Home / Opini / Game Online, Narkotika Berselimut Permainan

Game Online, Narkotika Berselimut Permainan

Sumber istimewa

 

Oleh: Surya Dua Artha Simanjuntak

Kamu mungkin senang ketika taktik jitumu bisa mengalahkan musuh. Namun tanpa kamu sadar, dirimu sendiri sedang terjebak dalam taktik si pembuat game online.

Bahagia itu sederhana. Ya, kamu mungkin sering mendengar kalimat singkat penuh makna tersebut. Kebahagiaan memang mudah dicari, apalagi bagi kids zaman now. Kemajuan teknologi abad modern membuat pola baru dalam kehidupan anak zaman sekarang, terutama dalam hal mencari kebahagiaan.

Jika mundur ke belasan tahun lalu, kamu mungkin akan kesulitan mencari anak kecil yang rela menghabiskan waktu berjam-jam di warung internet (warnet) atau anak sekolah yang sibuk bermain di gawai ponsel pintar atau smartphone saat guru menerangkan pelajaran. Namun sekarang ini, hal seperti itu lazim ditemukan. Ya, semua berkat game online.

Sejak kemunculannya, game online dapat diibaratkan seorang pangeran atau putri dari negeri dongeng, yang bisa langsung mencuri hati siapa saja yang melihatnya. Keasyikan dan keinstanannya, membuat game online menjadi primadona baru bagi anak kecil dan remaja. Ditambah lagi kemudahan akses yang diberikan berkat menjamurnya warnet dan gawai.

Di Indonesia sendiri perkembangan game online terbilang cukup pesat. Muncul pertama kali pada 2001 melalui Nexian Online, game online langsung menjadi pusat perhatian para pengusaha yang jeli melihat potensi pasar terbuka lebar. Terbukti, tak lama setelah itu, langsung ada setidaknya 20 judul game online beredar dengan berbagai genre.

Menurut Rhendie Arindra, Presiden Direktur PT. Nusantara Wahana Komunika, per tahun 2009 setidaknya dari 30 juta pengguna internet di Indonesia, terdapat 6 juta penikmat game online. Empat tahun berselang, jumlah itu meningkat tajam. Eva Mulawati, Managing Director PT. Megaxus Infotech, mengatakan ada lebih dari 25 juta penikmat game online di Indonesia per tahun 2013. Angka itu tentu membuktikan tren gaming sangat mudah menyebar dan menjangkit siapa saja. Layaknya virus zombie di film Resident Evil ataupun Dawn of the Dead.

Masalahnya, dari segala kenikmatan dan kebahagiaan yang diberikan, game online lebih banyak melahirkan dampak buruk daripada baik. Bagaimana tidak, seperti disinggung di awal tadi, karena game online seorang anak kecil yang seharusnya bermain permainan fisik dilapangan sekarang hanya menjadi penghangat bangku warnet. Para pelajar yang seharusnya fokus menerima pelajaran dari guru atau dosen jadi sibuk membungkuk menatap layar gawai. Ironis memang, namun itulah fakta yang terjadi di kehidupan abad modern ini.

Saya sendiri termasuk korban dari keganasan game online. Saat masih berseragam putih biru, saya adalah maniak dari game online Point Blank (PB). Demi dapat bermain PB di warnet, saya rela menahan lapar dan dahaga saat sekolah. Bahkan ketika tak punya uang sama sekali, saya sampai berani mencuri uang ibu saya. Untungnya, berkat bertambahnya usia, pola pikir juga semakin dewasa. Saya bisa menyadari dongeng yang selalu dikatakan Ibu ternyata benar dan akhirnya dapat melepaskan diri dari godaan maut game online tersebut.

Ya, game online memang adiktif. Layaknya narkotika, game online juga menimbulkan efek candu. Setelah kecanduan, efek negatif lainnya pun akan mengikuti. Mulai lupa waktu, menghabiskan banyak uang, pola makan terganggu, kurang tidur, dan mulai mencuri. Jika tak bisa menyikapinya dengan benar, game online akan menggerogoti dirimu secara perlahan.

Tak hanya itu, menurut studi yang dipimpin seorang peneliti psikologi, John Charlton dari University of Bolton, orang yang kecanduan game online memiliki ciri sama dengan orang yang kecanduan narkotika; emosi naik-turun, mudah cemas, dan kurang menghargai diri sendiri.

Bahkan jika sudah berada di tingkat parah, seorang pecandu game online berpotensi mengalami sindrom aspenger. Salah satu gejala autisme di mana para penderitanya memiliki kesulitan dalam berkomunikasi dengan lingkungan, sehingga kurang begitu diterima di masyarakat.

Dalam contoh kasus lainnya, game online juga dapat menyebabkan kematian. Ambil contoh demam Pokemon Go yang terjadi pada kuartal kedua 2016 lalu. Game online yang mengharuskan penggunanya mencari para pokemon di berbagai tempat ini menuai banyak polemik saat itu, salah satunya karena banyak korban berjatuhan, bahkan tak sedikit kehilangan nyawa.

Jika melihat semua dampak buruk yang ditimbulkan game online, saya jadi teringat lirik lagu band hardcore asal Amerika, Alesana. Pada lagu bertajuk Annabel, terdapat baris lirik, “the one you love is the one who’s killing you.” Ya, mungkin penggalan lirik tersebut dapat saya umpamakan sebagai lingkaran setan yang akan dialami pecandu game online.

Maka dari itu jangan heran jika suatu saat pemerintah akan mengkategorikan game online sebagai zat adiktif baru, yang patut diwaspadai. Sebab tentu secara tak langsung game online dapat membahayakan masa depan para generasi muda bangsa Indonesia.

Pada 2014 silam, Korea Selatan telah melakukan hal tersebut. Para anggota dewan sempat merancang undang-undang tentang kecanduan game online, namun karena ditentang banyak pihak, terutama para pelaku industri game, rancangan undang-undang tersebut akhirnya mandek di tengah jalan.

Jika melihat pada fungsi awal, sebenarnya tidak ada yang salah dengan game online. Ketika sedang jengah dengan hiruk pikuk dunia yang membosankan ini, bermain game online memang bisa jadi cara jitu me-refresh otak. Game online salah ketika kamu memainkannya secara berlebihan. Ingat, segala yang berlebihan itu tak baik.

Namun yang menjadi pertanyaan sekarang, bagaimana cara menghentikan kecanduan game online tersebut?

Cara pertama dan paling utama adalah bulatkan tekadmu untuk berhenti bermain game online. Jauhkan dirimu dari game online, cara yang paling ampuh adalah dengan membatalkan unduhan aplikasi game online dari segala perangkat gawai milikmu. Selanjutnya, isi waktu luang dengan berbagai kegiatan yang kamu minati, entah itu membaca, menulis, berolahraga, ataupun kegiatan positif lainnya.

Peran kerabat terdekat seperti orang tua juga sangat penting. Menetapkan peraturan ketat mengenai waktu pemakaian gawai haruslah dilakukan. Untuk anak yang sudah sempat kecanduan, coba berikan hadiah setiap kali dia bisa mengurai waktu bermain game online. Lama-kelamaan, niscaya sang anak akan dapat mengontrol waktu bermain game online dengan sendirinya.

Selain itu, peran sekolah—sebagai rumah kedua kebanyakan anak-anak dan remaja—juga tak kalah penting. Menanamkan sikap cinta permainan fisik dirasa perlu. Hal ini menjadi PR penting para guru olahraga.

Pemerintah pun harus lekas turut tangan. Membuat undang-undang tentang kecanduan game online—seperti yang sempat dirancang Korea Selatan—memang terkesan berlebihan dan akan mendapat pertentangan dari banyak pihak. Dalam hal ini, akan lebih baik jika pemerintah menggunakan taktik yang sama seperti yang mereka gunakan pada rokok, yaitu dengan menampilkan peringatan saat game online dibuka.

Coba bayangkan kamu membuka game online lalu muncul peringatan: “Bermain game online berlebihan dapat menyebabkan mata minus, kanker (kantong kering), tak punya teman nyata, dan tak punya pacar.” Ya, tentu kalimat tersebut hanya sebagai contoh dan dapat dirancang agar lebih persuasif. Namun, jika membaca hal seperti itu, tentu psikologis para remaja apalagi anak-anak setidaknya akan sedikit terpengaruh.

Jadi, akhir saran bagi para pecandu game online, ayolah konkawan, jangan hanya mencoba menjadi yang terbaik di dunia virtual saja. Cobalah menjadi yang terbaik di dunia nyata karena akan jauh lebih bermanfaat bagi dirimu dan orang lain.

About SUARA USU

Check Also

LGBT Juga Manusia

  Oleh : Yael Stefany Sinaga Mereka dikucilkan, dijauhi, diasingkan, dibatasi haknya, bahkan dianggap sebagai …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *