Home / Sosok / Prof Aznan Lelo, Dokter Bukan Pebisnis

Prof Aznan Lelo, Dokter Bukan Pebisnis

Oleh: Nurhanifah

Foto: Anggun Dwi Nursitha
Foto: Anggun Dwi Nursitha

Tentunya niat saja tak cukup untuk bebuat baik. Niat harus disahkan dengan tindakan. Buya, begitu ia akrab dipanggil, mengobati untuk menolong.

Satu per satu orang memasuki rumah berwarna krem. Pagarnya terbuka begitu saja, membuat setiap orang leluasa keluar masuk. Mereka datang menggunakan sepeda motor maupun becak. Tua. muda, dewasa, remaja, dan anak-anak memasuki rumah tersebut. Sesampainya di garasi, mereka disambut wanita setengah baya di meja registrasi. Selesai dicatat mereka menunggu di garasi yang telah diubah menjadi ruang tunggu.

Salah satu orang yang menunggu adalah Fatimah. Ia menunggu bersama beberapa orang lainnya. Meski datang sejak pukul 17.00 WIB, Fatimah baru memasuki ruang praktik pukul 19.00 WIB.

Ada yang unik dari cara mengobati dokter satu ini. Pasiennya sering memanggil Buya. Buya selalu memberi nasihat saat mengobati, bahkan tak jarang ia memarahi pasiennya. Seperti yang dialami Fatimah, pasien tetap beliau selama tiga tahun.

Fatimah katakan ia sudah biasa diobati Sang Dokter Dulu saat pertama berobat ia pernah dimarahi karena makan sembarangan. “Katanya aku makan racun, bahaya untuk tubuh,” tutur Fatimah.

Usia Fatimah kini tujuh puluh lima tahun, ia sudah mengidap penyakit Fertigo sejak masih muda. Ia bilang sudah sering kali berobat ke dokter lain bahkan ke rumah sakit yang cukup ternama. Tapi tak ada perkembangan yang ia rasakan, sebab dokter yang memeriksanya selalu berganti-ganti. “Baru ini mendingan, itu pun karena selalu ditangani dengan Buya setiap berobat,” terangnya.

Prof Aznan Lelo mengiyakan Fatimah. Menurutnya penting bagi pasien untuk memberitahukan keluhannya, sebab akan membantunya mengetahui riwayat penyakit pasien. Lebih baik atau tidak dari pertemuan sebelumnya. Pun, nasihat yang ia berikan semata-mata untuk mengingatkan pasien bahwa yang dapat menyembuhkannya adalah Sang Pencipta serta kemauan pasien untuk sembuh. Ia sebagai dokter hanyalah perantara untuk menolong bukan mengobati

Ada yang berbeda dari rumah praktik dokter Aznan, tak ada papan nama yang bertengger di depan rumah sebagai penanda klinik. Jika kita hanya sekilas lewat, rumah ini tampak biasa. Pada sore hari baru terlihat banyak orang mengantre, bagi orang yang tak tahu mungkin akan salah mengira tempat ini. Hal ini bukan tanpa alasan, Buya bilang ia mengobati untuk menolong bukan untuk berbisnis.

Baginya, penggunaan papan nama berarti menjual diri. Berbisnis. Ia contohkan perusahaan ternama memasang papan nama di halaman gedungnya. Ini berarti perusahaan tersebut sedang berbisinis, memberitahukan keberadaannya, agar orang-orang datang membeli dagangannya. Tapi, Buya tidak sedang berdagang,

Inilah yang membuatnya tak pernah mematok harga pada pasiennya. Bahkan jika ada pasien yang bertanya harga padanya, tak segan ia marahi. Menurutnya pertanyaan ini tak patut, sebab tugas dokter adalah menolong bukan meminta bayaran. “Aku tak ingin pindahkan kantong mereka ke kantongku,” ucapnya.

Menjadi dokter merupakan rutinitas keduanya selain menjadi dosen. Inilah yang membuatnya baru membuka praktik pukul 17.00 WIB, sebab pada pagi hari ia punya kewajiban mengajar di Dapartemen Farmakologi Fakultas Kedokteran USU. Menurutnya dua pekerjaan ini berjalan beriringan sehingga tak menimbulkan masalah.

Saadatur Rizqillah Pasaribu, muridnya dari Universitas Islam Sumatera Utara bilang Buya adalah dosen yang tegas dalam membimbing muridnya. Ia ceritakan saat semester enam lalu ia diajarkan bagaimana berinteraksi dengan pasien. Sebagai murid ia diizinkan untuk tanya jawab langsung dengan pasien, memeriksa pasien, dan menangani sesuia gejala patologis yang dialami pasien. Walaupun pada akhirnya Buya yang menetapkan terapi apa yang akan diberikan kepada pasien.

Buya bilang banyak murid yang datang untuk belajar dengannya, tak hanya dari Sumatera, muridnya juga datang dari Jawa, Bali, Kalimantan, bahkan Papua. Cara ia mengajarkan muridnya melalui praktik.

“ Mereka obati pasien yang datang, aku lihat cara mereka mengobati,” terang Buya.

Menurutnya mengobati pasien dan mengajarkan mahasiswa merupakan kegiatan sejalan yang harus dilaksanakan dengan ikhlas. ”Di kampus saya ajarkan ilmunya, di tempat praktik saya amalkan ilmunya. Sama kan?” pungkasnya.

BIODATA

Nama                            : Aznan Lelo

Tempat, tanggal lahir      : Bukit Tinggi / 2 Desember 1951

Pendidikan                    :

SD Taman Siswa Medan(1958-1963)

SMP Taman Siswa Medan (1963-1967)

SMA Negeri 6 Medan (1968-1970)

S1 Fakultas Kedokteran USU Medan (1971-1978)

S2 The Flinders University of South Australia. Bedford Park (1983-1987)

S3 Fakultas Kedokteran USU Medan (1979-1988)

Prestasi:

  1. Dosen Teladan FK USU, 1987
  2. Dosen Teladan USU, 1988
  3. Peneliti Terbaik USU, 1995
  4. Penulis Makalah Terbaik KELOMPOK ARTIKEL PENELITIAN “Sudjono Djuned Pusponegoro”, PB IDI, 2003
  5. Peneliti Terbaik IDAI, 2012
  6. Penulis Makalah Terbaik KELOMPOK ARTIKEL PENELITIAN Majalah Paediatrica Indonesiana

Organisasi:

  1. Ikatan Dokter Indonesia (IDI)
  2. Ikatan Farmakologi Indonesia (IKAFI)
  3. ASCEP
  4. IUPHAR
  5. Perhimpunan Dokter Ahli Farmakologi Klinik Indonesia (PERDAFKI)
  6. Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia
  7. WONCA

Tulisan ini pernah dimuat dalam Profil Tabloid SUARA USU Edisi 106

About Portal Berita Pers Mahasiswa SUARA USU

Check Also

Brintik, Keriting, Nyeleneh Pula

Oleh:  Dewi Annisa Putri Gitar pertamanya didapat semasih SMP, dibelikan Ayah. Musik jadi hal yang …