Home / Puisi (page 5)

Puisi

Potret Indonesiaku

Oleh: Ahmad Sufriansyah 71 tahun merdeka Apa rasanya merdeka? Koes plus dilarang saat orde lama Demokrasi dan kebebasan pers dibungkam saat orde baru Apakah itu yang namanya merdeka? Negeri ini hebat! Merebut kemerdekaan bukan diberikan cuma-Cuma Berjuang melawan penindasan yang terjadi selama berabad-abad Kita penghias kemerdekaan Bukan hanya penikmat saja …

Read More »

Mata Tajam Penuh Duka

Oleh: Ahmad Sufryansyah Hari itu hujan Genangan hujan Hanya suara hujan Bercanda bersama kawan Semua seperti biasa Hingga mataku melihat sebuah bingkai Aku berjalan dengan hati-hati Kutatap matanya Kuusap pipinya Kutunduk melihatnya Hanya sebuah gambar Seolah sedang merasakan Merasakan kesedihan Pertiwi Malu aku, negeriku… Ingin rasanya aku memelukmu Ingin rasanya …

Read More »

Warna Keresahan

Oleh: Yulia Pransiska Hitam akan selalu menjadi hitam bila tak dicampur putih Indra mataku pun telah muak dengan rasa tak acuh Merah akan membakar rasa perih Indra mata hatimu mungkin telah retak lagi pecah   Aku menyayangkan, ini hanya untuk kepentingan Aku menyayangkan, ini hanyalah angan-angan Aku menyayangkan, ini hanyalah …

Read More »

Tahun Baru

Oleh: Nurhanifah   Sebut saja perayaan Penuh dengan makanan-makanan Penuh dengan hiasan-hiasan Penuh dengan kegembiraan   Tergelak tawa tak berkesudahan Berpesta hingga kelelahan Tak sadar waktu yang terlewatkan Terbangun dalam kebingungan   Sadarkah? Pahamkah? Tahukah?   Sudah pasang serulusi tahun ini? Mari buat dan lakukan   Sudah saatnya menatap dalam …

Read More »

Untuk Bidadari Kehidupan

  Oleh: Yulia Pransiska   Semesta tak kan pernah sanggup kehilangan bidadari sepertimu Bumi pun menjerit, bila dunia tanpa kasihmu Awan hanyalah kapas tanpa warna putihnya yang semurni hatimu Sekalipun matahari padam, raungan kesedihan tanpa hadirmu   Kasih Ibu Tak terhingga adanya sampai sepanjang massa Selalu memberi Tanpa balasan paksa …

Read More »

Dialektika Negeri Tanda Tanya

Oleh: Suratman 71 tahun negeri berusia Tak melulu soal-soal tentang pecah-belah Pelik-pelik di mana-mana SARA jadi ganyangan utamanya Melulu itu-itu saja Barang jadi tak punya hati bineka Pun terus diumbar-umbar Debat-debat sedemikian membahasnya Mata-telinga luput-luput lupa Korupsi, HAM, tingkah dewan, kemiskinan Sedemikian jadi apa? Lantas sedemikian lupa! Atau, seperti apa? …

Read More »

Aksi Dalam Perjuangan

Oleh: Rahmad Alfiansyah Sinurat   Dalam kenangan perjuangan pahlawan Indonesia Menjunjung tinggi harkat dan martabat bangsa Suasana bimbang tanpa setitik cahaya Pantaskah negeri ini terbebas dari penjajah   Mendung, Pertanda ‘kan hujan deras Membanjiri asa yang haus kemerdekaan Dia dan semua anak-anak bangsa yang ada menunggu Keputusan sakral   Maju …

Read More »

Terpenuhi dengan Berbagi

Oleh: Rahmad Alfiansyah Sinurat Percayalah pada tuhanmu Percayalah atas takdirmu Ironi terkadang membuatmu lupa Jangan pernah berhenti meminta Bentangan sajadah kian lebar Dari harapan manusia yang besar Kuatkah diri ini melihatnya? Sentuhan hati tak berdaya Di alun-alun berjalan sepi Terbenam matahari menatap bulan Di dalam hati kian gemang Demi berbagi …

Read More »

Sekolah

Oleh: Nurhanifah Tak ada papan nama sekolah, hanya gedung biasa Bercat merah, dibangun atas kebutuhan bersama Hanya satu guru, tamatan sekolah dasar Tak bergaji, mengajar karena cinta Hanya gedung dengan satu pintu Satu papan tulis dengan sebutir kapur, tanpa pigura presiden dan wakilnya Hanya dua belas anak dengan kaki telanjang …

Read More »

Berpikir Merdeka

Oleh: Nurtiandriyani S Kembali dari keterasingan di bumi berada Kita hanya rakyat jelata Yang dijajah demi sebidang tanah, harta, dan tahta   Ini negeri dulu merdeka Namun tak pernah tahu Mana rupa mana serigala   Disuruh berteriak Tetaplah berpikir merdeka Tapi hati dibelenggu, kaki terantai besi Anak cucu menderita Rumah …

Read More »