Home / Sosok / Ibnu Avena Matondang: Antropolog Juga Harus ‘Peka Zaman’

Ibnu Avena Matondang: Antropolog Juga Harus ‘Peka Zaman’

Oleh: Shahnaz A Yusuf

Waktu itu awal 2006. Ibnu menyiapkan segala peralatan yang diperlukan untuk dokumentasi. Saat itu, suatu hari di bulan Thai menurut hitungan Hindu, Ibnu akan mengamati perayaan tertinggi penganut Hindu, Maha Puja Thaipusam. Ia berniat mengikuti perayaan Thaipusam secara menyeluruh, sejak Jumat hingga Sabtu, dari pagi hingga larut malam.

Ia pun bergegas ke Binjai, menuju Kuil Shri Mariamman di Jalan Ahmad Yani. Proses demi proses diikutinya. Mulai dari masyarakat yang menyerahkan nazarnya dalam bentuk hasil bumi, berdoa, hingga acara hiburan seperti reog dan barongsai yang menggambarkan kerukunan dalam keberagaman yang terjalin di daerah tersebut. Semua direkam dalam memori kamera genggam.

Kegiatan ini akhirnya menjadi agenda wajib Ibnu hingga lima tahun selanjutnya. Tiap tahun, Ibnu tak pernah alpa mengikuti prosesi yang bermakna ‘kebaikan melawan kejahatan’ ini. Setiap kali perayaan ini berlangsung, Ibnu selalu merekam, menyempurnakan video yang sudah dia kumpulkan, hingga akhirnya lengkaplah tahap demi tahap acara Mahapuja Thaipusam ini pada 2011.

Kegigihan dan kesabaran menunggu momen tiba bertahun-tahun ini ternyata tak sia-sia. Februari lalu, film yang diberi judul Light of Life ini tayang perdana di Dusseldorf, Jerman. Lalu dilanjutkan di New York, Amerika Serikat. “Film ini tayang live via online,” ujar Ibnu. Alhasil, film ini ditonton oleh berbagai komunitas etnografer yang ada di berbagai belahan bumi.

Ketertarikan membuat film dokumenter tentang kebudayaan ini bermula saat Ibnu mengambil kelas antropologi visual saat berkuliah di Departemen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik USU. Dari sini, Ibnu berpikiran membuat skripsi yang berkaitan dengan antropologi visual.

Ibnu akhirnya membuat penelitian tentang gordang sambilan. Ia pun dibimbing Irwansyah, dosen tetap di Departemen Etnomusikologi Fakultas Ilmu Budaya USU yang memang menggeluti bidang ini. “Dia tantang saya untuk bikin filmnya juga,” kenang Ibnu.

Jadilah film etnografi pertama yang dibuat Ibnu. Ia beri judul sesuai apa yang diangkatnya, Gordang Sambilan. Film pertama yang dibuat Ibnu juga merupakan film pertama yang dibuat mahasiswa antropologi sejak jurusan antropologi dibentuk di USU. Terlebih sebagai bahan pelengkap skripsi.

Membuat film etnografi sebenarnya sudah awam dilakukan oleh antropolog maupun etnografer di luar Medan. Namun di Medan, belum banyak yang berani atau berminat untuk melakukan hal serupa. “Paradigma antropolog yang senior, masih berfokus pada tulisan,” Ibnu menyayangkan. Padahal, menurut Ibnu, ada cara yang lebih menarik dan sesuai dengan perkembangan teknologi.

Menurut Ibnu, budaya yang ada pada suatu masyarakat akan sangat menarik saat orang lain bisa menyaksikan langsung. “Kalau tulisan, banyak imajinasi sendiri. Imajinasi orang pun beda-beda,” Ibnu membandingkan.

Ibnu ingin sekali mengubah paradigma para antropolog yang selama ini fokus pada deskripsi tulisan menjadi deskripsi visual. Ia heran mengapa tetap mempertahankan cara konvensional, padahal sudah ada cara kontemporer yang bisa jadi solusi. Satu hal yang diucap Ibnu, “Antropolog juga harus ‘peka zaman’.”

Check Also

Brintik, Keriting, Nyeleneh Pula

Oleh:  Dewi Annisa Putri Gitar pertamanya didapat semasih SMP, dibelikan Ayah. Musik jadi hal yang …