Home / RAGAM / Jalan-jalan / Kolam Abadi, Rupa Amerta

Kolam Abadi, Rupa Amerta

Sumber Istimewa

Oleh:  Dewi Annisa Putri

Benar layak, wingitnya alam membayar lunas lelah.

“Arah sini, Kak,” tuntun abg dua belas tahun ke rombongan.

Ully Panjaitan, masih 2 SMP, bertugas sebagai penunjuk arah menuju Kolam Abadi pagi akhir pekan itu. Sudah setahun ia menjadi guide menuju objek wisata air di Desa Galuh, Kecamatan Sungai Bingai, Kabupaten Langkat yang tenar beberapa tahun belakangan.

“Di sekolah saya masuk siang, jadi kalau pagi biasanya ngeguide dulu,” kata Ully menjawab kecurigaan rombongan yang mengiranya tidak sekolah.

Kolam Abadi dan beberapa objek wisata air lain di desa itu populer dengan sebutan Pelaruga. Dinamai sesuai nama komunitas pecinta alam yang menggawangi tempat-tempat itu saat pertama kali dibuka 2012 lalu.

Selain Kolam Abadi, ada juga; Air Terjun Tongkat; Air Terjun Teroh-teroh; dan Air Terjun Lauberte. Pengunjung bisa ‘nganyut’ dari Kolam Abadi lalu sampai ke Teroh-teroh dan berakhir di aliran Sungai Lauberte. Sementara Air Terjun Tongkat berada di aliran sungai berbeda.

Dari pos penjaga pertama hanya butuh sekitar 45 menit berjalan kaki ke kolam. Tetapi, perjalanan naik turun cukup membuat beberapa pengunjung yang merokok akan kehabisan napas.

“Masih lama, Dik?” tanya salah seorang pengunjung lelah kehabisan napas, walau bukan perokok.

“Sebentar lagi, Kak,” jawab Ully menyemangati. Saya sadar dia bohong setelah sampai dan tahu berapa jauh lagi jarak yang harus ditempuh.

Selama perjalanan, pengunjung akan melewati kebun-kebun warga yang mayoritasnya petani. Mulai dari sawit, karet, jagung juga beberapa palawija lain. Pagi saat mulai tracking, tanah sudah basah walau tidak hujan. Basah karena ibun tanah yang resap dari malam ke subuh. Kaki pengunjung sering terpeleset dibuatnya.

Di perjalanan, Ully enggan banyak bicara, hanya sebentar-sebentar berhenti menunggu pengunjung yang ketinggalan. Ketinggalan di kebun sawit, kebun karet, lalu untungnya sempat mengejar saat di kebun jagung.

Bebauan buah-buah jengkol yang gugur dari pohonnya ditambah satu kali lagi jurang yang menurun curam, menjadi tanda sampai di Kolam Abadi yang aslinya ternyata sungai.

Sumber Istimewa

“Capek, Kak?” tanya Boru Panjaitan.

Seorang pengunjung sudah bengong sambil menciduk air sungai dengan tangan lalu meminumnya, sebelum seorang temannya yang lain mengeluarkan air mineral dari tas. Jernihnya air sungai tidak membuat pengunjung menyesal meminumnya ketimbang air kemasan.

Batu-batu sungai yang kecil kesat, dan yang besar-besar agak berlumut, memadu aliran air sungai berarus di dasar jurang yang masih perawan ditumbuhi pepohonan hijau di pinggirannya. Panorama itu menjadi paket yang disuguhkan Kolam Abadi untuk memanjakan mata sehingga tak perlu lagi menjawab pertanyaan Ully. Cukup, wingitnya alam membuat lelah terbayar lunas.

Beberapa pengunjung langsung nyebur dari tebing batu berketinggian satu sampai dua meter ke kedalaman sungai kurang lebih dua hingga tiga meter. Sebagiannya buru-buru naik lagi, menggigil kedinginan air sungai. Satu dua pengunjung malah tidak berani menyentuh air dan memilih untuk berfoto saja.

Brrr, airnya segar kali,” ujar Andrea Simon, salah seorang pengunjung, sambil menenggelamkan setengah badannya ke air. Simon sengaja datang karena penasaran dengan objek wisata yang acap kali dibicangkan di kampus. Beberapa kelompok pecinta alam dari kampus bahkan sudah sempat bekerja sama membantu warga untuk membuat jalur tracking.

“Dinamakan Kolam Abadi karena airnya yang jernih dari dulu,” terang Darmawan Sinulingga, Ketua Guide Pemandian Alam Lingga, yang beranggotakan sepuluh orang termasuk Ully. Sudah lima tahun ia mengelola bisnis perjalanan menuju objek wisata Pelaruga.

Pengunjung dikenai biaya guide sebesar Rp25.000 tergantung jumlah rombongan. Biasanya pengunjung akan ramai di akhir pekan. “Bisa sampai seratusan orang kalau datangnya rombongan dari Medan atau luar kota,” ujarnya.

Sumber Istimewa

Lingga hanya menyayangkan karena tidak ada bantuan dari pemerintah untuk memudahkan akses ke objek wisata itu. Ditambah fasilitas yang ada juga masih belum maksimal. Hanya toilet dan tong sampah, itu pun belum di semua tempat.

Lingga dan teman-temannya sempat mencoba minta bantuan fasilitas pada pemerintah. Namun, belum direspons baik ketika dicoba pada 2014 lalu. Apalagi, sekarang jumlah pengunjung mulai ramai. “Kalau fasilitasnya jelek terus, pengunjung nanti akan berkurang,” tambahnya.

Menurut Simon, pengelola perlu memperingatkan pengunjung agar membawa sampahnya pulang, alih-alih membuang sampah tak pada tempatnya. Di kolam abadi sendiri, banyak sampah berserakan di sela-sela batunya.

“Bila perlu takut-takuti saja dengan mitos setempat biar pengunjung mau tertib,” tambah mahasiswa Teknik Elektro USU itu.

Sebaliknya, Simon cukup salut dengan rombongan yang mengumpulkan sampah milik pengunjung sebelumnya. Harapannya, ada tempat membuang sampah di tempat-tempat pariwisata seperti Pelaruga ini.

“Sayanglah, alamnya sudah cantik tapi dikotori sama sampah,” tutup Simon semasih tidak lupa dengan penampakan jelita yang baru saja disua sambil membuntunti Ully naik ke atas berjalan pulang.

About SUARA USU

Check Also

GWK Cultural Park, Mahakaryanya Si Pulau Surga

  Oleh: Suratman Diukir di tempat yang dulunya bekas tambang batu kapur, kini tak ubahnya …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *