Saga Mahasiswa Sehari-hari

0
429
Foto: Vanisof Kristin Manalu

Oleh: Lazuardi Pratama

Judul : Satu Semester Lagi
Penulis : Rimawarna
Penerbit : Dicetak secara indie
Tahun terbit : 2015
Jumlah halaman : 140 + iv Halaman
Harga : Rp 40.000
Foto: Vanisof Kristin Manalu
Foto: Vanisof Kristin Manalu

 

Kumpulan cerpen tentang balada hidup mahasiswa dan kampusnya. Masih miskin perspektif walaupun sukses mengulas sisi realistis mahasiswa.

Di suatu tempat, di universitas antah-berantah, tersebutlah Fajar, seorang mahasiswa baru (maba). Ia merasakan cinta pandang pertama pada seorang mahasiswi demonstran. Cinta pada pandang pertama itu bergejolak di antara demonstrasi mahasiswa yang tergabung dalam kelompok Aksi 98. Aksi 98 adalah semacam unit kegiatan mahasiswa tidak resmi yang gemar diskusi dan demonstrasi.

Oleh sebab ingin dekat dengan pujaan hati, Fajar coba mendaftar masuk. Sebuah motivasi yang polos. Setelah wawancara masuk organisasi, pengertian Pancasila, teori dekonstruksi Jacques Derrida, posmodernisme, fundamental moralisme ekonomi, bla-bla-bla, tibalah demonstrasi di depan Istana Negara. Fajar diserahi tugas sebagai orator.

Tugas keren bin luar biasa itu kemudian hancur berkeping-keping gara-gara pertanyaan-pertanyaan realistis reporter televisi.

“Turunkan harga BBM atau berantas korupsi!”

“Kenapa di Istana Negara? Kenapa enggak Gedung MPR/DPR?”

“Tapi presiden yang bertanggung jawab!”

“Bertanggung jawab gimana?”

“Ya, pokoknya begitu!”

“Katanya ada nasi bungkus?”

“Eh… anu.”

Itulah potongan cerpen berjudul Sangkut karya Dan TD. Sindiran perih atas budaya laten sebagian aktivis mahasiswa: canggih bicara, miskin isi kepala.

Ada lima cerpen tentang mahasiswa lagi dalam buku ini. Ksatria Merahku karya Meka Medina yang bercerita tentang mahasiswa dan tukang ojek daring, My-Jek; Pelangi di Balik Guntur oleh Fariz Rusli tentang seorang mahasiswa genius juga antisosial bernama Guntur dan cewek supel bernama Pelangi yang meruntuhkannya; Agen Perubahan oleh Lee Han tentang aktivis mahasiswa yang berjuang menolak kebijakan kantong parkir di kampusnya; dan Lulus oleh Shengar tentang mahasiswa semester akhir yang malas tamat karena nyaman menjadi mahasiswa.

Ada pula cerita ekstra yang berjudul Ketika Data Hilang oleh Barhan tentang penderitaan seorang mahasiswa ketika data penelitiannya hilang bersama flashdisk yang rusak. Bagai jatuh tertimpa tangga, jatah kuliahnya tinggal sebulan sebelum putus studi.

Kumpulan cerpen berjudul Satu Semester Lagi ini adalah sekuel dari kumpulan cerpen berjudul Semester yang terbit tahun 2014 lalu. Keduanya setipe: sama-sama bercerita tentang seluk-beluk kehidupan menarik mahasiswa. Satu Semester Lagi ini dirilis pertama kali untuk Comic Frontier 6, pameran karya kreatif Indonesia di Jakarta, 22 hingga 23 Agustus lalu. Sekarang Rimawarna menjual kedua buku tersebut secara daring lewat halaman Facebook-nya.

Keenam penulis tadi, editor, dan ilustrator—iya, buku ini dilengkapi ilustrasi satu halaman per cerpen—yang mengerjakan buku ini tergabung dalam satu lingkar pertemanan bernama Rimawarna. Mereka ini awalnya berasal dari Anime & Manga Haven, salah satu subforum di Kaskus. Karena sama-sama memiliki latar belakang sebagai mahasiswa, akhirnya mereka membuat Semester dan dilanjutkan dengan Satu Semester Lagi ini. “Lagian juga bisa dijadikan media curhat,” kata Winsen Tandra, pemimpin proyek sambil terkekeh.

Di buku Semester sebelumnya, ada cerita tentang mahasiswa semester tua yang memilih minum tiga puluh pil tidur karena lelah dengan skripsi. Ada pula cerita tentang mahasiswa apatis dan skeptis terhadap kampanye pesta demokrasi tahun lalu. Kemudian ada lagi cerita mahasiswa yang dihantui bayangan nyata mantan pacarnya.

Dalam kedua buku, ada total masing-masing tiga cerpen tentang skripsi dan aktivis mahasiswa. Winsen berkata lewat pesan Facebook bahwa itulah daya tarik cerita tentang mahasiswa. Ya, jelas, sejak zaman skripsi dijadikan kunci kelulusan dan seiring berkembangnya dunia sosial, ia begitu banyak dieksploitasi. Begitu juga dengan aktivis mahasiswa dalam kedua buku ini.

Namun, itu jua yang melemahkan buku ini. Ada lebih banyak problematika mahasiswa yang sering dialami namun luput dari perhatian khalayak. Ya, bisa saja seperti balada goyahnya iman mahasiswa religius yang memilih tinggal di musala, atau mahasiswa berprestasi yang manja, atau mahasiswa baru yang kena tindas seniornya, atau masih banyak lagi.

Banyak segi dari kehidupan mahasiswa yang layak untuk digali. Oleh sebab itu, buku ini sebetulnya potensial. Kendatipun begitu, Rimawarna menawarkan segi unik lain. Lewat kedua bukunya tersebut, mereka menyuguhkan pesan sederhana: mahasiswa adalah manusia. Manusia dalam tahap peralihan, antara dua belas tahun terkekang sistem sekolah dengan kebebasan individu sebagai pribadi dewasa.

Cerpen-cerpen di dalamnya adalah gambaran realistis atas hal itu. Dan tentu saja tergantung perspektif si penulis. Seperti bagaimana depresi dan absurdnya pikiran seorang mahasiswa karena data penelitiannya hilang dalam kesia-siaan. Walaupun juga terkesan berlebihan dalam sudut-sudut tertentu. Seperti mengapa mahasiswa sosiopat dan antisosial garis keras bisa jadi ketua panitia acara terbesar kampus, atau pengemudi My-Jek yang masih bisa ngobrol santai dengan penumpangnya ketika motor sedang ngebut di jalanan.

Terlepas dari itu, beginilah beberapa gambar hidup mahasiswa masa kini yang berhasil dipotret Rimawarna. Secara tersirat terasa seperti menyindir, namun menimbulkan nostalgia dan rasa kedekatan.

Tulisan ini pernah dimuat pada Rubrik Resensi Tabloid SUARA USU Edisi 104, September 2015.

 

Komentar
(Visited 43 times, 1 visits today)