Home / Cerpen / Merajut Sunyi

Merajut Sunyi

Ilustrasi : Sagitarius Marbun

 

Oleh: Sagitarius Marbun

Suara-suara itu sudah mereda. Bahkan hampir tidak terdengar. Ia hilang bersama luka dan asam yang dipakai membalut luka mengangang. Tapi, kali ini ia datang lagi. Entah siapa yang akan ia bawa sekarang.

Surya menyapa. Tidak. Itu bukan surya, lembayung baru saja menyapa. Itu rembulan sesudah pendar menyelimuti senja. Biar saja, jangkrik tetap bisu. Ada apa malam ini. Bagaimana mereka semua yang biasanya menghiasi malam tiba-tiba membisu. Tenang, hanyut. Tidak. Masih ada suara di balik tembok itu lebih menggema di banding suara natural kecoa terbang. Piring terbang, cangkir terbelah berkeping, nama binatang bertaburan di udara, kata-kata terlarang dilahap dengan buas, tangan menyambar-nyambar. Aku mengigil, memeluk mahkluk kecil di dekapku. Ia termangun, tatapannya kosong. Air mataku jatuh ke ubunnya.

“Kakak kenapa,” suara kecil menyapa. Aku terdiam.

“Dasar istri tidak tahu diuntung,” teriak salah satu dari kubu yang berperang. Taarr. Vas bunga dari paman Bio pecah.

***

“Kakak, ayah kapan kembali,” tanya Nayla sembari memandangi foto di tangannya.

Aku tidak menjawab. Muak aku mendengar nama itu. Ia terlalu mulia mendapat gelar ayah. Hal yang selalu aku risaukan ketika keluarga yang mengasuh kami memutuskan untuk menceritakan perihal lelaki itu kepada Nayla. Baiknya saja yang diceritakan, mengapa ibu meninggal tak pernah.

Aku menutup kepalaku dengan bantal, supaya Nayla berpikir aku tidak mendengarnya bertanya. Lelaki itu sudah pergi sejak aku berumur sepuluh tahun, Nayla lima tahun. Sejak ibu memutuskan mengakhiri hidupnya di sarung yang menjulurkan lidahnya. Bodoh, jahat, makiku kala mendapati kakinya menggantung di kamar. Ia sempat teriak-teriak tak jelas selepas ayah meninggalkannya dengan sumpah separah. Ia menangis semalaman dan sekarang ia tak bernyawa lagi. Tapi makian itu samar, getar dan panas dingin menyerang ubun-ubunku. Aku tak sanggup. Aku tak sadarkan diri.

Ibuku meninggal dan sejak itu pula aku dan Nayla diasuh oleh keluarga ayah. Keluarga ibu tidak mau menerima kami. Perkara ibu menikah tanpa izin mereka. Ibu sayang ibu malang. Semoga kau tenang disana. Semoga pula kami baik-baik adanya di dunia ini.

“Ayahmu pergi merantau. Mencari uang untuk biaya sekolahmu Nayla,” kata bibi. Aku buang ludah. Uang dari mana. Aku setiap hari seusai sekolah harus merelakan tubuh dan rambutku dipanggang matahari demi Nayla bersekolah. Tidak sepeserpun uang laki-laki itu mengikut campuri kehidupan kami. Ingat itu, kataku suatu ketika kepada bibi.

“Jadi kamu mau adikmu sama sepertimu. Durhaka. Bagaimanapun dia ayahmu. Darahnya yang mengalir di tubuhmu,” kata bibi.

Kalau bisa meminta, mending aku mengemis darah dari Samsul, pria gila yang saban hari menyapaku sehabis pulang kerja. Daripada menyandang darah dan nama belakangnya ditubuhku.

Pintu kamar diketuk. Aku menggangkat bantal yang menutupi kepalaku bersamaan Nayla menatapku. Sorot matanya memerintahkan aku berlalu dan membuka pintu. Aku mengendus. Dasar adik durhaka. Dengan berat aku mengangkat tubuhku dan memutar handel pintu.

“Mana Nayla,” tanya bibi.

Aku menoleh ke arah tempat tidur. Nayla ada di sana bergolek ria menatapi potret yang ia sebut ayah. Wanita yang di depanku ini yang mengajarinya. Mengagung-agungkan sosok lelaki itu.

“Awas kau bercerita aneh-aneh tentang ayahmu. Cukup kau yang membencinya, Nayla jangan. Berat hukumnya menyebarkan kebencian,” kata bibi seumpama pemimpin agama yang sedang berdakwah.

Demi mendengar namanya disebut Nayla menyahut. Berlari ke arah bibi yang ia sayangi. Beda betul perlakuan wanita itu kepada kami berdua, aku bagai anak tiri dan Nayla bagai anak kandung. Tapi akau tidak membenci Nayla seperti sinetron kebanyakan. Aku menyanyanginya, bahkan menjaga-jaga jika suatu saat niat baik wanita itu ternyata cuma sampul niat buruknya kepada kami.

“Kau rindu ayahmu kan. Kau ingin bertemu dengannya.”

Apa. Lelaki gila itu kembali lagi. Hal paling aku takutkan dibanding hari penguburan ibu yang berpetir menyambar-nyambar. Ia datang sebagai pencuri, kata-kata pendeta bergiang di kepalaku. Aku lengah. Aku terlalu nyaman dengan didikan bibi dan melupakan Nayla. Nayla telah mengilai pria itu, mendewakannya bak ayah sejati.

Aku mencegat Nayla yang berlari dibelakang bibi. Dua pasang mata menatapku, satu heran satu buas. Mau apa, ancamnya.

“Kalau kau tidak mau bertemu ayahmu, biarkan Nayla,” katanya dingin.

Aku tertawa sinis. “Bibi cukup. Lelaki brengsek itu tidak pantas bertemu kami satu pun,” kataku tegas.

Ia maju selangkah. Menatap mataku dengan sorot menyilaukan. “Lepaskan Nayla. Dan biarkan kami pergi,” perintahnya dengan belati tak kasat mata di netranya. Bibi bagai nenek lampir hari ini. Aku betul-betul terbuai selama ini. Terkutuk.

“Akulah yang berhak atas hidup Nayla. Bibi tak berhak. Apa yang mau bibi anggarkan. Uang yang kami gunakan. Aku akan bayar. Sekali lagi aku katakan, aku tidak pernah berharap diasuh olehmu. Aku hanya mohon biarkan lelaki itu hanya ilusi bagi Nayla, jangan perlihatkan sosok nyatanya,” kataku berlinang air mata. Air mata kedua kali sejak ibu dan pria itu berperang.

Mungkinkah ia datang dengan maksud yang sama. Merenggut satu per satu nyawa yang kupunya. Nayla, gadis berkepang dua yang selalu mendewai ayahnya, pria terkutuk itu. Yang tidak tahu karnanya lah ibu meninggal, apapun alasannya.

Terlambat. Pria itu telah mengerai rambut Nayla yang tadi kukepang. Nayla tertawa bersamanya, omong kosong bertebaran di udara yang kian membusuk. Melayang menampar mukaku yang terpelongok menatap sadis dunia terhadapku. Berkat cerita-cerita bibi Nayla dengan mudah menerima lelaki itu.

Aku berlari. Menarik tangan Nayla. Lelaki itu tertegun, mencoba merebut. Ia tak mampu. Mudah saja mengalahkan lelaki itu. Muka muak, muka menyesal, muka tak bersalah. Berganti-ganti lakon di setapak wajahnya. Aku meludah persis di ujung kakinya. Ia tersentak. Perduli setan, ia mengatakan aku anak durhaka. Ia telah merebut masa depan dan senyum dari hidupku. Ibu dan Nayla.

“Ayah hanya membela diri. Ayah hanya butuh waktu,” katanya berderai air mata. Jijik.

“Mau seberapa lama waktu yang kau butuhkan. Sepuluh tahun. Dimana pas ibu mati. Dimana pas aku dan Nayla hampir jadi gelandangan. Dimana saat pemuda jalanan hendak merengutku,” kataku bergetar. Ada arwah yang membuatku mengucapkan kelemahan itu. Padahal aku ingin kuat, tidak ingin mengadu padanya.

Ia merengkuhku. Setengah berontak, setengah luluh. Hangat dan membuai. Membuat isak semakin menggigil dan sinis bibi mengudara. Ia tetap nenek lampir.

Bibi tertawa. Setan. Jual murah. Aku tak perduli. “Jadilah merpati sayang,” bualnya. “Pegang idealis gilamu itu. Nayla sudah dibawa,” lanjutnya.

Aku menatap punggung anak ayah itu. Bayang ibu di belakang melambai. Aku terhentak. Tidak ada yang perlu dipertahankan dalam cinta. Nayla, gadis kecil yang menggilai ayahnya berkat cerita hero bibi.

Aku dalam ruangan hitam. Nayla sayang, kau berhak memilih. Bukan bosan kau tak memilih aku. Atau aku tak sayang tak mengikutmu. Hidup akan lebih indah jika suara jangkrik tetap mengisi malamku dibanding suara piring pecah dan arahan dari ibu baru. Ibu lama saja belum aku nikmati.

About SUARA USU

Check Also

Belum Saatnya

    Oleh: Thariq Ridho “Siapa disana,” sekilas cahaya putih melasat cepat dihadapanku. Seseorang berdiri …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *