Home / Cerpen / Cerita Satire

Cerita Satire

Ilustrasi: Surya Dua Artha Simanjuntak

 

Oleh: Widiya Hastuti

 

Benarkah semua milik pemenang? Anugerah pahlawan milik pemenang? Kebenaran milik pemenang? Sejarah milik pemenang? Ah, kurasa tidak! Itu semua milik penguasa. Mereka menguasai segala-galanya. Mahasiswa mengamininya.

Dia pemenang. Pemenang di kenyataan, hati, dan pikiran mahasiswa, tapi tidak di penguasa. Siapa mahasiswa di zaman edan ini masih seperti dia? Tidak ada. Kurasa.

Aku tak amat-amat kenal, dia juga tidak tahu menahu soal aku. Namanya tersohor di lingkungan kampus. Ia punya mulut yang culas, mata yang lebar melotot, suara tegas, juga kumis. Tampan. Dia jarang kuliah, tentu saja. Tapi tidak kumal, yang paling penting dia senior.

Dia murah senyum. Pada siapa saja, kadang tidak kenal ya dia senyum saja. Gaya bicaranya tenang, pendengar yang baik. Ini kata temanku yang satu organisasi dengan dia. Tapi sepertinya memang iya.

Aku tidak kagum, tertarik, lagi-lagi jatuh hati. Cuma dia kelewat terkenal jadi aku tahu. Kawan-kawanku sering menceritakan dia. Katanya dia diusir dari kantor administrasi karena memakai sandal. Besoknya dia datang ke kantor administrasi pakai sepatu. Dia teriak pada pegawai kantor di depan mahasiswa yang sibuk mengurus KRS “Pak, tidak tahu peraturan kampus? dilarang pakai sandal jepit disini! Bapak pulang sana ambil sepatu, baru masuk ruang administrasi,” kata temanku menirukan bicaranya.

Besok-besok dia tegur dosen terlambat. Dia protes nilainya A padahal dosennya tidak pernah masuk. Kalau dia dimaki-maki dekan wajar saja, sudah bukan cerita hangat atau dia bersitegang dengan wakil dekan. Ah, basi. Tapi cuma dia, hanya dia.

Mahasiswa lain banyak setuju dengannya. Dia dianggap benar. Selalu. Tapi, ya seperti aku ini, ceritanya di belakang, marah-marah di belakang, atau teror dari belakang, mendukung pun di belakang. Dia tidak. Dia selalu muncul di muka. Tak heran kalau dia jadi pemimpin kampus.

Seperti kata Jostein Garder dalam buku Dunia Shopienya yang belum siap aku baca. Di tumpukan kartu remi akan ada satu joker. Dia joker itu. Mahasiswa lainya? Sulit kugambarkan.

Ada jenis seperti aku kuliah, tugas, cerita tentang apa saja ketika istirahat kemudian pulang, sekali-kali nonton drama Korea atau nongkrong. Lain lagi yang sibuk dengan organisasi, menyerukan idealisme. Ya, cuma berseru-seru saja tidak ada bukti. Ada spesies lain lagi, orang-orang politiknya kampus. Kadang-kadang seperti bermuka dua dekat sama dekan dekat sama mahasiswa, dekat saja.

Dia sering kudengar mengajak mahasiswa menuntut hak. Tapi toh cuma dia joker. Pasti yang lain akan senyum ketika diajak. Berpikir mau melawan takut di DO atau ya IP nanti rendah. Atau yang sibuk idealisme semangat mengatakan ayo tapi mereka cuma berseru. Kalau mahasiswa politik, ah iya-in dulu si abang kumis ini nanti kasih tau Pak Dekan baik-baik. Beres, bisa diatur.

Kalau dia manusia tidak mungkin dia sempurna. Dia jarang kuliah, suka tunda-tunda. Untuk apa buru-buru? Mahasiswa adalah makhluk nikmat. Bisa seperti pejabat tapi merasakan jadi rakyat. Kalau tidak sekarang kapan lagi idealisme dilaksanakan. Katanya. Maka jadilah dia senior abadi. 5, 6, 7, haaaa 7 tahun dia jadi senior eh mahasiswa.

Tapi tiba-tiba banyak mahasiswa di DO. Dia salah satunya. Aku pikir wajar, yang lain juga berpikiran sama denganku. Maka celetuk indah muncul, “Makanya jangan cerewet kali kayak abang itu nanti di cut. Jangan senang kali di kampus jadi lupa wisuda.”

Kalian tahu mutiara? Meski masuk dalam lumpur di dasar laut paling dalam dia tetap putih. Itu dia. Dia tidak bodoh, tidak malas, tidak hanya sekedar main-main, dia punya alasan. Temanku yang satu organisasi dengan dia bercerita. Memang dia di DO, tapi menurutnya itu melanggar peraturan. Dia punya bukti. Jadi dia mempertanyakan itu pada Dekan. Tidak ada jawaban harus ke rektor. Dia jalan kesana. Tidak ada jawaban. Dia tau dia benar, dia memang senior abadi tapi dia benar. Dia culas jadi dia tidak diam. Dia mengatakan jika universitas tidak mengembalikan status mahasiswanya “kita ke jalur hukum.”

Daun tumbuh, layu, gugur, tumbuh lagi. Yang jatuh busuk menjadi tanah. Itu proses, cukup lama tapi pasti. Dia, seniorku yang punya kumis itu. Dia benar. Dia tidak takut. Jalur hukum dengan universitas dimulai. Dia punya bukti, dan dia benar. Aku tahu itu. tapi universitas memprosesnya lama, tidak pasti. Tidak lebih pasti dari daun busuk.

Dia membela dirinya sendiri, tanpa pengacara. Tak banyak mahasiswa mau ikut campur tapi banyak yang ikut tahu. Dia benar. Aku tahu, hakim juga tahu. Jadi dia menang.

Besoknya, lusanya, atau bulan depannya aku pikir dia akan datang ke kampus pakai baju hitam putih. Sidang atau wisuda. Tapi tidak, itu tidak pernah. Dia tidak datang. Dia benar tapi dia tidak pernah datang sebagai mahasiswa. Putusan sidang hari itu di banding lagi oleh universitas yang tidak mau salah atau tidak mau mahasiswa seperti dia lulus. Dia menang lagi. Tapi dia tidak kembali jadi mahasiswa.

Bukankah kebenaran milik penguasa. Ia benar tapi dia tidak akan menang. Aku lihat dia beberapa kali ke kampus. Jumpa senior yang lain. Dia tetap senyum, kumisnya akan melengkung ke atas mengikuti garis bibirnya. Aku bersimpati tapi hanya diam yang lain juga begitu sepertinya.

Kata cerita orang yang duduk di sebelahku di kantin dia berjuang bukan hanya untuk gelar sarjana. Dia berjuang karena pola pemikiran yang berkembang di mahasiswa. ‘Jangan seperti abang itu, nanti di DO’. Dia ingin bantah kata-kata itu. Dia mau berjuang untuk katakan ‘kalian semua mahasiswa, dan beginilah sikap mahasiswa’.

Bukankah kami lebih jahat dari penguasa. Dia benar, dia selalu menuntut hak mahasiswa yang benar. Tapi penguasa tak mau melihat kebenarannya. Mereka tidak mau salah. Mereka tidak mau ada sejarah mahasiswa cerewet seperti dia. Mereka tidak mau ada mahasiswa berkumis lainya yang menuntut ini itu. Kami meng-iya-kan penguasa itu. Kami pura-pura buta, takut nanti di DO seperti dia. Seperti senior lain yang suka cerewet. Dari 45 ribu data hanya dia yang sesungguhnya mahasiswa. Dihatiku dia benar. Dia pejuang. Dia pemilik sejarah. Dan dia tulus tapi aku diam.

About SUARA USU

Check Also

Potret Kenangan

  Oleh : Yael Stefany Sinaga Aku pikir semua baik-baik saja. Tanpa berkata banyak semua …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *