Home / Opini / Pendidikan Seksual, Tabu atau Perlu?

Pendidikan Seksual, Tabu atau Perlu?

Ilustrasi: Nurhanifah

Oleh: Nurhanifah

Kejahatan seksual kian menghantui anak-anak. Masihkan kita menganggap pendidikan seksual menjadi hal yang tabu? Atau justru merasa pendidikan seksual adalah hal yang perlu?

Siang itu Jerry dan teman-temannya berlatih peran untuk pertunjukan sekolah. Saat Jerry sedang berhadapan dengan Xiao Xi, temannya jahil mendorongnya. Tanpa sengaja bibirnya bersentuhan dengan Xiao Xi. Mereka berciuman.

Tak sampai disitu, sifat jahil teman-temannya kian berlanjut. Saat mereka tertidur, kawannya sengaja membuat Jerry dan Xiao Xi tidur bersebelahan dan bergandengan tangan. Keesokan hari, kawan-kawannya memberikan selamat pada mereka. Sebab menurut temannya apa yang telah mereka lakukan (berciuman dan tidur bersebelahan—red) berhasil menghasilkan bayi.

Kesimpulan ini mereka dapatkan dari salah satu film di televisi. Di situ ditayangkan, perempuan dan laki-laki berciuman lalu tidur bersebelahan, kemudian perut perempuan tersebut membesar. Hamil.

Untuk memastikan kebenaran kehamilan Xiao Xi, Jerry menanyakan bagaimana bayi berasal kepada orang di sekelilingnya. Neneknya menjawab dari kari laksa, pembantunya menjawab dari tong sampah, ibunya menjawab nanti kau akan tahu setelah dewasa, dan gurunya menjawab karena ‘cacing’ Ayah bertemu dengan ‘telur’ ibu dan jadilah bayi.

Di antara jawaban tersebut hanya jawaban gurunya yang membuat Jerry sedikit paham, namun jawaban itu menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru yang tidak bisa dijawab sang guru. Hingga akhirnya Jeery menyimpulkan Xiao Xi hamil.

Xiao Xi tak ingin hamil. Setelah mendengar percakapan dua orang ibu mengenai nanas yang dapat membuat keguguran, Jerry memaksa Xiao Xi memakan nanas.

Cuplikan di atas adalah salah satu penggalan film I’m Not Stupid Too mengenai pendidikan seksual yang masih dianggap tabu untuk diterima anak. Tanpa kita sadari dampaknya sungguh berbahaya. Bayangkan, seorang anak menjadi sakit perut karena terlalu banyak memakan nanas dengan pengetahuan yang salah.

Ini hanya contoh kecil, dari minimnya pengetahuan seksual pada anak. Jika mau dampak yang lebih besar mari lihat media massa di mana anak menjadi korban kejahatan seksual. Tak hanya datang dari orang tak dikenal, keluarga juga berpotensi menjadi pelaku kejahatan seksual

Libby Sinlaeloe, Kepala Rumah Perempuan Kota Kupang mengatakan sebanyak 148 anak perempuan mengalami kekerasan seksual di Kota Kupang pada 2013-2015. Pelakunya paling banyak berasal dari keluarga dekat korban yakni orang tua kandung, orang tua tiri, kakak, tetangga, dan pacar.

University of Barcelona pada 2009 melakukan riset yang memberikan hasil senada, bahwa pelaku terbanyak adalah orang yang dekat dengan korban. Hasilnya, 30% pelaku kejahatan seksual adalah keluarga korban, seperti kakak laki-laki, ayah, paman, dan sepupu. Sebanyak 60% adalah teman anggota keluarga, pengasuh anak, atau tetangga, dan sisa yang 10% adalah orang asing. Riset ini menyebut 7,9 persen laki-laki dan 19,7 persen perempuan seluruh dunia pernah mengalami pelecehan seksual hingga usia 18 tahun.

Lalu, masihkah kita mau menganggap pendidikan seksual menjadi hal yang tabu?

Mari belajar dari Belanda yang telah memberikan edukasi seksualitas dan relasi secara formal sejak anak berusia empat tahun. Ineke van der Vlugt, pakar perkembangan seksual anak muda dari Rutgers WPF mengatakan edukasi yang diberikan berupa citra diri, mengembangkan identitas diri, peran gender, serta belajar mengekspresikan keinginan dan batasan-batasan diri. Seperti dikutip dalam situs resmi PBS.

Selain itu, Jatmikowati et. al. (2015) dalam studinya mengatakan anak usia satu hingga lima tahun sudah bisa diberikan pendidikan seks dasar. Anak dapat diajari untuk mengenal organ-organ seksnya tanpa perlu penjelasan mendetail, sebab rentang waktu atensinya cenderung lebih pendek dari orang dewasa.  Pun, sosialisasi untuk tidak mempertontonkan alat kelaminnya kepada sembarang orang juga perlu disampaikan.

Hal senada juga disampaikan Saskhya, rekanan pendiri Tiga Generasi—wadah konsultasi dan informasi seputar kesehatan dan permasalahan psikologi—bahwa pendidikan seks bisa dimulai sejak balita.

Saskhya menjelaskan materi pendidikan seks untuk anak-anak tetap harus memperhatikan konteks-konteks tertentu. Seperti nilai budaya dalam keluarga, sebagai konselor ia memperhatikan dengan detail bagaimana sikap keluarga menerima pengetahuan pendidikan seks. Jika orang tua memiliki sikap yang terbuka, konseling dapat dilakukan dengan orang tua. Namun, jika orang tua memiliki sikap tertutup konseling dilakukan dengan anaknya.

Ia menerangkan, setiap anak memiliki cara belajar berbeda. Sehingga perlakuan dan sumber informasi dalam memberi pendidikan seks secara ideal beragam. Pahamilah bahwa segala informasi yang diterima anak baiknya diketahui oleh orang tua, agar tak menimbulkan pemaknaan yang salah.

Bagaimana cara memberikan pendidikan seksual pada anak?

Pertama ingatlah usia anak, kita anda memberikan pendidikan seksual. Pada usia anak sekolah dasar kenalkan anak dengan anggota tubuh dan fungsi-fungsinya serta bagaimana ia menghargai tubuhnya sehingga dapat menjaganya. Berikanlah informasi secara bertahap, dan jangan menunggu anak bertanya.

Jika anak bertanya, pastikan memberikan jawaban hingga anak merasa paham. Jangan memberikan jawaban yang memiliki arti ganda, atau jawaban yang menggantung. Hal ini dapat membuat anak mencari informasi dari sumber lain yang belum dapat dipastikan keabsahannya.

Lalu, pastikan bahwa Anda adalah sumber terpercaya anak yang dapat menjawab apa saja dan kapan saja. Sehingga ia dapat menceritakan hal-hal personalnya kepada Anda, sehingga tidak menimbulkan peluang perlakuan jahat dari orang lain karena ketidaktahuannya.

Bacalah referensi seputar seksualitas bersama anak sesuai usianya. Ini akan membuat anak merasa dekat dengan Anda dan paham sumber-sumber informasi seperti apa yang dapat ia percaya ketika tidak memahami pendidikan seksual.

Jadi, masihkah menganggap pendidikan seksual adalah hal yang tabu? Mari lindungi anak Anda dengan memberikannya pendidikan seksual sejak dini. Ajari anak untuk mengenal dirinya, menghargai dirinya, sehingga dapat menjaga dirinya saat jauh dari Anda.

Penulis merupakan mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat 2014. Saat ini aktif sebagai Bendahara Umum Pers Mahasiswa SUARA USU.

About Portal Berita Pers Mahasiswa SUARA USU

Check Also

Kebisingan Pemuda Negeri Sosial Media

  Oleh: Jabbar A. Panggabean Hari ini boleh saja kebiasaan menumpahkan emosi kemarahan atau ketidaksetujuan …