Home / Sosok / Rifdatus Sunniyah Alhida, Banggakan Keluarga Lewat Puisi

Rifdatus Sunniyah Alhida, Banggakan Keluarga Lewat Puisi

Oleh: Apriani Novitasari

Sejak kecil, ia telah jatuh cinta pada puisi. Membuat bangga keluarga dan punya penghasilan sendiri adalah motivasi terbesarnya.

Foto: Dokumentasi Pribadi
Foto: Dokumentasi Pribadi

Delapan tahun lalu, tepatnya saat Rifdatus Sunniyah Alhida duduk di kelas lima sekolah dasar (SD), ia baru dapat mengerti makna sebuah puisi. Kala itu, Ibu Rifda sedang sakit. Rifda ingin menyampaikan isi hatinya bahwa ia sangat menyayangi sang ibu.

Namun, hal itu tak dapat ia sampaikan mengingat hubungan dengan ibunya yang tak terlalu dekat. Rifda mengaku sejak kecil ia sudahdididik agak keras, bahkan ibunya pernah berkata, “Aku bukan seperti kawan-kawanmu. Jadi anggaplah aku sebagai ibu.”

Sebab itu, Rifda lebih memilih menulis puisi. Walau belum mengerti bagaimana menulis puisi dengan baik, yang terpenting saat itu ia ingin melampiaskan isi hatinya. Satu tahun sebelumnya, Rifda kelas empatSD, sebenarnya ia sudah mengenal apa itu puisi.

Beberapa kali Rifda diminta gurunya membacakan puisi di depan kelas.Bahkan pernah sekali ia diminta untuk membacakan puisi saat perpisahan murid kelas enam SD.

“Tapi waktu itu cuma baca aja, mulai tertarik menulis kelas lima, sejak nulis puisi untuk Bunda,” ungkapnya.

Sejak saat itulah Rifda sering menulis puisi. Tak jarang ia menunjukan hasil karyanya pada gurunya. Setelah itulah ia kerap ikut lomba baca puisi. Baik perwakilan sekolahnya maupun pribadi.

Hal ini sebenarnya kurang mendapat dukungan ibunya. Pernah saat ia duduk di kelas dua belas Sekolah Menengah Atas (SMA). Ia berhasil mendapat juara 3 dan membawa pialanya pulang.

Namun ibunya tak mengindahkan sambil berkata bahwa piala itu tak dibawa mati. “Setelah itu aku masuk kamar dan banting pialanya,” kenangnya. Sejak itu ia merasa terpukul. Namun, tak lama kemudian ia kembali bersemangat karena ia yakin ia memang berbakat.

Jadi ia berniat membuktikan hal tersebut kepada ibunya. Selain itu, ia juga ingin ibunya bangga dan mendapat penghasilan dari bakatnya tersebut.

Zubaidah, Ibu Rifda mengaku saat SMA, ia kurang setuju anaknyabergelut dengan puisi. Zubaidah ingin Rifda fokus belajar. “Selain itu, waktu SMA, Rifda juga kurang sehat,” ujarnya.

Saat ini, Rifda adalah salah satu mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik 2012. Berkat kecintaannya pada puisi akhirmya mengantarkannya pada berbagai prestasi.

Rifda sering meraih juara membaca puisi di berbagai daerah. Bahkan 2012 lalu ia mendapat juara pertama lomba membaca puisi pada DiesNatalis USU ke-60. Syukurnya, sejak saat itulah ibu Rifda mulai mengakui bakatnya dan mendukung Rifda.

“Lagian kasihan juga kalau dilarang terus,” ujar Zubaidah. Namun, bilaRifda mau ikut lomba atau acara ke luar kota, ia masih melarang untuk ikut.

Rifda bilang motivasi utamanya untuk berprestasi melalui puisi adalahuntuk mendapatkan penghasilan. ”Karena kami juga orang enggak berada, jadi termotivasi untuk dapat penghasilan sendiri,” ujarnya. Menurutnya, ia mencari uang untuk kebutuhannya sehari-hari bukan sebagai uang tambahan.

Ayah Rifda hanyalah pensiunan dari karyawan swasta dan ibunya tidak bekerja. Jadilah biaya kuliah Rifda sepenuhnya berasal dari beasiswabidikmisi.

Syarifah Rizkia Putri, sahabat karib Rifda membenarkan penuturan Rifda. Ia mengaku melihat Rifda sering mengikuti lomba agar tidak membebani orang tuanya. “Maka dari itu dia rajin ikut berbagai lomba, kalau menang, kan setidaknya cukup untuk uang saku sekalian tambah prestasi juga,” tambahnya.

Rifda mengatakan ibunya ingin ia menjadi dosen. Tetapi ia sendiri ingin menjadi penyair. Bahkan ia bercita-cita menulis sebuah buku antologi puisi, kemudian diterbitkan dan dibaca semua orang. Terutama dibacaibunya.

Kurang lebih dua puluh puisi telah ia ciptakan untuk ibunya. Hal itu tentu karena ibunya adalah inspirasi pertamanya menulis puisi. Ia bilang, ialebih suka menulis daripada berbicara. Maka dari itu ia tertarik menulis puisi.

Mengenai buku antalogi yang ingin Rifda buat, Zubaidah bilang Rifda belum pernah cerita. Namun ia pasti mendukung keinginan Rifda. Ia pun sering membaca puisi-puisi Rifda. “Kadang juga Rifda sering kirim puisi lewat sms,” katanya. Ia mengaku perasaannya bercampur saat membaca puisi Rifda, antara gembira dan sedih.

Tak hanya menulis puisi, untuk membacanya, Rifda mengaku tak pernah malu. “Ibaratnya urat malunya sudah putuslah untuk baca puisi,” katanya sambil tertawa. Yang ia inginkan adalah orang tahu keberadaan dia dan dia sedang membaca puisi di depan mereka.

Check Also

Brintik, Keriting, Nyeleneh Pula

Oleh:  Dewi Annisa Putri Gitar pertamanya didapat semasih SMP, dibelikan Ayah. Musik jadi hal yang …