Home / RAGAM / Jalan-jalan / Kisah Wanita di Desa Perajin Purun

Kisah Wanita di Desa Perajin Purun

Oleh: Yulien Lovenny Ester Gultom

Beberapa ibu menggilas purun di tepi jalan raya, (20/9). | Yulien Lovenny Ester Gultom
Beberapa ibu menggilas purun di tepi jalan raya, (20/9). | Yulien Lovenny Ester Gultom

Tikar purun. Purun bahan baku utamanya, wanita dibalik prosesnya. Pembuatannya cukup mengancam nyawa.

Siang itu cukup terik, aku dan Arman mendapat penugasan mengambil gambar wanita-wanita tangguh asal Sei Rampah Perbaungan untuk mengabadikan proses pembuatan tikar purun hasil buatan mereka.

Tak jauh dari Kota Medan, tepatnya dari Simpang Pos kami hanya butuh waktu 1,5 jam menuju desa tujuan kami. Ekspedisi pun dimulai. Setelah membayar sekitar Rp 15 ribu untuk angkot, kami bergerak menuju Perbaungan, Desa Suka Beras.

Berbekal informasi dari warga setempat dan beberapa kali nyasar. Akhirnya, kami berhasil menemukan desa tersebut. Lokasinya dekat Pasar Bengkel, tempat dodol bengkel yang terkenal di daerah Tebing Tinggi.

Sebuah papan besi putih yang mulai berkarat bertuliskan Desa Suka Beras menjadi petunjuk akhir kami. Tak ada rasa ragu, kami masuk ke dalam. Tapi aneh, hanya rumah-rumah penduduk dan sebuah bengkel tua yang ada. Tak tampak sama sekali ada penduduk yang sedang mengayam Purun.

Penasaran kami bergerak masuk lebih jauh. Desa masih kosong, saking jauhnya kami masuk ke areal persawahan dan peternakan bebek. Orang-orang yang lewat melihat kami heran. Bertanya menjadi pilihan efektif saat itu.

Desa ini dikenal sebagai desa perajin purun karena sebagian besar ibu-ibu di sini bekerja sebagai perajin tikar purun. Sementara bapak-bapak bekerja di sawah, ibu-ibu ini mengayam di halaman rumah.

Hamida menumpuk purun yang sudah dijemur dan siap untuk digilas, (20/9).| Yulien Lovenny Ester Gultom
Hamida menumpuk purun yang sudah dijemur dan siap untuk digilas, (20/9).| Yulien Lovenny Ester Gultom

Purun adalah sejenis tumbuhan yang hidup di rawa-rawa mirip seperti bambu, ia berongga tapi ukurannya kecil, diameternya sekitar setengah sentimeter mirip ilalang. Tumbuhan ini dipakai sebagai bahan baku pembuatan tikar. Tikar purun begitu mereka menyebutnya.

Hamida, seorang perajin tikar Purun, usianya kini hampir 40 tahun sudah sejak usia 15 tahun ia mulai mengayam. Ia sudah terlatih. Hamida bercerita ia dan keluarganya dulu menanam tumbuhan purun, tapi kini tak lagi sebab banyak yang mengambil tumbuhan ini secara besar-besaran untuk dijual lagi.

Hari ini, ketika kami datang, tak tampak lagi proses pemotongan Purun di Sawah. Proses penjemuran juga sudah dilakukan seminggu lalu. Secara umum, proses ideal pembuatan tikar purun adalah pemotongan, penjemuran, dan yang khas dari pembuatan tikar purun adalah proses penggilasan, menggunakan truk dan terakhir penganyaman.

Hal inilah yang dilakukan Hamida, salah satu ibu-ibu yang bekerja sebagai perajin. Saat kami datang Hamida sedang menganyam tikar purun. Melihat kedatangan kami yang akan memotret kegiatannya sebagai tugas. Ia mengizinkan kami untuk memotret seluruh proses pembuatan tikar purun.

Hamida tak lagi menunjukkan proses penjemuran sebab beberapa waktu lalu ia bersama ibu-ibu lain di desa itu sudah menjemur. Proses penjemuran ini dilakukan karena batang Purun cenderung berair, untuk mendapatkan anyaman sempurna maka batang Purun harus kering sebab tikar yang kering lebih mudah dibentuk.

Untuk mendapatkan Purun, mereka membelinya dari pengepul sebab lahan sudah tak ada lagi. “Kami beli 165 ribu, sudah banyak, biasanya dengan uang segitu kami bisa buat tujuh sampai sembilan tikar,” ujar Bu Hamida.

Purun setelah selesai dijemur, (20/9).| Yulien Lovenny Ester Gultom
Purun setelah selesai dijemur, (20/9).| Yulien Lovenny Ester Gultom

Purun yang telah dikeringkan ditumbuk untuk membuat teksturnya lebih gepeng dan lunak, dengan sebuah alu sepanjang satu setengan meter, ia menumbuk. Usianya yang sudah tua tak jadi penghalang untuk menurunkan semangatnya.

Pukul 18.00 WIB, Hamida sudah selesai menumbuk Purun, Kini perjuangan lain harus dilakukan. Tak Hamida seorang, sekumpulan ibu-ibu paruh baya menenteng Purun yang siap ditumbuk, sebagian dibantu suaminya mengantar menggunakan sepeda. Sedang yang lain menjinjingnya di atas kepala. Tujuannya jalan raya.

Ban-ban besar melintas, debu mulai berterbangan menusuk mata. Perih dan membuat mata merah. Inilah aksi mereka tanpa rasa takut Hamida dan beberapa ibu-ibu lainnya melempar purun yang tadi sore kami tumbuk ke jalan raya.

Truk-truk besar menghampiri. Ban-ban raksasa mulai menggilas purun yang diletakkan di jalan raya. Debu jalanan terhempas mengenai wajah. Tanpa masker. Baju daster menjadi masker untuk menutupi hidung dan mulut mereka. Tanpa alat pelindung.

Purun yang kering sehabis dijemur tadi sudah gepeng tanda sudah siap dianyam. Hamida beruntung tak ada masalah saat penggilasan. Pernah waktu ia sedang meletakkan Purun di atas jalan raya, purun tersangkut di roda sepeda motor dan menimbulkan kecelakaan.

Sejam menggilas, Hamida lelah, usia memang tak pernah bohong, ia pun kembali beristirahat. Siap untuk menganyam kembali esok. Tikar Purun yang akan dijualnya seharga dua puluh ribu.

About Portal Berita Pers Mahasiswa SUARA USU

Check Also

Kawa Daun, Uniknya Sensasi Menyeduh Daun Kopi

Oleh: Dewi Annisa Putri Anda pecinta kopi? Pernah merasakan sensasi minuman ini yang bukan dibuat …