Home / Cerpen / Petuah

Petuah

Foto Ilustrasi : Yael Stefany Sinaga

 

Oleh : Yael Stefany Sinaga

“….tenanglah akan tiba saatnya. Ujarkan terus karena ini petuah,”

“Terlalu dalam kurasa, Pak,”

Begitulah pada akhirnya aku menangis sejadi-jadinya kepada Bapak tersayang yang kupunya saat ini. Aku hanya punya dia. Anggota keluarga yang lain sudah pergi entah kemana. Yang kutahu ibu sudah di surga. Sedangkan abangku tak pernah kembali lagi.

Sudah dua minggu ini aku berusaha menyimpan perasaanku. Entah kenapa saat ini aku seperti orang yang tak punya gairah hidup. Dibilang sedih tidak juga. Dibilang gundah gulana juga tak sesuai. Tapi dia perih setiap kali aku buka lembarannya.

Selama itu pula aku hanya menatap lembaran foto yang aku cetak dengan Kang Muklis saat aku pergi ke pasar. Foto itu berisikan kenanganku bersama mereka yang berhasil menyentuh dasar sukmaku. Walau tak banyak diriku di dalamnya. Uang jajan pun habis hanya untuk mendapatkan lembaran demi lembaran. Tak apalah. Asal bahagia saja.

***

Entah dengan kuasa siapa yang mempertemukan aku dengan makhluk ciptaan seperti mereka. Jumlahnya sangat banyak. Tak mampu kurasa menyebut satu per satu. Hanya barang beberapa jam sudah kupantaskan diriku dengan mereka.

Mereka bak rumah kosong yang siap diisi oleh insan mana pun. Tak satu pun yang rasis. Tak satu pun yang memiliki ego yang luar biasa. Bahkan tak satu pun yang membuat pembatasan. Semuanya hanya didasari oleh teori sosial. Tampak memang yang menjungjung tinggi akal sehat.

Selama lima hari aku bertukar hidup dengan mereka. Selama lima hari aku mengubah kebudayaanku. Selama lima hari aku menggantung agamaku. Selama lima hari aku mendapat gizi ilmu yang telah lama kosong. Sungguh aku beruntung.

Pertama, tiga orang itu. Perempuan-perempuan keturunan Raden Ajeng Kartini. Semangatnya, senyumnya, akal budi bahkan tutur lakunya benar-benar sama dengan orang yang dipuja oleh banyak kaum wanita hingga kini. Bedanya hanya tahun kelahiran. Itu saja.

Belangi. Kusebut itu mereka. Yang satu si penari, yang satunya lagi si pemeran tokoh, dan yang terakhir si ibu hukum. Mereka wadah pertama untuk berbagi kemampuan. Walau sebenarnya aku sangat kecil. Sesalnya aku menyayangi mereka di kesempatan terakhir.

Kedua, delapan orang itu. Ini bukan lagi keturunan pejuang republik. Tapi tokoh yang selalu berada di daftar doa bapakku. Orang yang pada akhirnya akan memberi bekas pengalaman baru untukku. Begitulah yang sering di ucapkan bapak setiap sore di atas kabin.

Kembang api. Kusebut itu mereka. Ada si pemuja kopi, ada si pemuja sastra, dan ada yang lainnya dengan sejuta kelebihan. Mereka wadah kedua untuk memenuhi nafsu ketidakpuasan diriku. Dibuatnya aku semakin mencintai kopi. Dibuatnya aku semakin gila akan keberagaman. Untungnya, tak terlalu jauh jarak itu.

Ketiga, beberapa orang itu. Sekian kalinya mereka bukan tokoh pejuang maupun tokoh yang didoakan. Tapi insan yang dengan sengaja diciptakan untuk menambah lingkaran rantai sosialku. Itu lah sebabnya aku merasa senang bukan main.

Anugerah. Kusebut itu mereka. Ada yang belajar masa lalu, ada yang belajar teknologi, ada juga yang sama denganku. Kuagungkan mereka di depan kolegaku yang lama. Bahwa kau harus keluar dari zona nyaman jika ingin maju selangkah. Sekali lagi jarak tak terlalu jauh.

Terakhir, beberapa pemuda itu. Untuk yang ini aku pun tak tahu harus berkata apa. Bahkan membuat satu kalimat tentang mereka pun sulit sekali rasanya. Entah karena mereka terlalu sempurna atau karena mereka orang yang selama ini kucari. Intinya mereka berhasil menempati singgahsana lubuk ini. Sialnya.

***

Dia hanya mengelus pundakku. Tanda dia perihatin denganku. Sesekali dikecupnya pucuk kepalaku. Tanda bahwa dia benar-benar merasakan apa yang kurasakan. Dia tak bicara sepatah kata pun.

Tiba-tiba diberikannya aku sepucuk kertas yang telah usang. Tampak dari warna yang sudah mulai coklat. Ditinggalkannya aku sendirian di atas kabin. Dan aku mulai membaca.

Doakan agar mujur adanya

Susah hati wajar berlangsung

Terpenting dijunjungnya senjang itu

Maka seturutlah kehendakmu

Doakan agar lanang itu mafhum

Ucapkan karena pada akhirnya anda jantung hatinya

Tak hirau? Atau Artifisial?

Tenanglah akan tiba saatnya

Ujarkan terus karena ini petuah

About SUARA USU

Check Also

Sesal

  Oleh: Nadiah Azri Br Simbolon Setiap orang mempunyai kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Saat seseorang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *