Home / Puisi

Puisi

Perempuan dan Lampu Kota

  Oleh: Dewi Annisa Putri   Ia hijau dan merah dan ungu dan kuning dan biru mereka bergelantungan di langit langit tanpa atap di jalan yang lebar yang diapit sebuah taman dan makam pahlawan di mana yang satunya selalu ramai dan sunyi pada satunya lagi yang satunya asri dan dipenuhi …

Read More »

Kecoak Terbang

 Oleh: Samuel sihaloho   Apa yang kau lihat di bawah kolong meja Bergerak lincah dalam bayangan gelap Tidak takut terjerat dalam perangkap Terlindung di antara kaki bahadur yang tertidur lelap   Kecoak. Kecoak. Kecoak. Menjelajah sampai gedung DPR Sang dewan lega kecoak adalah teman lama Teman lama memberinya sumbang Dan …

Read More »

Angkatan Bersenjata

Oleh: Kirana Yulisya Badan tegap nan gagah itu bakti dari kerja kerasnya Kulit hitam terbakar sinar matahari menjadi bukti kesetiaannya Kokoh negara karena baktinya Damai negeri karena kerja kerasnya   Siapa yang tahu kapan ia tidur kala semua orang terlelap Siap siaga adalah yang utama dalam hidupnya Siapa yang tahu …

Read More »

Pergi

Oleh: Dina Mirdani Siapakah aku? Hidup seorang diri Separuh jiwa telah pergi Berjuang untuk mati Bukankah itu terlihat berarti?   Siapakah aku? Aku tak punya kaki Jangankan berlari Berdiri saja kupungkiri   Namun kau juga akan pergi Meninggalkanku sendiri Jiwa yang tak lagi berarti

Read More »

Tentang Kasih

Oleh: Yael Stefani Sinaga Ketika jiwa dan raga hadir untuk pertama kalinya Di dunia yang penuh hitam putih Aku melihat berdiri seorang pria Menggendong dengan penuh kasih   Dengan mata yang belum sempurna terbuka Telinga yang belum jelas mendengar Aku menangis di dalam pelukannya Membuat hati yang mendengarnya sedikit bergetar …

Read More »

Jeritan Sukma

Oleh : Yael Stefani Sinaga Arahkan pandanganmu ke langit Pejuang masa lalu telah pergi terlebih dahulu Di atas sana mereka menjerit Dengan oknum bejat tak tahu malu   Lihat dunia yang fana Penuh dengan penderitaan Pemberontakkan, kemiskinan, dan penyiksaan Berakar dan terus menjalar tanpa henti   Agama dijadikan tema panggung …

Read More »

Jarimu Harimaumu

Oleh: Akbar Marbun   Suatu metafor yang sangat populer di zaman ini Iya! Di zaman serba elektronika Suatu kata yang telah banyak orang Terjerumus dalam penjaranya   Yang mana apabila seseorang ceroboh Akan dampak kata tersebut dan tidak mau menganalisanya Maka kehancuranlah yang akan mengunjunginya   Di zaman ini begitu …

Read More »

Kota Serakah

Oleh: Ahmad Sufriansyah Jakarta kota serakah Penuh marah, penuh amarah Jakarta bukan lagi kota yang ramah Paling-paling esok, lusa Atau waktu yang akan datang semua akan punah Melirik tajam panji-panji pancasila Mengikis kian terbungkam Menggagalkan ingatan kebersamaan Yang ada berkat pemersatuan Bukan, bukan dengan waktu sebegitu singkat Bukan, bukan hanya …

Read More »

Mata Tajam Penuh Duka

Oleh: Ahmad Sufryansyah Hari itu hujan Genangan hujan Hanya suara hujan Bercanda bersama kawan Semua seperti biasa Hingga mataku melihat sebuah bingkai Aku berjalan dengan hati-hati Kutatap matanya Kuusap pipinya Kutunduk melihatnya Hanya sebuah gambar Seolah sedang merasakan Merasakan kesedihan Pertiwi Malu aku, negeriku… Ingin rasanya aku memelukmu Ingin rasanya …

Read More »

Warna Keresahan

Oleh: Yulia Pransiska Hitam akan selalu menjadi hitam bila tak dicampur putih Indra mataku pun telah muak dengan rasa tak acuh Merah akan membakar rasa perih Indra mata hatimu mungkin telah retak lagi pecah   Aku menyayangkan, ini hanya untuk kepentingan Aku menyayangkan, ini hanyalah angan-angan Aku menyayangkan, ini hanyalah …

Read More »