Home / Cerpen / Lara

Lara

Ilustrasi: Surya Dua Artha Simanjuntak

 

Oleh: Putri Cemara Nauli Togtorop

Dia selalu saja ada di pikiranku dan membuat terkaan. Aku lahir dengan sejuta fantasi namun berakhir dengan menyakitkan.

Kala pagi dia datang dengan sapaan hangatnya. Lelaki yang sibuk dengan laptop dan dunia program itu sedang duduk dipinggir pendopo tanpa pohon.

“Eh kau rupanya, sudah berapa lama kau berdiri dibelakangku?”

“Keadaan apa yang membuatmu tak menyadari kehadiranku?” Aku tersenyum. Kuletakkan badanku di sampingya.  Menyadari itu dia langsung bergeser memberi tempat untukku.

Dia tertawa dengan bibir manisnya. Aku luluh. Tak sadar kami saling memandang dengan penuh kerinduan. Ya,aku menikmati suasana langka itu.

Hening. Segera selimuti kalbu. Menghantarkan emosi membuatku ingin segera memeluk lelaki itu.Tapi sial. Sungguh cepat dia menyadari suasana itu. Tatapan kami seketika kembali dengan kesibukan masing-masing. Laptop dihadapannya membuat kami mulai berimajinasi sendiri. Namun belum lepas aku memandang jemarinya menari diatas keyboard.

“Aku sangat rindu,” Menyentakku dari lamunan absurd.

“Kepada siapa? Nenek moyang atau sang pemberi kenangan,“

Pria itu menarik nafas dan menghembuskannya dengan terpaksa. “Apa kau ratu intermezo?”

Sinis. Diberikannya aku pandangan untuk mengakhiri pembicaraan.

Lelaki tampan dengan kumis tipis dan hidung mancung itu kembali menatap layar laptopnya. Baru sesaat mengatakan rindu, sesaat lagi dia memandang sinis. Aku sangat menyadari perubahan yang amat cepat itu.

Kutarik nafas dalam-dalam seakan menguatkan diri. Taka da niat berpikir panjang untuk memulai dialog baru. Namun, entah kenapa otak dan hatiku tdak bisa diajak kerjasama. Meluncur begitu saja tanpa ada penyaringan yang ketat.

“Apakah aku terlalu memikirkan diri sendiri? Apa egoku atau egomu yang lebih besar? Padahal niatku selama ini hanya menghkawatirkan keadaanmu,” Aku bertanya hampir tanpa nada namun butuh waktu beberapa saat untuk mendapat jawabannya.

Tiba-tiba dirangkulnya aku seperti saudara kandung, pandangannya mulai kosong. Aku tersenyum puas kemudian beralih memandang wajah hangat lelaki itu. Kembali membuat jiwaku tenang. Ditepuknya pundakku halus. Sesekali rambutku diatur kebelakang. Rasanya kesedihan ingin berbicara disandaran bahunya. Namun ia terus saja diam.

“Kau tau aku suka perubahan yang membuat diriku terlihat nyata. Aku suka tantangan tapi cepat lelah. Aku suka memandang tapi cepat sekali bosan. Aku tak tahu cara melepas diri dari ego ku,”

Sial. Lagi-lagi aku harus menerka arti dari setiap ucapan itu. Belum aku bersuara dia melanjutkan perkataannya. “Tolong cintai saja negaramu atau orang tuamu. Jangan berharap pada ketidakpastian dan segera lakukan perubahan untuk mereka yang kau sayang tapi bukan aku,”

Batinku terjerat pada kata kata terakhirnya. Mencoba sepersekian detik untuk menyakinkan diri. Langsung kulepaskan tangannya dari pundakku. Aku tak menyadari mataku mulai berkaca-kaca. “Apa maksudmu?,”

“Dengar kau kubawa masuk kedalam hidupku dan itulah perubahan itu. Ketika kita saling memiliki rasa aku memulai tantangan itu. Namun seketika kau marah dan aku  bosan. Lagi lagi ego menghampiri,”

Aku selalu bermonolog apakah ada yang salah dengan sifatku. Dengan mudahnya membuat suka seketika luka. Tak mengerti. Sampai kapan kegilaan ini berakhir? Aku takut. Sungguh.

Kembali bayangan itu muncul dimemori kepala. Saat aku kenal dia di kantin kampus. Dia sendiri. Diujung dan selalu bercumbu dengan laptop. Tak ada teman, maupun mempelai wanita yang duduk bersamanya. Sendiri dan selalu begitu.

Kemudian bagaimana aku harus menahan diri untuk sifat kakunya. Bahkan sampai sekarang belum paham apa yang terjadi dengan dirinya saat itu. Namun, kupikir semua berubah saat dia mulai membuka pintu itu. Padahal dulunya aku berjanji untuk tidak membukanya lagi.

Dia berhasil mendapatkan kuncinya. Anehnya bukan dengan bunga atau coklat. Melainkan kenyamanan terhadap program. Bukan main kenangan itu mematri hingga ke sumsum jiwa.

Namun seketika berubah dan menjadi kelam. Ternyata aku salah. Kupikir semuanya baik-baik saja, nyatanya tidak baik-baik saja. Kupikir semua akan berjalan sesuai rencana. Nyatanya ada saja perusak jalan cerita.

Semakin sesak kurasa. Semakin tak bisa terbendung curahan air mata. Mengalir bebas dikedua pipiku. Tak terisak. Hanya menyayat dengan pelan. Menangis aku dalam diam. Tak kubiarkan niat baik menghapus jejaknya. Kupandang lurus kedepan. Kosong.

Diusapnya pipiku dengan sapu tangan yang kuberikan sebagai kado ulang tahun. Diikatnya rambutku agar terhindar dari mata. Digenggamnya bahuku erat-erat. Kurasakan aliran hangat mendarat dikenigku. Dia mencium dengan lembut. Ditatapnya aku dalam-dalam.

“Cobalah jangan terlalu memikirkan orang lain. Pikirkan saja masa depanmu. Buat dirimu nyaman. Kita sulit mengerti. Lalu apa guna ini semua?” Ia angkat bicara. Namun semakin membuat kesedihanku benar-benar berbicara. Kembali lelaki itu melontarkan senyum kearahku dan menutup laptopnya.

“Terimakasih buat nasihatmu. Aku menyayangimu,”

Singkat. Lalu beranjak pergi. Sekitar 7 langkah ia berbalik arah dan menatapku yang juga menatapnya. Tanpa suara tanpa perpisahan. Sementara air mata mulai membuat kerah kemejaku basah. Kulihat jelas masih ada harapan untuk kembali memelukku. Namun dia lebih memilih menelaah jalannya sendiri.

About SUARA USU

Check Also

Panggil Jiwa itu Kembali

  Oleh : Thariq Ridho ”Gerangan apa yang terjadi padamu? Makhluk astral apakah yang telah …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *