Home / Resensi / Gambaran Feminisme dalam Sosok Wonder Woman

Gambaran Feminisme dalam Sosok Wonder Woman

Sumber Istimewa

 

Oleh: Vanisof Kristin Manalu

Judul : Wonder Woman
Sutradara : Patty Jenkins
Penulis Skenario : Allan Heinberg, Zack Snyder, Jason Fuchs, dan William Moulton Marston
Pemeran : Gal Gadot, Chris Pine, Connie Nielsen, Robin Wright, dan Elena Anaya
Rilis : Juni 2017
Durasi : 141 menit

“Saya akan berjuang, bagi mereka yang tidak bisa berjuang untuk diri mereka sendiri.” —Diana Prince.

Wonder Woman sangat familiar di telinga banyak insan. Tak kalah dengan para pahlawan superhero masa kini lainnya, banyak yang mengidolakan tokoh perempuan tangguh ini. Wonder Woman yang diperankan oleh aktris berdarah Israel, Gal Gadot, mampu memikat para penikmat film lewat aksinya.

Film ini berawal dengan Diana Prince yang tinggal bersama ibunya—ratu Amazon, dan para pengikutnya di sebuah pulau rahasia yang sengaja diciptakan oleh Dewa Zeus, ayahnya. Pulau Themyscira. Hal tersebut dilakukan agar anaknya terhindar dari dewa perang Ares (David Thewlis).

Tempat tinggal suku Amazon ini sepenuhnya terdiri dari para perempuan yang bertahun-tahun hidup damai di pulau tersebut. Hingga akhirnya Steve Trevor (Chris Pine) tak sengaja jatuh ke Themyscira saat mengendarai pesawat.

Sepakat membantu Steve kembali ke asalnya sekaligus menunjukan keberadaan Dewa Ares, Putri Diana meninggalkan istana. Ia ingin menjadi seorang pahlawan untuk membebaskan bangsa dari dewa perang.

Kisah Putri Diana sebagai perempuan dengan kehidupan baru di dunia yang sangat asing baginya pun dimulai. Dengan kepolosan dan ideologinya menyelamatkan manusia, ia bersama Steve membantu masyarakat yang tertindas, di mana perang dunia pertama—yang Diana pikir disebabkan oleh ulah Ares—kala itu sedang berkecamuk.

Sumber Istimewa

Beberapa kali pertentangan terjadi antara Steve dan Putri Diana sebab beda pemahaman. Namun Steve lebih memilih untuk mengalah hingga akhirnya ia lebih memilih mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan manusia.

Film ini digarap oleh seorang perempuan bernama Patty Jenkins. Patty boleh berbangga diri saat filmnya termasuk salah satu yang banyak ditonton oleh publik. Alur cerita yang ditampilkan sangat mengalir. Tidak tergesa-gesa. Terbukti saat putri Diana didongengi oleh sang ratu saat tidur, pun adegan antara Putri Diana dengan Steve. Sosok Gal Gadot sebagai putri Diana yang lugu dan naif mampu memikat para penikmat film.

Sosok putri Diana yang memiliki perisai, pedang, dan laso sangat dipuja-puja oleh pecinta dan penikmat film superhero. Dalam film ini karakter yang dimiliki oleh sang pemain sangat dapat. Keberanian yang dimiliki oleh Putri Diana sangat kuat untuk melawan kejahatan dan melawan nafsu batin meskipun ia adalah seorang perempuan.

Hal tersebut ia dapatkan dari keinginannya sendiri didukung oleh tindakannya yang nyata. Saat ibunya melarang, ia tetap berlatih. Dalam film ini sosok Gal Gadot yang kuat dapat membandingi kekuatan lelaki, bahkan melebihi. Sebagaimana di zaman sekarang ini feminisme sangat digaungkan, yaitu menuntut emansipasi atau kesamaan dan keadilan hak perempuan dengan pria.

Dalam film ini, Gal Gadot banyak memainkan peran dengan menunjukkan kekuatan fisik dan perasaan. Chris Pine saja tak banyak mengambil peran melawan kekuatan fisik. Tentu saja, karena film ini sangat menonjolkan Wonder Woman.

Keberanian yang dilakukan oleh Putri Diana saat melawan Ares, dewa perang, sangat menegangkan. Meski sempat termakan oleh hasutan Ares, Putri Diana yang memiliki kekuatan cinta mampu merasakan perasaan dari kekasihnya yang memilih menyelamatkan dunia dengan mengorbankan dirinya. Hingga akhirnya bukan hanya menonjolkan kekuatan fisik saat melawan Ares namun kekuatan cinta juga.

Sumber Istimewa

Banyak sekali pemahaman manusia saat ini hanya membedakan kaum laki-laki dengan perempuan sebatas kekuatan fisik dalam mengartikan feminisme. Padahal istilah yang dimulai pada 1890-an ini sebenarnya hanya dianggap sebagai lemparan akibat banyaknya masyarakat yang menggunakan hukum bersifat patriaki.

Kisah film ini sangat bagus dalam mengartikan sebuah feminisme. Feminisme dalam berbagai aliran, baik itu liberal, postkolonial, nordic, anarkis, dan lainnya. Tentu saja, sebab pencipta karakter Wonder Woman ini adalah William Moulton Marston, psikolog yang juga merupakan seorang feminis radikal.

Karakter perempuan tangguh ciptaan William ini pertama kali muncul dalam All Star Comics #8 terbitan DC Comics pada Oktober 1941. Maka, mungkin saja bila kini William masih hidup, ia akan sangat bangga karena tahun ini karakter ciptaannya berhasil digarap dengan sukses oleh seorang perempuan seperti Patty Jenkins.

About Portal Berita Pers Mahasiswa SUARA USU

Check Also

Julia Ducournau, Mulai Diperhitungkan Lewat Film Kanibalisme Raw

  Oleh: Dewi Annisa Putri Judul : Raw Sutradara : Julia Ducournau Penulis Skenario : …