Home / Mahasiswa / Kata Kita / Kata Mahasiswa Tentang Harga Rokok Naik

Kata Mahasiswa Tentang Harga Rokok Naik

Oleh: Rahmad Alfiansyah Sinurat

Wacana kenaikan harga rokok kian ramai diperbincangkan di media sosial. Murahnya harga rokok menjadi penyebab tingginya jumlah perokok di Indonesia. Baik masyarakat kalangan menengah ke bawah, hingga anak sekolah.

Indonesia tercatat sebagai negara dengan konsumsi rokok tertinggi menurut The Tobacco Atlas pada 2015. Sekitar 67 persen penduduk Indonesia, laki-laki dan perempuan dewasa adalah perokok.

Didukung dengan harga rokok yang tergolong sangat murah menjadikan keadiktifan perokok sulit dihentikan. Apalagi, rokok di Indonesia bisa dibeli tanpa label cukai, atau bahasa lainnya dijual ‘ketengan`.

Imbasnya bukan sekadar pada masalah kesehatan perorangan saja, melainkan peningkatan angka kematian, hingga pembengkakan biaya yang dikeluarkan oleh negara untuk mengobati para perokok dan individu yang terkena dampak dari rokok.

Rokok membuat angka Penyakit Tidak Menular (PTM) di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya. Beban ganda kini dirasakan oleh Kementerian Kesehatan dalam menurunkan angka peningkatan Penyakit Menular (PM) dan PTM.

Putra Batara Paras – Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam 2015

Saya setuju dengan kenaikan harga rokok tesebut karena dari segi kesehatan sudah tidak baik. Sangat mengganggu di tempat umum dan membuat yang tidak merokok juga terkena imbas asapnya. Kenaikan harga rokok juga berdampak sangat positif terhadap dunia pendidikan, khususnya mahasiswa. Harapan saya kembali kepada pribadi masing-masing mahasiswa, kalau mau hidup sehat seharusnya memikirkan kembali dampak rokok.

 

 

Muhammad Safri Munir – Fakultas Keperawatan 2014

Pendapatan terbesar Indonesia dari tembakau. Jika haga rokok naik, dana pendapatan harus dibagian rata kepada masyarakat khususnya petani. Selain penaikan harga, kesadaran dari diri sendiri adalah kunci utamanya. Kebijakan ini memang merupakan suatu kesempatan mengurangi konsumsi rokok bagi mahasiswa. Namun masih banyak cara untuk menurunkan perokok di Indonesia, mislnya dengan menerapkan kawasan tanpa rokok di setiap lembaga pendidikan. Pun cara mengurangi pemakaian rokok perlahan-lahan misalnya mengurangi porsi merokok perlahan hingga berhenti.

 

Terry – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik 2013

Saya kurang sepakat dengan kebijakan ini. Sebab Indonesia memiliki kualitas tembakau yang sangat unggul di mancanegara. Ketika harga rokok dinaikkan, otomatis daya beli terhadap tembakau petani akan mengalami kesulitan berupa peningkatan harga jual yang tidak terjangkau oleh masyarakat. Pemerintah seharusnya juga memikirkan masyarakat kecil. Meski harga rokok tidak dinaikkan, solusi yang harus dikerjakan di dalam area kampus misalnya dengan menerapkan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) agar dapat membatasi dan menanggulangi penyakit yang disebabkan oleh asap rokok sendiri.

 

Fachri Husaini – Fakultas Hukum 2014

Saya sepakat dengan kebijakan ini karena dari segi hukum ini merupakan hal yang positif. Selain menghemat pengeluaran dan juga menjaga kesehatan bagi mahasiswa, secara perlahan kita harus menerapkan kawasan tanpa rokok di area khusus kampus. Hal ini merupakan tindakan nyata mahasiswa untuk dapat berhenti merokok apabila harga rokok dinaikkan pemerintah.

 

Ulina Fransiska Manurung – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik 2015

Seharusnya kebijakan ini digodok kembali oleh pemerintah sebelum diterapkan. Sebab berpengaruh sangat besar terhadap Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) Indonesia. Pun hal ini mempengaruhi penghasilan masyarakat, petani maupun pedagang. Apabila harga rokok naik, maka dampaknya akan dirasakan perokok. Selain itu, kesenjangan sosial juga akan terjadi apabila harga rokok jadi naik.

 

Zoga Pratantia Tohari – Fakultas Kedokteran 2015

Penyebab terjadinya komplikasi jantung, impotensi, paru-paru, serta gangguan janin pada ibu mengandung merupakan jenis penyakit yang disebabkan oleh rokok. Ketika pemerintah membuat suatu kebijakan mengenai kenaikan harga rokok maka saya sendiri sangat setuju dengan adanya isu tersebut. Namun, para petani tembakau serta pedagang rokok akan mengalami kesulitan ekonomi dari segi mata pencaharian bila harga rokok dinaikkan. Harapan saya untuk selruh mahasiswa sebaiknya mengurangi mengonsumsi rokok secara perlahan-lahan dan menerapkan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di areal pendidikan khususnya di setiap fakultas maupun sekolah-sekolah di Indonesia.

About Portal Berita Pers Mahasiswa SUARA USU

Check Also

Sudah Efektifkah Sistem Buka-Tutup Pintu USU?

Oleh: Vanisof Kristin Manalu Di USU, hampir setiap minggu selalu ada laporan pencurian sepeda motor …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *