Home / Cerpen / Sembah (yang) Hilang

Sembah (yang) Hilang

Ilustrasi : Adinda Zahra Noviyanti.

 

Oleh: Adinda Zahra Noviyanti

Dia datang lagi. Seperti biasa, tak lupa hadir dengan pesan dalam doa. Ia berdoa; restu datang terus seperti yang ada di kepala. Doa tiba memaki kesialan berdatangan dengan sialan. Ujung bibirku mereka dengan seksama. Mengikuti alis biadap memancarkan kegigihan sombong tanpa pensilnya. Bagaimana jika kugosokkan tintanya agar lebih tegas kebencian itu.

Malam-malam mungkin datang bersama pohon yang menunduk. Magrib berkumandang, lonceng kuil berkerincing, para uskup masih berdoa dalam tangannya. Saat itu pula, petani pulang berasama cangkul dan uang lima ribu. Para kantoran sudah tiga jam lebih dulu dengan memotang satu jam.

Aku, Azzieh masih sibuk dengan buku Teori Pembangunan karya Arief Budiman yang dicoret-coret karena ketidakmengertian, kebodohan, kelinglungan, dan keingintahuannya. Banyak yang tidak dimengerti bukan berarti mereka hilang. Mereka dicatatnya dengan seksama. Dan, semua sibuk dengan sembahyangnya; kecuali aku.

Sampai nenek memanggil. Suara nenek-neneknya tek terelakkan. Ajakan sembahyang memang lebih sering datang dari dia. Ditunggunya aku. Lantas dengan semangat kusahut “Ia, nenek lebih dulu saja. Zieh mandi sebentar”.

Aku sentak kaget dengan sahutanku. Aku sudah rencanakan untuk menolak ikut sembahyang. Apa yang diceritakan nenek waktu kukecil baru sekarang terpikirkan jawabannya. Soal bukit, burung, langit, tanda, mata, semua. Dan berakhir kenapa? Aku tak kunjung paham paham.

Aku memulai prosesi yang sempat ingin kulupakan: Berdoa. Bahkan hampir kandas sendirinya oleh terorisme, komunisme, anarkisme, modernisme, dan setan-setan lainnya. Mama berseru jadi tidaknya. Aku hanya balas bahwa berdoa tidak perlu disuruh Mama, Ayah, ustad, uskup, pendeta, atau diminta Janson Ranti. Beberapa menit lagi kulakukan.

Aku berjalan sambil berusaha mengingat kembali lafalnya. Ternyata masih ingat kalimat perkalimat. Panggilan sudah datang lagi, kali ini bukan dari nenek. Dia terdengar lebih kencang. Tanpa peduli aku tetap santai berjalan. Ranting pohon menyapa dan bertanya, “Hai bagaimana bisa kau berjalan tanpa tujuan”.

Dasar ranting Mahoni bangsat. Aku memaki tiada henti. Berdoa, meminta, menyembah. itu tujuanku, bagaimana dia bilang aku berjalan tanpa tujuan. Dia kira apa di dunia ini yang hidup tanpa tujuan. Kotoranku lembu saja masih berguna bagi kehidupan akar tunggangnya itu. Berani sekali dia menghakimi rohku hingga tak bersemangat berjalan.

Tak peduli, Ranting kutinggalkan. Aku tak mau melawannya, jika marah oksigennya tak disumbangkannya lagi. Aku bisa mati. Aspal tak tinggal diam. Dia bilang tak sudi dijalani olehku yang berjalan tanpa tujuan yang benar. Menyingkir diperintahkannya. Tak kugubris. Dia hanya aspal, aku bisa hidup tanpanya. Tetap kuinjak tubuhnya yang keras. Karena memang itulah tujuannya.

Dengan lengkingan keras, jangkrik malam berteriak menyeru. Dia menyampaikan salam untuk  kecoa di kamar mandi yang muncul pukul tiga pagi. Jangkrik selalu buat bahagia. Dia samarkan deru mesin dan makian manusia, serta mengiringi matahari ke peraduannya.

Perbincangan lebih asik dengan jangkrik, ketimbang ranting maupun aspal. Jangkrik lebih mengerti suasana hatiku.

Dengan lembut, kali ini tanpa lengkingan jangkrik berkata, “Kau tak perlu jawab atau bantah aku. Silakan jika kau tak setuju Zieh. Hidupku tak panjang memang, tapi jangkrik terdahulu salalu menceritakan tentangmu. Sebab kau yang pertama di sini, menjaga rumah kami. Kami menyayangimu begitupun ranting dan aspal. Semua menghawatirkanmu. Kau pergi berdoa tapi tak seperti dulu lagi. Dulu kau tahu kenapa harus pergi. Kau kehilangan sembahyangmu yang dulu”.

Apa-apaan. Aku mulai jengkel dengan semua teman. Menyalahkanku itukah tugas mereka hidup di dunia ini? Tak pantas menghakimku. Tujuan hidup mereka hanya melengkapi manusia. Jadi tak perlu berlagak lebih tahu.

Panggilan terakhir sembayang meruah ke penduru desa. Aku bergegas meninggalkan jangkrik, ranting, aspal, dan semua teman. Kulepas sandal di batas suci. Kanan kiri penuh dengan sembahyang sama seperti biasa. Wanita berwajah keriput melambaikan tangan menunjukkan tempat kosong untuk melaukan penyembahan.

Aku memulai mengikuti penghantar. Semua kalimat masih kuingat tapi dia kosong. Kalimat tanpa arti. Aku membuncah dalam ramai yang hening. Dalam doa, pinta, pujian para hamba-Nya. Penghantar perintah dan langsung kuselesaikan. Bukan tanpa tujuan, supaya nenek tidak marah, jantungan dan akhirnya mati. Atau Ibu dan ayah yang terus bertanya kenapa tidak sembahyang. Atau tetangga yang melontarkan kafir.

Aku tidak tahu Nek. Tidak seperti biasa. Ada bingung dalam sembahyangku. Doa-doa tiba-tiba hilang berganti dengan Teori Andre Frank, Bill Waren, juga ada Cardoso  Mereka semua sialan. Doaku mereka keroyok. Buku biadap kau biilang. Atau kaulah yang biadap itu Azzieh.

Ada apa denganku, Nek? Kelihatannya aku kehilangan sembah yang pernah singgah. Dia pernah datang dari Ibu dan Ayah. Kini aku sengaja menghilangkannya. Dalihku mencari. Padahal aku bingung apa yang kucari. Aku hanya mencari yang hilang. Kata mereka dicari karena hilang atau yang tidak ada. Kalau yang tidak ada tak perlu dicari. Aku mencari yang hilang. Tapi yang hilang mencari yang tidak tahu atau tidak. Benar kata ranting, aspal dan jangkri. Aku kehilangan sembahku.

“Sudah jangan lanjutkan ucapanmu Zieh, kuminta kau sembah karena Dia memang ada tapi kau membangkan dan mencari celah ketiadaan. Kau merasa tidak cukup bukti keberadaannya dari primbon itu. Aku bukan nenekmu lagi ketika kau putuskan menghilangkan sembahyang,” kutuk Nenek.

About SUARA USU

Check Also

Abnormal

  Oleh : Yael Stefany Sinaga Ada benarnya. Hanya sang penenun waktu yang tahu jawabannya. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *