Home / Cerpen / Gama Anom

Gama Anom

Foto Ilustrasi: Widiya Hastuti

 

Oleh: Widiya Hastuti

“Alkisah, diceritakan pengelana (Gama) Muda (Anom) yang menjajaki angkaramurka insan dunia. Diturunkan pada cucu-cucu kelana. Disebarkan lewat  alunan suara. Hingga masa kini. Hidup Gama Anom terukir pada kitab manusia.”

Dia Pemuda.

Baginya, cakrawala adalah jalan hidup,

Dan Tak terbatas, Dan tak terkirakan, Dan indah, Dan buruk.

Harus diarungi.

Dan minta pamit ia pada Bunda,

“Hendak kemana? Siapa kelak Yudhistira pemimpin perang Pendawa di Dataran Kurukshetra?”

“Ahh, bunda. Apa guna memimpin perahan darah. Biar anakkanda lihat apa gerangan di seberang garis”

Candradimuka anakku. Ia bersembunyi di balik tirai langit dan matras bumi,”

“Tak apa Bunda. Ia diciptakan untuk dikunjungi,”

“Bahaya  terbentang sejauh matamu memandang,”

“di sini anakanda pun memandang jua,”

“Ahh, keras hatimu sekuat hasratmu. Baiklah jika ingin kau jelang utasan batas kawula dan kuasa. Pergilah. Jika kau rindu lihat kacer bersiul pada tangkai ibu titipkan doa padanya,”

Dan pemuda berjalan, jauh. Tak terhingga.

Tak jua ia lihat ujung tempat bersemayamnya surya.

Sendinya terguncang, meregang ototnya, menapaki buana.

Dan pada padang luas ditumbuhi bunga,

ada Dewi Gopi bersama sapinya.

Temenung ia menatap cakrawala.

“Yang Esa marah melihat gadis termangu, bertopang dagu,”

“Memang ia telah marah sejak Adam di Surga,”

“Jika kesal ia, kaki adinda menyentuh candradimuka,”

“Bukan sekarang kita tengah menyentuhnya,”

“Ahh, gusar rupanya. Apa yang dirisaukan sapi gemuk menghasilkan susu?”

“Dewa Surya memandang jauh dari garis balik bukit. Tak hendak ia jumpa hamba sahaya di padang bersapi,”

“Kita hendaknya lihat ia, takhtanya tersembunyi dibalik bukit,”

“Akankah pemuda lihat ia?”

“Ingin. namun tertahan hati melihat sapi-sapi berbelang di sini,”

“Hendaklah pemuda rawat mereka, tentu lebih senang ia,”

“Tentu jika ada dewi yang menjerang nasi pada sangku, menjemuri pakaian pada bambu, menimangi anak pada ayun. Bersenandung disiang hari berdoa saat petang menjelang,”

“Ahh. Jika tidak ditinggalkan , tentulah senang sang dewi itu,”

Dan tinggallah pemuda di ladang bersapi. Berganti dasarwarsa. Memutih rambut di kepala.

Tumbuhlah tiga dewi dari pemuda.

Saat kelam mengentar rembulan, daun-daun riuh terebang dari pepohonan. Kacer sibuk pulang ke sarang, pemuda temangu pada awang pintu.

“Apa Ayah risaukan? Elang telah pulang ke perauduan,”

“Ahh. Tidak, teringat Ayah akan balik cakrawala,”

“Ada apa gerangan di sana?”

“Ada banyak dewi kecilkku, surya, tahta, mega, warna semua bersatu pada utas tali pembatas bumi. Di sana ada ayah dari ayah ada ibu dari ibu,”

“Ahhh, pernahkah Ayah lihat mereka?”

“Sebahagian adalah bagian dari darah kita,”

“Rindukah Ayah padanya?”

“Mengapa aku rindu,  jika kau dan ibu dan sapi dan kacer dan bunga dan ladang dan padi dan nikmat-nikmat dewa Brahman ada di sini.”

“Tidak  kau ingin lihat mereka?”

“Jika ingin, tapi aku tidak butuh. Pergilaah berselimut kelam. Ada ruang dalam tidur yang datang bersama indah. Kau dapat berpergian hingga ujung batas cakrawala. Di tepi ujung bumi dan rasa.”

Berlari masuk sang dewi kecil menjeput mimpi. Kembali sendirilah si pemuda, ia lihat dahan-dahan. Mana kacer pembawa doa bunda? Penghantar nyanyian dan kabar seberang sungai cinta? Ingin si pemuda menitipkan kecupan pita pelukan pada bunda. Melepaskan cerita rindu yang di tunda-tunda. Ceritakan Candradimuka yang bunda beritahu dulu padanya. Menitik bulir bening dari mata bundar Romo Semar. Ingatkah bunda pada pemuda yang pergi menentang nyawa meninggalkanya. Terpikir ia, suntuk semalam.

Saat matahari menjelang, saat kacer menceritakan kisah daun damar yang gemersik memetik gitar. Sang dewi hampir pada peraduan. Pemuda terbaring memandang lurus-lurus pada bayang yang datang.

“Panas nian tubuh, bagai beradu besi dengan bara. Apa pemuda lihat dan rasa?”

“Berat tangan terangkat, gelap mata memandang. Apa alamat kukur terbang saat kelam? Mungkin ingin ia sampaikan salamku pada khayangan?”

“Ahh, apa pemuda bicarakan. Apa hendak dewi perbuat dengan putri-putri yang berkepang? Siapa hendak ke khayangan? Bumilah tempat insan,”

“Jangan dipungkiri. Kacer pagi datang memberi rindu yang terpendam. Hati yang rindu sangat dapat terbang jauh melebihi langit. Dewa-dewa bercerita menyambut. Jangan gusar dinda, tetap kau akan dijaga.”

“Ahh, jangan kau berbicara tida guna. Tidak kah kau lihat padi menguning, sapi beranak, kamboja mewangi? Siapa hendak petik semua itu? Tak karena panas bersurut nyawa di badan. Ada seribu tabib dewa ciptakan. Nantikanlah sekejap,”

“Ahh, tidak perlu. Duduklah kau di situ jangan buang-buang tenaga pada hal yang tak berguna. Hendak berterima kasih aku. Biar tak pernah kujelang cakrawala tapi selalu kulihat indahnya dunia dari kaki bukit ini. Tak terkecapku rasa padi gurun, tapi nikmat nasi pada sangkumu menggemukan tubuh. Dewi-dewi tumbuh dengan subur, dia kelak penjagamu. Jika kau rindu, lihat kacer yang terbang pada ranting yang meliuk aku titipkan rasa padanya. Jangan menangis, kita hanya terpisah antrian kereta.” Penglihatan sang pemuda memudar. Ada kacer di depan matanya. Kacer-kacer itu mengajaknya terbang. Antara awan di atas lautan. Hingga ia melihat wajah bunda  yang lama ia tinggalkan. Tak lama. Biar ia peluk bunda yang terus berdoa untuknya.

“Kan kulanjutkan jalanku bunda. Cakrawala tetap tujuanku, telah datang kencana mengantarkanku,” bisiknya.      

About SUARA USU

Check Also

Panggil Jiwa itu Kembali

  Oleh : Thariq Ridho ”Gerangan apa yang terjadi padamu? Makhluk astral apakah yang telah …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *