Home / Sosok / Lenny, Berusaha Jadi yang Pertama Di mana Pun Berpijak

Lenny, Berusaha Jadi yang Pertama Di mana Pun Berpijak

Oleh: Sofiari Ananda

LennyFakultas Farmasi riuh dengan suara dan lalu lalang mahasiswa yang telah dan akan melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Tak lama muncul seorang gadis berwajah oriental, berkacamata dengan mengenakan baju putih bercorak polkadot serta rok hitam dari salah satu lorong gedung. Ia berjalan pasti sambil sesekali melemparkan senyuman dan melambaikan tangan ke arah mahasiswa lain yang menyapanya.

Ia Lenny. Mahasiswa berprestasi (Mawapres) USU tahun 2012. Lahir pada 19 Desember 1991 di kota Medan, Sumatera Utara. Ia terlahir sebagai anak tunggal dari keluarga berdarah cina. Sejak kecil, Lenny hobi menari balet. Ia mulai menyeriusi balet sejak usia enam belas tahun hingga saat ini.

Sedari duduk di bangku sekolah dasar (SD), Lenny adalah sosok yang perfeksionis dalam hal akademis. Juara umum selalu digenggamnya, kecuali pada saat kelas lima SD. Untuk pertama kalinya, ia (hanya) berada di peringkat kedua. Hal ini membuatnya down (terpuruk) hingga mogok sekolah selama enam hari. Dan begitu pula terjadi saat di bangku kelas satu sekolah menengah atas.

Ini pulalah yang lekat di ingatan Suci Muliani, sahabat karibnya sejak SD. Saat kelas empat SD, meski belum dekat, Suci bisa melihat sifat perfeksionis Lenny tersebut. Lenny memang dikenal gampang depresi jika menyangkut rangking. “Semua harus sempurna,” simpul Suci.

Sifat perfeksionisnya ini sulit ia hilangkan, bahkan di bangku kuliah saat ini. Baginya, nilai minimum yang boleh didapatnya hanya B+. Lagi-lagi, sifat ini membuatnya jatuh. Sekali, ia mendapat nilai C+ dan membuatnya menangis selama dua hari. Selama tiga tahun kuliah, indeks prestasi terendah yang pernah ia dapat adalah 3,2.

Untuk mendapat nilai sempurna, Lenny selalu mengerjakan ujian dengan sungguh-sungguh. Seminggu sebelum ujian, ia sudah mulai mempelajari materi-materi yang akan diujiankan.

“Saya tidak suka sistem kebut semalam. Enggak suka dadakan,” ucapnya.

Namun, Lenny mengaku sering merasa terbebani dengan sifat perfeksionisnya ini. Di satu sisi, hal ini membuat nilai akademisnya mendekati sempurna. Tapi terkadang, bisa membuat mentalnya jatuh saat ia tak mendapatkan apa yang ia harapkan.

Walaupun perfeksionis dan study oriented, Lenny tak mau dicap sebagai mahasiswa yang tak mau berorganisasi atau anti sosial. Selain kuliah, ia mengisi waktu dengan belajar dan mengajar balet serta mengajar bahasa Mandarin.

“Saya enggak mau jadi mahasiswa kuliah-pulang, kuliah-pulang. Kita kan juga butuh relasi dan pengalaman,” paparnya.

Selain perfeksionis, Suci menyebut kemandirian sebagai salah satu sisi positif yang dimiliki Lenny. Menurut Suci, hal inilah yang mendasari Lenny untuk mengajar balet.

Di bidang balet pun, Lenny tak urung menuai prestasi. Selama kurang lebih enam tahun belajar balet, ia selalu mendapat juara pertama setiap ujian di tiap tahunnya dengan penguji langsung dari kota London.

***

26 April 2012. Pukul 08.00 WIB, Lenny berjalan di pelataran parkir biro rektorat (birek) untuk presentasi makalah bahasa Inggris yang ia gunakan untuk mengikuti seleksi mahasiswa berprestasi (Mawapres) . Sampai akhirnya seorang bapak menegurnya.

“Lenny ya? Yang ikut mawapres itu?”

“Iya, pak,” jawab Lenny bingung.

“Ya udah, masuk aja lah sana”.

Lenny mengatakan, ia sempat heran bagaimana bapak tersebut bisa mengenalinya. Ia juga menangkap adanya nada cibiran dari tutur kata si bapak tersebut. Tak terlalu menghiraukan, Lenny melanjutkan langkah ke dalam birek. Lagi, seorang bapak kembali menyapanya dengan cara yang sama.

Sesampainya di depan ruang senat akademik, tempat presentasi akan berlangsung, Lenny kembali disapa seorang bapak.

“Lenny?”

“Iya, pak”

“Masuk aja. Cari kawanmu di dalam”

Lenny kembali mengisahkan, ia mengira ‘kawan’ yang dimaksud adalah mahasiswa berdarah cina sepertinya. Tapi saat masuk ke dalam, semua peserta mawapres adalah mahasiswa pribumi.

“Saya beda sendiri di sana,” kenangnya.

Di awal, Lenny sempat merasa kecil hati berada dalam situasi tersebut. Tak ingin larut, Lenny kemudian mencoba berbaur dengan 13 peserta lainnya. Dan ia berhasil. Ia dan beberapa peserta lainnya bahkan masih intens berkomunikasi sampai sekarang.

Jarang presentasi saat kuliah membuat Lenny kaku saat mempresentasikan makalah dan menjawab pertanyaan juri. Ditambah keharusan menggunakan bahasa Inggris. Selama satu jam, Lenny mempresentasikan makalah dan dihujani sekitar 20 pertanyaan dari tujuh orang juri asal USU. Kesemua pertanyaan tersebut mampu ia jawab dengan baik. Hal ini mengantarkan Lenny sebagai mawapres 2012, menyingkirkan 12 kandidat lainnya.

“Enggak nyangka menang. Tapi kebetulan, yang ditanya juri bisa dijawab,” ungkap Lenny.

Lenny merasa sifat perfeksionisnya lah yang membawanya pada gelar Mawapres USU 2012.

Bagi Lenny, gelar mawapres inilah yang membuatnya dipilih menjadi salah satu delegasi USU untuk mengikuti Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMTGT) 2012 di Malaysia. Ia bersama empat wakil USU lainnya diharuskan membuat sebuah presentasi bertema kebudayaan, untuk dibawakan saat IMTGT nantinya. Tema spesifiknya adalah bagaimana cara menyatukan kebudayaan Indonesia, Malaysia dan Thailand. Kelimanya pun sepakat untuk membuat sebuah festival film, yang kemudian secara rinci dipresentasikan di Malaysia.

Ingatan Lenny bilang, ia dan ke empat wakil USU berangkat ke Malaysia pada tanggal 30 November tahun lalu. Keesokan harinya semua perwakilan universitas mempresentasikan ide mereka. Usai presentasi, peserta IMTGT dibagi ke dalam beberapa kelompok dengan 11 orang tiap kelompok. Lenny dan kelompoknya mendapat tema lingkungan untuk dipresentasikan. Sayang, di tengah pengerjaan, kelompoknya mengalami kendala. Mereka harus ditinggal empat anggota yang mengundurkan diri. Di tambah tak satupun anggota yang tersisa memiliki laptop. Lenny dan kelompok pun berpikir keras bagaimana membuat presentasi tanpa laptop.

Ide mulai muncul di pikiran Lenny. Tentang membuat sebuah drama sebagai bentuk lain presentasi. Ide Lenny ini mendapat respon baik dari kelompoknya. Mereka sepakat melakukan drama dan menunjuk Lenny sebagai sutradara sekaligus penulis naskah. Lenny merasa tak ada kendala berarti ketika mempersiapkan drama ini. “Cuma bingung menentukan karakter yang harus dimainkan, karena belum terlalu kenal karakter asli tiap anggota,” ujar Lenny.

Buah pikiran Lenny dan kerja keras anggotanya membuahkan hasil. Kelompoknya menyabet juara pertama dalam hal kreatifitas, dengan skor 235. Menurut Lenny, prestasi ini membanggakan baginya.

Check Also

Brintik, Keriting, Nyeleneh Pula

Oleh:  Dewi Annisa Putri Gitar pertamanya didapat semasih SMP, dibelikan Ayah. Musik jadi hal yang …