Home / Puisi (page 3)

Puisi

Jengah

Oleh: Surya Dua Artha Simanjuntak   Jiwaku tak begitu hidup Rasa jengah nyata terasa Dunia semu, menyimpang memuakkan; Ada yang salah   Kebencian tumbuh menganga Aku harap tak terasa Menari berduka, tertawa terluka; Ini salah   Aku coba mengindah Namun hati amat pekat Apa topeng ini agung? Ya, aku salah …

Read More »

Meramu Nasib

Oleh: Syafril Agung Oloan Siregar Cura nan memburu tak sirepkan azammu Baja hatimu batu tulangmu Liang mekar Cerat letih mencarak Selaput suci tertembus Darah tertumpah dan banjiri geladak Alon-alon dunia mendaulatmu pusaka Kau bagai bangkai di tengah padang bunga Kau punya pemuja Tetapi musuhmu menggunung Malam demi malam berlalu hampa …

Read More »

Cinta Tahi Angin

Oleh: Samuel Sihaloho   Aku sampai juga di titik ini Tempat menjamu para ratu Alam para babu setia Menabur benih cinta Katanya Langit sudah cenderung kelabu Berawankan harapan gelap menyatu Terhembus buai sabda penjual rayu Selimuti hati yang dingin Menutupi cinta sejati Ada yang terhenyak Mendapat pilu Ada pura-pura berdaya …

Read More »

Pesona Sang Pembangkang

Oleh: Rina Amelia Tindaon   Aku luruh Pada senyum simpul sosok yang berlagak jijik pada sang penindas Tak engah, dia pun suah serupa dengan si culas Membenamkanku hirap sendiri dalam pukauannya   Nyata di jiwaku pesona seorang pembangkang dengan jin bolong dan kaus oblong Tatkala dia bergulat Berteriak Mencaci maki …

Read More »

Maherat Paras Jiwa yang Suci

Oleh: Samuel Sihaloho   Seorang muda berkaca di laut yang jernih Memandang lekat paras suci jiwanya Belantara yang bermakna kata hati murni Angkasa mana yang tak mencintai hangat seringaimu, tuan muda   Seorang muda menyelam lautan yang biru Menyelam keadilan ke lubuk hati Dalam palungnya terkubur duka dalam jiwa Ada …

Read More »

Bramacorah

Oleh: Yael Stefany Sinaga   Kelam kurasa Lembut; kenyal; reyot Membias menindik hingga pori-pori Tapi mendada lara kurasa   Berongga mencahayai yang melompong Terlara-lara isak berbisik capai tak terdengar Cokelat; memerah; hitam Menjadi-jadi sampai tak kasat mata   Lambat tak tersiar gelarnya Sampai-sampai ubun pun tak ingat Singgah kira-kira entah …

Read More »

Dwiatma

Oleh: Dewi Annisa Putri   Sedia ia tunggal Menyala lagi urip serupa wahid Lamun melanglang ganda dan bertukar kisah di antara Tiada seorang layak pirsa, perkarakan   Ia bercabang sedan lalu gelak di ruang monokrom Sarwa-sarwa menghakimi seonggok rangka Ia erak Tidur lelap dan mekar lalu hirap   Hanya ia …

Read More »

Pemutus Kelezatan

Oleh: Nikyta Ayu Indria   Pagi ini sama dengan semalam Tetesan embun kembali jatuh dalam diam Hiruk pikuk manusia langlang tak bermuram Mengisi hari-hari yang tiada mencekam Sampai lupa, untuk apa kita bergumam   Burung tahu kearah mana ia akan berpulang Begitu juga dengan insan yang dimuliakan Bahkan senja yang …

Read More »

Ya

Oleh: Galang Arya Dewangga   Ya, memang benar kami penguasa dan Ya, memang benar kami juga yang merampas harta. Ya, memang benar kami aparat dan Ya, memang benar kami juga yang menindas rakyat. Ya, memang penguasa yang mengutus aparat, yang membuat melarat, yang bergerak di balik gelap bagai binatang pengerat, …

Read More »

Merangkai Usia untuk Ibu

Oleh: Muhammad Husein Heikal   [i] aku membawakanmu usia, Ibu tersenyumlah mata kelabu   kueja setiap tanda ruang-ruang lampau   langit menyala biru lalang senantiasa nyanyi masa lalu   [ii] bunga apa yang ingin kau tanam hari ini, Ibu?   ambrosia paling abadi atau seperti dulu: lily-lily ungu   tak …

Read More »