Home / Cerpen / Jerit Jeruji

Jerit Jeruji

Ilustrasi: Surya Dua Artha Simanjuntak

 

Oleh: Adinda Zahra Noviyanti

Dalam hati berkata mau jika di kotak keji ini kukemanakan telapak kaki ini. Ke atas ada kepala. Bawah ada wajah. Kanan ada dada. Baiklah, kiri ada bokong pemuda yang  mengaku wartawan asal kampus kecil di Kota Medan.

Oh. Babi. Membabi buta. Buta. Buat mereka itu biasa. Bisa saja karena kuasa. Asanya menceritakan kisah. ku mulai bercerita padanya. Kira-kira seperti ini:

Waktunya pun sedikit panjang. Hampir 2×24 jam. Mereka terlihat tak kantuk malah tertawa riang untuk pastikan suaranya didengar. Aku pun sama, demi tulisanku dibaca harus diguncang kuntilanak tengah malam. Tak masalah asal dibaca.

Udah-udah bubar, klen buat macet,” teriak pria berjanggut sambil pegang kunci becak motornya.

Kemarahan kulihat dari wajah pemuda-pemuda yang merasa pembela si pria berjanggut. Riuh suasana tak urung buatku takut. Aku semakin mendekat tak peduli sindiran orang tua tentang kewanitaanku. Kenapa memangnya kalau aku seorang gadis?

Indra penglihatanku terus mengamati. Kanan, kiri, belakang, depan tak luput dari mata dan telinga. Tahu-tahu ada yang penting. Ternyata semua penting. Setiap sudutnya penting. Sampai-sampai bukan semua yang kudapati melainkan sebagian.

Dari belakang terdengar teriakan sambil lari. “Wee.. wee jangan terpancing emosi. Rakyat bukan musuh itu alasan kita di sini.”

Belum sempat puas mengamati, kantor sudah menjerit. Katanya dia membutuhkan otakku dan otak Windah. Dia rekanku bekerja. Semua harus kami amati bersama.

Untung selalu setia mengantarkan kami ke mana pun. Meski sesekali memaki karena berat kami semakin bertambah katanya. Untungnya si Untung hanya minta minum saja tidak makan. Aplikasi beruang sudah menjerit-jerit. Kami diperintahkan cepat dilarang terlambat bahkan sedetik.

Si Untung lagi sehat dibawa kebut-kebutan. Bahkan, angkot Medan saja kalah kubuat. Bayangkanlah sudah seperi Valentino Rossi aku.

“Kau tau bapak itu ngomong apa tadi di sana?” sembari mengarahkan telunjuknya kepada pria berseragam hijau.

“Enggak, ngomong sama siapa?”

“Dia suruh bapak bentor tadi bubarkan anak-anak itu udah lama kali katanya orang itu di situ, makanya langsung didatangi bapak orang itu tadi,” katanya tanpa kutau raut muka.

“Terus kau diam aja nengok?”

“Enggak mungkin kucaci.”

Seperti tak ada cara lain untuk memberitahu tanpa perantara atau sudah tak didengar lagi. Bagaimana bisa Bapak tak didengar? Kan Bapak yang ayomi.

“Jangan kau tulis dulu, kita tak ada bukti tentang itu.”

“Tapi ada fakta sosiologis dan fakta psikologis?”

“Kalau ditanya bukti kau tunjukkan apa?”

Udah, cepat terlambat sikit disemprot kita nanti, malu lah,” kataku menghentikan pembicaraan mengindari buyar konsentrasi Windah berkendara.

Tak sampai 24 jam kudengar beberapa mahasiswa ditahan karena pukul pemuda lain bukan berstatus mahasiswa. Polisi. Barang ampuh yang biasa dibawa pun tak kelihatan.

Lagi-lagi aku dan Windah diharusnya tak tidur tengah malam. Ada mahasiswa yang dibawa cukup jauh ke rumah para penjahat kataku dulu saat kanak-kanak. Kini aku tak tahu benarkah semua yang di sana penjahat. Sekitar 15 menit jika tempuh tengah malam. Ah.. Memang waktu yang melelahkan tapi aku jadi tahu.

Selama dua minggu suasana memanas. Beberapa manusia, kelompok, menentang. Mereka turun kejalan, bawa spanduk, tawa toa, dengan tubuh dicorat-coret merah-merah seperti berdarah-darah. Tak luput olehku teriakan, “Bebaskan!”

Pria gondrong sempat bertanya “Pak, apakah pembubaran massa boleh dengan kekerasan?”

“Boleh, jika melakukan perlawanan. Bisa saja dia lakukan yang tidak-tidak.”

Pria gondrong tak lanjutkan. Hanya senyuman sinis yang kulihat. Dari senyumnya aku malah berpikir mungkin bayangannya sedang berpijak pada Peraturan Kapolri. Mungkin Si Bapak lupa sekali.

Mereka bisa jadi tak sepenuhnya benar. Ada juga yang dilanggar memang. Aku turut ikut serta dalam pertemuan. Berharap tahu segala perjalanan cerita kebenaran.

Kulihat mereka sudah mulai bosan. Bukan untuk berhenti dan seolah tak ada yang terjadi. Rasa secepatnya menyelesaikan terdengar dari tatapan mata setiap orangnya.

“Kita tak perlu seperti pakar hukum yang terus-terus bicara hukum di sini,” ucap seorang yang entah siapa namanya dari salah satu kampus.

Ya, bukan pakar hukum memang. Tapi pemuda dibiasakan untuk berpikir menganalisis meski kadang tak sama porsi baiknya. Aku pun pernah di ajarkan seperti itu.  Nada suaranya terlihat berderu-deru kesal mendengar opini berbanding darinya. Semua peraturan dikesampingkan seolah tak berkeperluan.

Suatu kali aku sarankan untuk tidak berpir gegabah. Namun, mereka tetap menyalahkan. Aku hanya memberi saran. Lagi-lagi aku ingat dengan kalimat Soe Hok Gie “Lebih baik aku dikucilkan ketimbang harus mengalah pada kemunafikan”

Bantahanku soal peraturan surat demontrasi membuat beberapa orang terlihat kesal. Kupilih untuk keluar bukan untuk mengalah pada kemunafikan tapi membiarkan mereka berpikir tenang.

Aku memilih keluar. Windah juga keluar. Windah langsung mengekuarkan cerocosnya, “Apa yang salah dari demontrasi?” sambil mengajakku kembali ke kantor.

“Tak ada jika ikuti aturan yang ada, mereka butuh penguat demontrasi. Surat Pemberitahuan seperti dalam Peraturan Kapolri. Tak bisa sesuka hati,” sahut salah satu teman kampus, Indra namanya.

“Apa kau lihat aparat itu ngikuti hukum semua? Enggak kan? Ya sudahlah.”

“Benar ya sudahlah. Kita akan sama pelanggar hukumnya dengan mereka, orang-orang yang meneriakkan kebenaran, orang yang meneriakkan kebencian terhadap penindasan. Baik, lalukanlah, hanya aku akan tetap tulis yang kebenarannya terjadi, karna itu yang dididik oleh kantorku dulu dan sekarang.”

Semua sudah sepertinya sudah salah. Semua ingin membutakan diri atas hukum.

“Lantas kita harus apa?”

“Benar, untuk kita tulis saja, jika ucapan tak lagi didengar dengan baik dalam keadaan panas. Suatu saat jika sudah dingin mereka akan berpikir dengan sendirinya dan sedar sendiri tak semua yang dilakukan dapat dibenarkan,” jawab seorang tua yang namanya sering kulihat di salah satu media besar.

Cerita lantas berakhir saat seorang polisi memanggil namanya. Polisi bilang waktunya telah habis. Ia harus kembali ke balik jeruji. Tiba-tiba dia tersenyum kecil dan berbisik

“Awalnya aku ingin belajar sepertimu, menjadi ideal, menjadi seperti wartawan hebat yang tak kenal takut di luar sana. Namun aku dijebloskan ke sini. Ya ini juga belajar. Kau mau mencoba belajar di sini. Waktumu akan lebih banyak untuk membaca, menulis, maupun bersenggama di dalam sini, Kau akan lihat bukti kata-kata seniormu soal kekejaman aparat di sini. Cobalah!.”

Ia lanjutkan dengan kata tapi. Aku akan sedikit menderita di sini. Sedikit terjangan, tinjuan, makian, hinaan selayaknya kriminal. Dianggap kriminal karena belajar. Seperti pria asal Maluku Utara yang merenggang nyawa karena terjangan dan tinjuan sepertinya oleh makhluk yang katanya penjaga keamanan negara.

Aku lantas termanggu. Bagaimana aku yang diposisinya. Hanya karena ingin belajar dipenjarakan.

Ngapain kau masih di situ, masuk. Eh kau perempuan, keluar kau nanti diterkamnya kau!” teriak lelaki pemilik jeruji.

About SUARA USU

Check Also

Petuah

  Oleh : Yael Stefany Sinaga “….tenanglah akan tiba saatnya. Ujarkan terus karena ini petuah,” …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *