Home / Cerpen / Dongeng Masa Depan

Dongeng Masa Depan

Ilustrasi: Surya Dua Artha Simanjuntak

 

Oleh: Widiya Hastuti

Panas tak terik. Tak ada air hanya keringat disini, diruas-ruas padi. Tanah menguapkan bayangan yang bergerak-gerak menimbulkan ilusi optik. Tak ada cahaya, kelabu di ufuk sana. Ah, tak penting tak lebih penting dari rasa menyengat pada kulitku yang tidak lagi berlendir. Hanya kering, retak. Aku mengerjap-ngerjap siapa yang jahat? Aku yang dikatakan menghasut nenek moyang mereka. Tak terik, bahkan langit bergemuruh tapi menyengat kulit yang tak lagi berlendir. Tak ada air hanya darah disela-sela cadas. Panas.

Aku asing, pangling tak ada embun lagi saat pagi. Sepi, tak ada kicau burung. Telah lama tak tampak matahari dilangit namun panas menyengat. Entahlah, aku pikir keadaan badanku yang kurang sehat. Sudah beberapa hari aku kurang makan. Tak ada makanan. Tak ada yang bisa dimakan.

Langit bergulung-gulung seperti ombak, seperti daun lebat hutan kala, seperti entah seperti apa. Tanah kering, aku tak kenal. Tidak pernah seperti ini, retak disana-sini jika aku sedikit kecil cukup aku menyusup diantara retakannya. Pola-polanya teratur menimbulkan bentuk yang unik. Indah, tapi menipu.

Aku bergerak keluar, lambat bersama desir anginyang kian membawa panas. Tak ada apapun yang melintas. Bahkan tikus bau yang kerap bising berdecit entah kemana. Hawa cukup panas, tapi si raja langit tetap membentang sayapnya lesu, terseok-seok. Jika tidak ada angin ia tentu telah jatuh terhuyung ke bawah sini.

Aku bergerak lambat, semakin lambat karena rasa lapar beradu dengan panas. Mereka silih berganti menjadi perhatian otakku. Tak tahu diri otakku yang labil ini tak tau menentukan pilihan harus berhenti diantara bayangan batang pohon kering karana panas atau berjalan terus mencari apa saja untuk dimakan. Dasar sial.

Daun berjatuhan berwarna kuning, tidak ada yang hijau. Terhampar seluruhnya, jarang-jarang. Satu dua menyisip diantara celah retakan tanah. Mungkin dibawahnya bersembunyi jangkrik. Siapa peduli hewan kecil itu.

Ahh, benar-benar sepi. Tak ada apa-apa hanya desing angin. Tak ada deru air pada anak sungai. Tidak ada bunyi rusa yang kerap bertengkar dengan temannya. Tidak ada babi yang bergumul dengan tanah dipinggir-pinggir sana. Tidak ada kerbau yang sibuk kawin, huh, tidak ada hewan tak tahu diri itu. Raja hutan yang suka mengganggu itupun tak ada lagi. Ahh, sepi benar, panas, lapar!

Mataku mulai berkunang sepertinya. Aku sadar jalanku kian lambat. Entah kearah mana ini aku tidak tahu. Tidak ada matahari, hanya panasnya saja dengan awan. Kulitku semakin kering, bahkan tidak berkeringat. Seandainya saat seperti ini aku bertemu kancil, hap akan ku tangkap dia.

Haha, aku tertawa dihati. Kancil sialan itu sudah lama punah dengan hewan-hewan sok pintar lainya. Si monyet, apa lagi? Orang utan, badak-badak bau itu juga entah kemana. Harimau, hahah sepertinya ia gagal mengambil tahta hutan dari sang raja.

“Waaaaaaaaaaaaaaa!” teriak seseorang. Aku terkejut. Ingatanku segera kembali dari khayalan. Aku dimana? Tempat ini lebih panas, kering, berbatu atau apa ini?

“Apa ini?,” teriak lainnya. Aku terlalu lemas untuk melihat. Aku hanya tau suara itu dari orang-orang.

“Ambil bambu, pukul saja,” teriak yang lain.

Aku sadar semakin banyak orang-orang. Kaki mereka terlihat besar. Mereka berdiri didekatku. Semakin lama semakin banyak. Hawa semakin panas bertambah dengan nafas orang ini yang bersatu.  Aku sudah tidak tahan lagi.

“Ayo pukul,” kata suara lainnya. Aku tidak panik, aku sadar ini pasti akan terjadi sudah biasa, sudah sering. Hanya menunggu giliran siapa yang kena. Bugh, bugh pukulan bertubi-tubi diikuti darah pada sela tanah. Arggh, sakit. Aku hanya bisa menahan, tanpa membela, melawan. Tak ada matahari, panas, tak ada angin, air, daun. Hanya gumaman kutukan. Tapi aku merasa lebih dingin, mungkin aku yang terakhir. Kunang-kunang, gelap, sejuk, aku bersama darahku. Dasar manusia!

“Sudah mati, sudah,” ujar seorang.

“Wahhh besar sekali, belum pernah ada yang sebesar ini. seperti drum agaknya,” sahut yang lainya.

“Mereka semua turun, karena kemarau ini,”

“Bukan kemarau, ini pemanasan global. Tak ada lagi matahari sudah lebih tiga bulan namun tidak ada hujan,”

“Ini karena hutan itu telah gundul,”

“Bukan, ini karena banyak sampah,”

“Ini kutukan itu, hutan itu ada yang jaga mereka ndak seneng sekarang gundul, mereka kirim pasukannya satu-satu,”

“Ahh, setiap hari ada saja yang datang, kemarin gajah, lalu rusa, lalu harimau, terus saja bergantian,”

“Sudahlah, ayo kita potong saja ular ini,” ujar yang lainnya.

Mereka mengangguk-angguk, tak berkomentar. Semua diam entah menyesal, entah khawatir. Namun satu hal pasti, panas!

About SUARA USU

Check Also

Petuah

  Oleh : Yael Stefany Sinaga “….tenanglah akan tiba saatnya. Ujarkan terus karena ini petuah,” …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *