Home / Resensi / Komunis dalam Mata Gadis Kamboja

Komunis dalam Mata Gadis Kamboja

Sareum Srey Moch | Sumber Istimewa

Oleh: Adinda Zahra Noviyanti

Judul : First They Killed My Father: A Daughter Of Combodia Remembers
Sutradara : Angelina Jolie
Penulis Skenario : Loung Ung
Pemeran : Sareum Srey Moch, Phoeung Kompheak, Sveng Socheata, Mun Kimhak, Heng Dara, dan Khoun Sothea
Rilis : September 2017
Genre : Biografi, Drama, Sejarah
Durasi : 136 menit

 

Pandangan seorang anak pada Partai Komunis Komboja. Secara jelas dilihatnya Ayah terbunuh.

Usianya masih belia sekitar 10 tahun. Loung Ung mungkin masih tak mengerti kotanya, Phnom Penh, telah jatuh ke tangan Khmer Merah. Hingga hari ke tiga meninggalkan rumah, Loung masih tidak mengetahui ia dan keluarga akan dibawa ke mana oleh Angkar Padeval—sebutan pemerintahan pada masa kepemimpinan Partai Komunis Kamboja.

Loung tak sadar sudah sama miskin dengan keluarga ayahnya yang lain. Satu-satunya barang pribadi yang dimiliki adalah baju di tubuh yang diwarnai buah berry. Seluruh barang dikumpul untuk Angkar.

Sebelumnya terbiasa hidup bahagia bersama keluarga, gadis ini diharuskan merasakan hal sama dengan warga miskin lain. Hal tersebut dikatakan sama rasa sama rata oleh para pejabat partai komunis. Mereka tak mengakui barang kepemilikan pribadi.

Pada masa itu, penerapan ideologi komunis dari Marxisme-Leninisme oleh Pol Pot mengharuskan masyarakat Phnom Penh menyerahkan seluruh barang pribadi. Kehidupan dijalankan dengan sistem agraria serta kolektif. Ia meniadakan kepemilikan pribadi.

Kisah nyata dari gadis Kamboja, Loung Ung—penulis skenario, yang sempat merasakan kekuasaan Khmer Merah dipimpin Pol Pot pada 1975 hingga 1979. Film ini diangkat Angelina Jolie dari buku dengan judul sama ditulis Loung Ung yang memperlihatkan bagaimana seorang anak di wilayah konflik sudah terbiasa dengan darah.

Sumber Istimewa

Kamboja mengalami berkali-kali pergantian tampuk kekuasaan setelah merdeka 9 November 1953 dari Prancis. Mulai Naradom Suramarit hingga sekarang dipimpin oleh Norodom Sihamoni. Masa keuasaan Pol Pot bisa dikatakan paling menjadi sorotan.

Pada masa berkuasa, ia membantai seluruh orang yang dianggap pernah punya kaitan dengan pemerintahan sebelumnya. Pembantaian dilakukan di beberapa lokasi seperti tahanan yang kerap disebut penjara S1. Tujuannya tidak lain untuk menghindari pergerakan pihak yang bertentangan dengannya.

Pol Hot membentuk sistem pemerintahan mandiri. Akses kepada pihak luar ditutup rapat. Sejak 1975 hingga 1979, diperkirakan 25 persen penduduk kamboja meninggal karena kekurangan gizi, pembunuhan massal, dan kerja paksa.

Angeliana Jolie, Loung Ung, Rithy Panh di sebuah acara untuk First They Killed My Father: A Daughter Of Combodia Remembers | Sumber Istimewa

Jolie mencari pemeran tokoh utama di berbagai panti asuhan, sirkus, dan sekolah-sekolah kumuh. Ia bahkan sempat dikecam netizen karena caranya dianggap merupakan permainan psikologis yang kejam bagi anak-anak.

Jolie melihat emosi calon pemeran dengan memantau apa yang dilalukan anak-anak tersebut jika uang yang diberikan kepada mereka diambil kembali. Pada saat itu, Sareum Srey Moch menarik perhatiannya karena menjadi satu-satunya anak karena melihat uang yang diambil tersebut lama-lama. Lalu Srey mengatakan uang itu akan digunakan untuk pengobatan kakeknya yang tengah sakit.

Meski dikecam, Jolie menampik telah mempermaikan anak-anak Kamboja yang mengikuti casting. Dalam artikel Variety, Jolie menyampaiakan cara yang ia terapkan hanya untuk melatih improvisasi dari sebuah adegan film tersebut.

Dari casting tersebut, ia berhasil mendapat tokoh utama yang bisa diacungi jempol. Memerankan Loung Ung, Srey mampu mengekspresikan kebingungannya terhadap apa yang terjadi dengan kotanya.

Film terbesar yang diproduksi di Kamboja hanya dalam waktu enam puluh hari ini mampu menciptakan ketegangan pemirsa lewat ranjau-ranjau yang ditanam sendiri oleh Khmer Merah. Angelina Jolie tidak segan mempertunjukkan adegan pemukulan sadis yang dilakukan Khmer Merah.

Namun, karena film ini mengambil sudut pandang secara keseluruhan dari gadis kecil, sama sekali tidak diberikan ruang bagi Khmer Merah untuk menunjukkan kenapa mereka membentuk kelompok komunis. Walhasil gambaran yang terlihat hanyalah kekejaman Khmer Merah terlebih terhadap mantan aparat pemerintahan. Kalau di Indonesia mungkin dibilang sebagai propaganda pemerintah terhadap partai komunis, seperti kemunculan film Jagal dan Senyap.

Meski terbilang baru, film ini telah memperolah tiga penghargaan. Kamerawan Anthony Dod Mantle memperoleh Bronze Frog Main Competition dalam Camerimage 2017. Sementara Jolie dan Loung memenangkan kategori Foreign Language Film of the Year dalam Hallywood Film Awards. Dalam National Board og Review, USA 2017, film ini juga mampu menyabet kategori Freedom of Expression Awards.

Tak hanya itu, film yang memakan biaya sekitar 24 juta dolar ini juga mendapat dua nominasi. Nominasi dalam Golden Frog Main Competitin diperoleh Anthony Dod Manthe serta kategori Best Montion Picture, International Film Cambodia dalam Satellite Awards.

Rasa-rasanya memang tak salah jika film ini memperolah banyak penghargaan di awal kemunculannya. Saya sependapat dengan kritikus film Scott Feinberg yang dalam akun twitter-nya sempat menyinggung film ini layak masuk nominasi Oscar. Kita lihat saja bersama, benarkah film ini akan masuk dalam salah satu nominasi di pagelaran film ternama tersebut?

About SUARA USU

Check Also

Kemelut Pembunuhan Kepala Dingin

  Oleh: Nikyta Ayu Indria Judul : Murder on the Orient Express Sutradara : Kenneth …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *