Home / Cerpen / Pemuda dan Sang Penenun Waktu

Pemuda dan Sang Penenun Waktu

Ilustrasi: Samuel Sihaloho

Oleh: Samuel Sihaloho

Hidup manusia bertempat dalam tenunan waktu pada pola yang tak mampu dilihatnya. Sementara para penenun bekerja dan kumparan terus melaju sampai fajar keabadian tiba.

Sebuah caption foto yang menarik. Fotonya juga menarik dengan latar menara Eiffel dan senyum memancarkan kebanggaan.

“Ah, itu kan cuma kalimat orang yang pandai merangkai kata-kata yang indah saja,” ucapku dalam hati sambil menekan tombol like.

Aku turun dari angkot yang kutumpangi dari pabrik tempat kerjaku yang  melaju seperti dikejar setan dari neraka terdalam. Doa saja tidak cukup, butuh iman yang kuat untuk bertahan.

Kali pertama dalam hidupku entah mengapa caption yang berlebihan tadi selalu terpikir di sepanjang jalan pulang. Dalam hidup ini, aku mengalami kejadian yang membuatku selalu memiliki sebuah feeling terhadap apa yang aku baca.

Aku selalu mengingat kalimat dalam novel yang kubaca yaitu Bagaimana bila aku memilih yang salah karena memang itu yang tersedia untukku dan kamu memiliki pilihan yang banyak tetapi memilih yang salah?

Itu berkaitan dengan kejadian hidupku bahwa aku berasal dari keluarga yang bisa dibilang baik dalam ekonomi maupun rohani, namun tidak berhasil dalam menggapai cita-cita karena memilih hidup bersenang-senang dan melanggar semua nasehat dan petuah. Sama dengan temanku yang tidak punya siapa-siapa selain preman terminal yang menjadi keluarga besarnya padahal itu harus dilalui karena hanya itu pilihan yang ada dan harus diambil.

Sampai di tempat indekosku di ujung gang yang sempit tapi berjibun orang yang tinggal, tidak seperti villa yang luas tapi hanya sebiji penghuninya itu pun penjaganya.

“Cepat kali kau pulang bos, yang cabutnya dari pabrik kau?” ucap pemuda yang berbadan kekar tapi bau badan menyengat. Entah sudah berapa abad tidak mandi.

Gak mungkin aku cabut. Mandor botak yang jaga hari ini,” jawabku singkat.

“Oh, ya sudah kau beresin kamar ini ya aku mau cepat pula ini. Sudah telat aku mau jumpa kawan dulu,” sambungnya sambil cengar-cengir langsung pergi. Aku menarik napas dalam dan langsung tidur di kasur yang sudah mengeras.

Kebiasaan setiap hari yang tak pernah berubah berdebat dengan sesama keras kepala hanya menciptakan hiburan para penghuni kos lain.

Setelah selesai mandi dan makan malam nasi bungkus dari warung nasi langganan, aku berencana untuk langsung tidur membebaskan otot dan tulang yang dipaksa bekerja seharian. Namun baru saja aku meletakkan badan di kasur aku kembali teringat akan kalimat caption foto tadi.

Aku merenung di kamar yang pengap dan penuh ketidaknyamanan itu. Aku berpikir kejadian apa yang membuat aku selalu teringat kalimat itu.

Lalu aku sadar akan apa yang membuatku khawatir selalu yaitu waktu. Apa yang aku sudah dapat selama aku hidup puluhan tahun ini? Siapa yang akan pedulikan keadaanku saat seperti ini? Tidak ada lagi. Aku sudah memilih langkah yang salah.

Temanku Andi yang menjadi sahabatku telah memiliki perusahaan yang memiliki cabang di kota-kota besar. Ia telah menikah dan memiliki keluarga yang bahagia.

Andi dan aku adalah teman yang selalu bersama saat sekolah dulu. Sahabatku yang selalu peduli. Namun aku meninggalkanya ketika aku tamat SMA dan memilih keluyuran bersama teman-teman anak komunitas geng motor yang kemudian membawaku meninggalkan keluarga dan berakhir di kota besar yang mengerikan ini.

Ketika aku bekerja di pabrik temanku, Andi melanjutkan kuliah di Yogyakarta. Kami sama sekali hilang kontak dan tidak pernah bertemu lagi. Kudengar dari cerita teman yang lain dia menjadi mahasiswa berprestasi sehingga mendapat beasiswa ke luar negeri.

Selanjutnya aku tidak tahu lagi tentang dia. Hingga pada hari yang penuh dengan kebisingan jalanan kota dan penuh sesak penumpang angkot aku melihat akun medsos-nya yang meminta pertemanan denganku dan berakhir melihat foto dan caption-nya yang membuat perasaanku gusar.

Entah mengapa aku merasa ingin kembali ke zaman ketika aku di masa belasan tahun dan memilih pilihan yang benar. Andai saja aku mendengar tangisan Ibu yang selau terdengar di setiap malam sambil khusyuk berdoa agar hatiku dan keras kepalaku melunak.

Aku selalu menjadi bahan gosip semua orang di kompleks rumahku karena selalu pulang pagi buta dengan sepeda motor yang suara knalpotnya bagaikan terompet pintu neraka. Membuat orang paling sabar di dunia akan mengeluarkankan kata-kata mutiaranya.

“Hai manusia bodoh dan lemah nikmatilah malammu dengan pesta dan suara my lady yang merdu ini!” ucapku sambil tertawa puas ketika warga berkumpul dan mencaci maki di depan rumah kami.

Ayah yang selama ini hanya memberi bentakan yang kutanggapi biasa saja tiba-tiba marah besar dan mengusirku dari rumah.

“Persetan dengan semua, aku tidak mau mati sekarang dengan menuruti perkataan kalian semua. Aku yang berkuasa atas diriku dan aku benar-benar tidak butuh bualan busuk,” tanpa rasa bersalah aku mengucapkannya.

Aku merasa orang yang benar langsung menantangnya dengan pergi dan tak pernah kembali lagi sampai mereka, orang yang kutahu selalu mencintaiku, kehabisan waktunya dan kembali ke alam yang abadi. Di sana tidak mereka jumpai anaknya yang keras kepala dan angkuh.

Jam sudah menunjukkan angka satu.

Hari yang baru sudah dimulai dan waktu yang sudah ditetapkan padaku berkurang di tangan sang penenun dan dalam kumparannya. Kurasakan detak jantungku berdentam-dentam di dalam dada dan merasa khawatir dia tak berdetak lagi.

Ketika aku mengingat kembali wajah ibuku tiba-tiba air mata yang selama ini kutahan meluap dan membanjiri tubuhku. Mengisi kekosongan hati yang selama ini sepi. Seandainya saja aku menyadari bahwa apa yang paling berharga di hidup ini bukanlah kebahagiaan pesta dan tawa orang yang palsu apalagi harta kekayaan.

Yang berharga di kehidupan ini adalah pemuda yang memiliki energi dan waktu yang banyak mengisi kehidupan di dunia ini. Merajut benang-benang berwarna indah sehingga dunia akan terisi oleh keindahan yang murni.

Aku terlelap dalam kesedihanku dan pikiran yang selalu bertanya-tanya kepada diri sendiri pola rajutan mana yang sudah kulakukan dalam hidup ini. Apakah aku punya waktu untuk menghiasnya dengan sisa waktu dengan benang berwarna indah.

Dalam mimpi aku berjumpa ibuku yang membelai lembut pipiku dan berkata, ”Anakku adalah benang berwarna yang akan menjadi kain yang bercorak indah.’’

Aku menangis. Semoga sang penenun waktu tidak menghentikan kumparan benangnya.

About Portal Berita Pers Mahasiswa SUARA USU

Check Also

Cinta Kita Benar(kan)!

  Oleh: Suratman Terus keintim-intiman yang kita nyala-nyalakan setiap harinya. Pergumulan, erangan, pada tiap malamnya …