Home / Resensi / Sketsa Dunia Virtual Abad Milenial

Sketsa Dunia Virtual Abad Milenial

Sumber istimewa

Oleh: Widiya Hastuti

Judul Ready Player One
Sutradara Steven Spilberg
Penulis Novel Ernest Cline
Pemeran Tye Sheridan, Olivia Cooke, Mark Rylance,  Simon Pegg, Ben Mendelshon
Rilis 11 Maret 2018
Durasi 140 Menit
Genre Fiksi Ilmiah, Petualangan, Aksi

 

“Meskipun kenyataan itu menakutkan dan menyakitkan itu juga satu-satunya tempat kau mendapatkan makanan yang layak, karena kenyataan adalah nyata,”— James Halliday (tokoh)

Mari mengintip pertengahan abad 21. Begitu film Ready Player One bercerita. Kau dapat membayangkan bagaimana kehidupan dipenuhi teknologi virtual 3D yang nyata. Menimbulkan perbedaan tipis antara dunia nyata dan maya.

Disutradarai Steven Spilberg tentu penonton tidak perlu ragu lagi dengan Ready Pleyer One. Lihat saja film-film garapannya Transformer, Jurassic Park, Super 8 dan lainya. Diangkat dari novel Ernest Cline dengan judul yang sama, Ready Pleyer One yang merupakan film fiksi ilmiah—aksi, petualangan juga memiliki kekhasannya sendiri.

Bercerita di tahun 2045, di mana masyarakat lebih menikmati hidup dalam dunia maya bernama OASIS ciptaan James Halliday (Mark Rylance), ilmuan yang tidak percaya diri dan Ogden “Og” Morrow (Simon Pegg). Cerita berputar pada Wade Watts (Tye Sheridan) sang tokoh utama yang tidak memiliki keluarga tinggal di salah satu tempat di Ohio bernama The Stacks. Cerita berputar pada petualangan Wade dan seluruh pengguna OASIS untuk mendapatkan telur ciptaan James Halliday. Penemu telur itu akan mewarisi kekayaan OASIS milik James Halliday yang telah meninggal.

Sumber istimewa

Mari beralih dari petualangan yang sama seperti petualangan pada umumnya dengan sedikit aksi. Ayo melihat bagaimana Redy Paleyer One menunjukan dunia yang akan kita arungi di pertengahan abad 21 ini. Manusia sibuk dengan dunia maya OASIS yang diciptakan Halliday . Kau dapat menjadi apapun di sini. Memiliki avatar yang langsing, gemuk, imut, hingga kuat. Tampan atau abstrak. Semua sesuai keinginanmu. Kau dapat berselancar di laut dengan ketinggaan sekian ratus kaki, meluncur di Piramida. Intinya semua yang kau inginkan bisa kau dapatkan di dunia maya OASIS ini.

Bukankah hal di atas telah terjadi saat ini. Kau akan mengunggah foto atau videomu di media sosial setelah mengeditnya dengan banyak filter sesuai keinginanmu. Menghilangkan jerawat, meniruskaan pipi, melebarkan mata. Menggunakan stiker berbentuk hewan-hewan juga bukan hal baru. Tak ada yang ingin wajah nyatanya—sering kali selalu lebih kusam dari foto—terpampang di dunia maya. Pilihan lainya kau tidak akan mengupload foto sama sekali. Tidak masuk dalam dunia OASIS.

Semua orang yang ada di Ohio digambarkan sibuk dengan dunia mayanya. Di kamar, di ruang tamu, di jalan, di semua tempat orang sibuk dengan dunianya. Tidak ada yang mempedulikan orang di sekitarnya. Hanya tertuju pada satu pandangan. Dunia yang dinginkanya terpampang di hadapan matanya. Berkenalan dengan orang baru di dunia baru. Dunia lain yang diciptakan bersama imajinasi yang terasa nyata.

Sekali lagi, ini bukan hanya sekedar film fantasi. Tidak peduli dengan lingkungan sekitar juga terjadi saat ini. Bukankah saat reuni dengan teman SMP, SMA, bahkan kuliah kalian akan lebih memilih memegang gadget. Memamerkan mereka melalui instastory untuk menunjukan bahwa kalian sedang bersama. Kemudian sibuk membalas komentar yang diberikan teman di seberang lokasi sana. Sedangkan teman kalian juga melakukan hal yang sama. Lebih menyenangkaan berceita melalui vidio call daripada bercerita saat reuni. Mana yang akan dilakukan banyak orang, menolong korban kecelakaan atau mengabadikan momen langka tersebut? Tentu yang kedua jawabanya.

Pada akhirnnya dunia maya menjadi momok menakutkan bagi dunia nyata. Tak hanya dari segi kehidupan sosial. Ekonomi menjadi momok menakutkan lainya. Saat dunia maya menjadi ladang uang, para kapitalis berebut menciptakan dunia-dunia maya lainya yang menimbulkan persaingan. Merebutkan OASIS yang memiliki saham tertinggi menyebabkan pertumpahan darah dunia nyata juga pencemaran kehidupan sosial. Bagaimana tidak, kau hanya peduli dengan dunia mayamu, sedikit intraksi dengan sesama manusia.

Di akhir cerita kita memasuki babak –yang saya sebut—penyadaran. Untuk mendapatkan telur wasiat, Wade harus mengenali Halliday melalui jurnal-jurnalnnya. Bersama art3mis, teman yang ia temukan di OASIS Wade memahami Halliday. Orang yang depresi dengan ciptaanya sendiri karena dunia nyata tak dapat ia raih. Halliday putus cinta dan kehilangan temannya.

Begitu pula dengan Wade yang meyukai Art3mis, meski ia memiliki segalanya di OASIS namun ia tidak dapat merasakan kasih sayang sesungguhnya di dunia maya. Orang harus berinteraksi lebih bayak di dunia nyata.  Segala yang ada di dunia maya adalah semu.

“Kenyataan adalah satu-satunya hal yang nyata” pesan Halliday pada Wade. Tidak ada dunia di mana kau mendapatkan kenyataan selain dunia nyata. Kau tidak perlu mengubah dirimu di dunia maya, biarkan orang mencitaimu dengan apa adannya. Dunia maya tidak lebih hanya sebagai jaringan antar manusia. Begitu film ini berpesan.

About SUARA USU

Check Also

Gadis Pantai, Kontradiksi Feodalisme Jawa

  Oleh: Widiya Hastuti Judul Gadis Pantai Penulis Pramoedya Ananta Toer Penerbit Lentera Dipantara Tahun …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *