Home / Cerpen / Pulang

Pulang

Ilustrasi: Nurhanifah

Oleh: Nurhanifah

Ini kali pertama awak pulang setelah merantau dua puluh lima tahun yang lalu. Sekolah yang tinggi, mencari sesuap nasi dan janji pulang setelah sukses membuatku menolak rindu. Meski berulang kali membuncah dan memaksaku kembali, rindu tetap kalah. Bahkan, saat Ayah berpulang aku tak tahu. Aku tak diberi kabar dengan alasan sekolah. Tidak ada yang boleh memberitahu, tidak ada yang boleh membuatku sedih karena kepergiannya.

Pahitnya kabar kepergian datang dari seorang kawan yang berlibur, ia tanyakan kenapa aku tak mengantar Ayah di pusara lima tahun lalu. Aku termangu. “Tak baik bertengkar dengan Ayah terlalu lama Gar, apalagi dia telah berpulang,” pesannya. Ketika itu aku hanya mengangguk, terlalu rapuh untuk menjawab dengan kata.

Dengan kaos merah lengan pendek dan jeans selutut, aku mengunjungi sebuah warung di pinggir danau. Kalau tak berubah empunya, ini masih punya keluarga uwak Togar. Namanya jadi inspirasi ayah dan ibu karena Kede (warung)-nya ada lima di kampung. Ayah bilang ingin aku sukses sepertinya, banyak duit tapi tetap dermawan.

“Kak, teh manis dua ya yang dingin,” aku memesan.

“Iya Bang, tunggu ya,” suara perempuan menyambung.

Kawanku masih asik dengan kameranya, terpesona dia sama Danau Toba. Dia masih tak percaya kalau Danau Toba itu indah, tidak seburuk yang tertulis di media massa. Maka seminggu ini aku pilih dia jadi kawan untuk mendata apa yang kami perlukan demi perhelatan akbar Indonesia, supaya ia percaya kampung awak ini indah. Rencananya tahun ini upacara kemerdekaan akan diadakan di salah satu kabupaten yang mengelilingi Danau Toba, bahkan katanya ada pengibaran bendera di dalam air, di Danau Toba.

Gadis kecil dikepang kuda menghampiriku, membawa nampi berisi teh.

“Mau gorengan pisang juga Bang?” tanyanya sambil meletakkan gelas ke meja.

“Boleh,” aku tersenyum. Ah, wajahnya mirip sekali dengan Mak Butet, istri wak Togar.

“Tapi tunggu sepuluh menit lagi Bang, masih dimasak. Gimana?”

“Saya tunggu aja Dek, udah lama juga enggak makan gorengannya wak Togar. Rindu,”

“Abang kenal sama Opung Togar?”. Ah ternyata yang empunya masih keluarga wak Togar, tebakanku tepat.

“Kenal Dek, dulu waktu kecil Abang suka makan gorengan selepas mandi dari danau,”

“Wah, Opung pasti senang kalau jumpa Abang. Nama Abang siapa?”

“Togar, Dek,”

“Bang Togar yang sekolah di Jakarta?”

Aku mengangguk.

“Bu, Bang Togar pulang,” gadis itu berteriak, lari meninggalkanku.

***

Air mataku membuncah, memeluk erat tubuhnya. Ah, aroma tubuhnya masih sama tak berubah. Bagaimana bisa lupa, setiap malam sebelum tidur aku membaui bajunya. Rindu ini akhirnya terbalas, sekian lama tak berjumpa membuatku lupa raut wajahnya. Yang bersisa hanya suaranya yang setiap sebulan sekali menelpon, menanyakan kabar. Bahkan rela berbohong Ayah sedang bekerja dan sudah terlelap kelelahan saat aku tanyakan kabar.

Wajahnya sudah tak seindah foto di pigura, sudah banyak keriput di wajahnya. Bahkan dadanya yang dulu kencang dan jadi kebanggannya, kini telah mengendur. Dia bilang jadi tak percaya diri kalau keluar rumah. Makanya sebelum pulang ia mintakan oleh-oleh bra busa yang tebal supaya dia lebih percaya diri. Adikku menolak permintaannya, karena usia ibu yang sudah renta. “Permintannya aneh-aneh Bang, indak logis menurutku,” terangnya.

“Benar suksesnya kau di sana? Atau kau pura-pura sukses biar bisa pulang?” Alamak bukannya ditanyakan yang indah-indah, malah diintrogasi pula awak.

“Sukses benaran, ini oleh-olehnya banyak buat Omak. Kalau enggak sukses mana bisa Abang bawakan oleh-oleh ini,”

“Ah nanti berutang pula kau, tak sudi aku menerimanya.”

“Ini hasilku Bu, tak pakai hutang,” aku mengambil dompetku, ingin menunjukkan kartu namaku.

“Itulah mau kau tunjukkan aku bonmu. Tak mau aku lihatnya, kau simpanlah sendiri bayar sendiri. Tak ada uangku untuk bayar-bayar hutang.” Makjang belom siap awak tunjukkan udah di-repeti.

“Bukan bon Bu, ini kartu namaku,” aku menunjukkannya.

Omak mengangguk. “Kau simpanlah itu, udah percayanya aku. Aku cuman tak tanda kalau kau sukses, nampakku di tipi-tipi sukses itu pake kemeja berdasi, celana panjang, rambutnya klimis, sepatunya cantik. Nah kau, pakai kaos yang murah tiga puluh lima ribunya kaosmu itu di pajak (pasar), celanamu pun pendek macam kurang bahan, ditambah cuman pakai sendal. Ah, macam tak punya duit kau kunampak,” terangnya sambil menunjuk bajuku.

Aku terdiam, tak terpikir sedikit pun bahwa sukses sesederhana apa yang ditampilkan di televisi. Sekolot itukah omak-ku? Sudah dua puluh lima tahun tak jumpa, ternyata hobinya masih sama. Merepet. Tapi inilah justru yang paling kurindu saat merantau. Repetnya.

Kawanku nampak menahan tawa, tapi masih terdengar sedikit tawanya. Oh iya, aku lupa mengenalkannya.

“Udah kawin kau di sana? Kusuruh kau belajar dan sukses, bukan kawin. Tega kali kau kawin tak mengundangku.” Aku termangu.

“Siapa namamu, Boru (istri anak lelaki)? Maafkan Namboru (mertua) tak datang ke pesta kalian. Tak ada dia kasih tau Namboru, mana cucuku? Kalian bawanya dia?”

Sekar tersenyum bingung. Tampak sekali dia kaget dengan tembakan pertanyaan itu.

“Bu, ini kawan kerjaku bukan boru-mu. Belum ada aku kawin. Kami ada kerja di Danau Toba makanya dia ikut aku pulang,”

“Benarnya? Bohongnya kau? Mau kau kasih aku kejutan cucu? Di mana kalian sembunyikan? Butet cak kau tengok dulu, entah jajan dia di kede Wak Togar,”

Aku dan Sekar saling tatap.

“Mak, aku tak bawakan cucu untukmu. Sungguh. Kalaupun akan kawin aku ingin ibuku datang dan memberi restu,” aku mencoba menenangkan.

“Benarkah?” ia menatapku, menyelidik.

“Iya benar Mak.”

“Benarnya itu Boru?” ia menatap Sekar.

“Iya Tante, saya teman kerjanya bukan istrinya,”

“Eh tak boleh jawab begitu. Seharusnya jawabnya belum Namboru, jangan bukan.”

Sekar tersenyum.

“Sebelum balik kalian kawinlah biar cepat aku punya cucu,”

“Mak,” aku merengek, berharap ia menghentikan percakapan ini.

“Sudah kalian istirahat dulu, kau ke kamarmu mandi dan ganti baju. Kau boru-ku, istirahatlah dulu di kamar Butet nanti kalau sudah kawin baru istirahat di kamar si Ucok. Butet kawani dulu boru-ku. Setelah selesai mandi, ke meja makan kelen. Udah kumasakkan daun ubi tumbuk, ikan teri dan sambal tuk-tuk kesukaan si Ucok, ” pesannya.

About Portal Berita Pers Mahasiswa SUARA USU

Check Also

Tembune

  Oleh: Widiya Hastuti Kupandang desaku, desa yang hidup dan berputar dengan kopi ini. Gunung …