Home / Cerpen / Sesal

Sesal

Ilustrasi : Nadiah Azri Br Simbolon

 

Oleh: Nadiah Azri Br Simbolon

Setiap orang mempunyai kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Saat seseorang menawari kesempatan kedua, dengan egoisnya aku pun tidak akan melepaskannya.

Pagi tadi aku ditawarkan oleh seniorku untuk menemaninya berbuka puasa bersama. Aku yang memang pada saat itu tidak ada rencana untuk kemana-mana dan tak berniat untuk cepat pulang, langsung menyetujuinya. Sembari menunggu sore, aku hanya bergolek-golek di tempat yang dua hari ini aku menumpang tidur, sambil iseng mengisi teka-teki silang pada halaman koran. Biasanya jika tidak ada kerjaan, aku akan membaca buku. Namun, aku rasa mood-ku tak terlalu bagus untuk melakukannya.

Tiba-tiba saja rasa kantuk menyerangku. Ini akibat aku bergadang semalaman mengerjakan tugas kuliah yang menumpuk seperti tak ada habisnya. Ditambah lagi kerjaan organisasi yang semakin berkembang biak bila aku tak mencicilnya satu persatu.

“Nad, bangun. Temani dulu kawanmu cari referensi,” ucap salah satu seniorku.

Padahal baru saja aku memejamkan mataku, dunia mimpi pun belum ku jamah. Ada saja gangguan dari makhluk-makhluk-Mu. Tak bisakah aku menikmati tidur siangku, ya Tuhan.

“Malas, kak. Aku mau menulis,” alasanku yang sengaja kubuat-buat agar ia tak mengganggu tidurku leih lanjut.

“Ya sudah.”

Aku mengira ini sudah selesai. Namun tanpa kuduga makhluk itu mengeluarkan senjata andalannya, apalagi kalau bukan ancaman. Bergegas aku langsung berdiri dan langsung melaksanakan perintahnya. Aku disuruh untuk mengajarkan ilmuku pada teman sebayaku. Bukannya sok pandai, namun aku memang lebih berpengalaman karena aku diterima lebih dahulu dalam organisasi ini. Sebenarnya aku agak terpaksa karena rasa kantukku masih saja menghantui terlebih lagi aku tak membawa scoopy kebanggaanku hari ini. Sehingga mau tak mau kami harus berjalan ke tempat yang kami tuju.

***

“Ayo, Nad. Bukber kita,” ajak seniorku yang lainnya.

“Oke kak,” balasku dengan semangat. Siapa coba yang tidak semangat saat ditawari makanan gratis.

Aku pikir bukan tanpa alasan dia mengajakku untuk buka bersama. Mengingat hanya aku yang berpuasa pada hari ini. Selama dalam perjalanan, kami saling bercerita. Entah itu mengenai organisasi, kehidupan pribadi, maupun pengalaman masing-masing. Namun aku juga memperingati seniorku untuk tetap fokus kejalanan karena aku tahu seperti apa ganasnya jalanan. Ia akan memangsa darah siapa saja yang meremehkannya. Terlebih orang-orang yang berjalan angkuh diatasnya. Jalanan takkan diam saja. Ia pasti akan menghukum orang tersebut.

“Kak, agak pelan sedikit bawa kendaraannya,” ucapku memperingatinya.

“Memangnya kenapa? Biasanya kan kau juga kayak gini bawa motornya.”

Aku meringis. Mengingat kejadian yang pernah menimpaku.

“Kenapa? Pasti udah pernah kejadian kan?,” tebaknya tepat sasaran. Namun aku hanya diam, takut kejadian itu menimpaku kembali.

 

***

Ku pandangi cakrawala, senja terlihat sudah mendatanginya. Sengatan sinar matahari sudah tak tampak, aku terus melajukan Scoopy blackgold-ku. Menghirup abu-abu jalanan. Lekatnya bau aspal bercampur asap-asap kendaraan membuat mata siapa saja memerah apabila ia tak memakai pelindung, aku salah satunya.

Tak peduli jalanan macet, aku terus mengklakson setiap pengendara yang mengusik jalanku. Lampu merah pun aku terobos. Namun tiba-tiba terdengar bunyi pedal rem yang sangat memekakkan telinga. Mau tak mau aku juga langsung menghentikan laju kereta–sebutan sepeda motor di kota Medan–ku. Kulihat bapak tua dengan skuter tuanya berhenti di hadapanku. Tanpa basa-basi, ia mengacungkan telunjuknya ke wajahku, berteriak, menyumpah serapahiku, hingga ludah-ludahnya pun mengucur deras menyimprat ke wajahku.

Aku melotot kesal kearahnya. Menatapnya tajam hingga menusuk ke dalam pupil matanya. Hendak mengumpat namun mengingat rasa hormatku pada yang lebih tua jadinya aku mengurungkan niatku. Langsung saja aku memacu kembali scoopy-ku. Sepanjang perjalanan aku tak berhenti terus menggerutu. Setiap pengendara yang mengemudikan kendarannya, entah itu mobil, becak, kereta, sepeda, bahkan pejalan kaki selalu aku klakson.

Tak terasa matahari sudah berganti dengan rembulan. Tak mau ada apa-apa diperjalanan menuju rumah aku bergegas pulang. Saat mau mengantarkan si kawan pulang, dia malah berkata hendak dijemput dengan sama pacarnya saja. Dengan alasan dia tidak mau nyawanya hilang karena dibonceng olehku.

Sungguh aku benar-benar kesal. Kesabaranku sudah hampir habis. Aku terus mengomel didepannya. Kenapa tak sedari tadi dia mengatakan tidak mau pulang denganku. Bangsat, waktuku yang berharga terbuang percuma hanya karena menunggu kawan nggak tahu diri sepertinya.

Dengan amarah yang sudah memuncak, aku langsung menancapkan gas scoopy-ku. Berkendara secepat kilatan petir. Aku menyalip kendaran hingga tak jarang mereka mengklakson dan mengumpatku. Namun tiba-tiba saja seorang pejalan kaki dengan bodohnya menyebrang jalan tidak melihat sekitarnya. Dan yang lebih sialnya lagi akulah korban dari pejalan kaki bodoh itu. Scoopy-ku mendadak oleng ke kanan. Niat untuk menghindari si pejalan kaki, Tak disangka aku menyerempet kereta yang berada di sebelah kananku.

Seketika waktu terasa berhenti. Aku terpental, terbang, dan mendarat dalam hitungan detik. Badanku lemas, keringat dingin mengucur disekujur tubuhku, tangan dan kakiku gemetaran. Mataku dengan sendirinya mengeluarkan tetesan air tanda aku tak sanggup menahan sakitnya aspal jalanan. Untuk berpikir saja aku tak bisa. Konon mau menggerakkan kakiku dan menopang badanku untuk berdiri. Aku terdiam di tempat.

Saat kumenolehkan kepalaku ke kiri, aku melihat kondisi scoopyku terbaring mengenaskan di samping kereta pengendara yang kutabrak. Aku tak sanggup melihat kondisi pengendara tersebut. Aku takut. Seandainya aku melihatnya, pengendara tersebut pasti mendumel, meminta ganti rugi kendaraannya yang rusak. Belum lagi, uang check up kesehatannya atau bisa saja ia melaporkanku ke pihak berwajib sebab aku berkendara tak memakai helm dan tidak mempunyai SIM.

Ah sial, ini semua karena si penyebrang jalan itu. Jika saja bukan karena dia, kejadian ini pasti takkan terjadi. Lamunanku seketika buyar saat sel sarafku menangkap pergerakan dari arah sampingku. Aku melihat dia berdiri dan membersihkan sekujur tubuhnya. Namun, hal aneh yang kubayangkan tidak terjadi. Dia hanya mendengus dan mengataiku agar memakai otak saat berkendara.

Entah kenapa kecelakaan ini membuat hatiku jadi sentimentil. Mendengar perkataannya air mata melesak jatuh dan tak terasa mengalir deras. Aku menangis di hadapan si pengendara tersebut dan bermohon padanya agar tak melaporkanku ke polisi. Terlihat tanda ia juga mulai emosional dan tak tega dengan kondisiku yang sangat kacau balau. Ia pun membiarkanku pergi tanpa membayar kerugian apapun.

Dengan gemetaran aku mencoba untuk berdiri menopang tubuhku dan mengangkat scoopyku. Aku meminta maaf pada si pengendara untuk kesekian kalinya  dan mulai menyalakan kembali scoopyku. Aku masih terkejut atas kejadian tadi. Badanku masih terasa sakit. Terlebih lagi pahaku yang bisa kurasa akan membiru dan membengkak. Hal yang tak pernah terjadi padaku.

Kejadian tersebut terus terngiang di benakku sepanjang perjalanan menuju rumahku. Aku membayangkan bagaimana bila tadi aku langsung mati di tempat. Atau apabila pengendara tersebut mati. Air mataku menetes kembali. Aku tak sanggup memikirkan kecelakaan tadi.

“Woi, Nad. Jangan bengong aja kau, turun cepat. Udah sampai,” teriak seniorku mengagetkanku.

“Eh, udah sampai ya kak?,” tanyaku cengar-cengir karena sedari tadi aku berada dalam dunia khayalku.

Aku pun langsung turun dari motor dan menuju tempat yang dituju.

 

About SUARA USU

Check Also

Al (Masih)

  Oleh : Sagitarius Marbun “Salibkan dia, salibkan,” teriakan-teriakan itu mengelegar di seantero negeri. Tidak …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *