore. Mumpung masih biru, belum berubah hitam. Kalau sudah hitam, biasanya kami tak akan berani berada di …

Read More »