Home / Opini / Sepak Bola dan Politik, Bertolak Belakangkah?

Sepak Bola dan Politik, Bertolak Belakangkah?

Aksi Bobotoh membuat koreo ‘Save Rohingya’. | Sumber Istimewa

Oleh: Syafril Agung Oloan Siregar

Dua bulan sejak PSSI memberikan hukuman untuk Persib Bandung atas aksi Bobotoh atas koreo ‘Save Rohingya’. Sebegitunyakah politik dipisahkan dari sepak bola?

Amarah Bobotoh mengamuk baik di jagad online maupun dunia nyata kala Komisi Disiplin Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) menjatuhkan hukuman denda atas koreo yang bertulisan ‘Save Rohingya’. Uniknya pada saat itu, seakan membalas Bobotoh melakukan sebuah aksi menarik. Mereka mengumpulkan uang demi membayar denda.

Ini bukan kali pertama sebuah tim sepak bola dihukum oleh otoritas sepak bola. Sebelumnya, pada laga Liga Champions 2016/2017, Fans Glasgow Celtic juga harus dihukum oleh Union European Footbal Associations (UEFA). Penyebabnya? Fans Celtic mengeluarkan bendera Palestina di tengah pertandingan. Sesuai peraturan Federation of International Footbal Association (FIFA), otoritas tertinggi sepak bola, politik memang harus dijauhkan sejauh-jauhnya dari sepak bola.

Jika dilihat, politik takkan bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Politik sudah pasti mendarah daging dalam tubuh manusia. Sesuai dengan teori politik Aristoteles; politik adalah usaha yang ditempuh untuk mewujudkan kebaikan bersama. Menurut Thomas Aquinas, politik identik dengan tujuan manusia yaitu mencapai kemuliaan abadi dalam hidup.

Jika dilihat dari sisi hak asasi manusia pun, politik adalah hak dasar manusia. Mengapa kita harus mempersempit hak ini untuk sepak bola? Sedangkan para elite politik sering terlihat menonton sepak bola. Bahkan, beberapa menjadikan sepak bola alat kampanye.

Kembali ke masa pergerakan kemerdekaan. Kala itu, Soeratin Sosrosoegondo dan rekan-rekannya mendirikan PSSI. Mereka bermain sepak bola bukan sekadar olahraga. Tetapi juga sebagai alat pergerakan. Melalui sepak bola mereka mengajak rakyat untuk bergerak melawan penjajah. Sepak bola adalah alat politik untuk mencapai tujuan. Tan Malaka bahkan menghubungkan sepak bola dengan jati diri bangsa.

Berbicara sepak bola dan politik, kita bisa lihat betapa panasnya referendum Katalunya. Sebagai imbasnya, pertandingan Barcelona melawan Las Palmas bahkan harus dilangsungkan tanpa penonton. Hal ini bisa juga dilihat dari betapa bersemangatnya pemain Girona kala menjungkalkan Real Madrid beberapa hari setelahnya.

Jika sepak bola memang harus berpisah dengan politik, untuk apa liga diadakan di masing-masing negara? Kenapa tidak satukan saja? Bukankah negara itu bagian dari politik itu sendiri? Saya tidak mau bersifat naif. Akuilah, sepak bola takkan mampu dipisahkan dari politik.

Gerard Pique, pemain bertahan Barcelona, sempat mempertanyakan mengapa ekspresi politik seorang pesepak bola harus ditekan. “Kami adalah pesepak bola. Tetapi, kami juga adalah orang biasa. Mengapa seorang jurnalis atau seorang mekanik boleh mengekspresikan diri mereka sedangkan kami tidak?” ujarnya.

Salah satu aksi ekstrem pesepak bola dalam menyampaikan ekspresi politiknya di dalam lapangan adalah kala Nicolas Anelka, mantan pesepak bola Perancis, memperagakan quenelle yang dipopulerkan oleh Diudonne M’balla, Aktivis Politik sekaligus Komedian Perancis. Quenelle dianggap sebagai gestur antisemitisme dan ini adalah gestur yang cukup sensitif bagi Yahudi.

FourFourTwo pernah melansir bahwa pertandingan kualifikasi Piala Asia 2019 antara Malaysia dan Korea Utara harus ditunda berkali-kali. Hal ini dikarenakan hubungan kedua negara yang sedang panas pascapembunuhan Kim Jong-Nam. Mengapa harus ditunda? Bukankah itu hanyalah masalah politik? Politik dan sepak bola kan tidak berhubungan?

Sepak bola merupakan sesuatu yang ekspresif. Begitu pula politik. Ingin menyampaikan dukungan terhadap suatu isu? Silakan. Ingin memisahkan politik dari sepak bola? Sebaiknya jangan. Mana yang lebih aneh? Menyampaikan aspirasi lewat sepak bola atau menjadikan sepak bola alat politik dan alat kampanye menyebarkan janji palsu.

Seharusnya FIFA dapat mengerti hal ini. Mereka harus sadar bahwa insan persepakbolaan juga manusia biasa yang juga ingin menyatakan aspirasinya. Mereka bukan robot pencipta uang. Jika para elite politik saja menjadikan sepak bola batu loncatan, mengapa kita harus antipolitik di dalam sepak bola?

About SUARA USU

Check Also

Demonstrasi Mahasiswa : Masih Perlukah?

  Oleh: Surya Dua Artha Simanjuntak “Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *