Home / Resensi / Sorry to Bother You: Komedi Absurd Anti Kapitalisme

Sorry to Bother You: Komedi Absurd Anti Kapitalisme

Sumber Istimewa

 

Oleh: Surya Dua Artha Simanjuntak

Judul Sorry to Bother You
Sutradara Boots Riley
Pemeran Lakeith Stanfield, Tessa Thompson, Jermaine Fowler
Penulis Skenario Boots Riley
Rilis 13 Juli  2018
Durasi 111 Menit
Genre Komedi, Fantasi, Sci-Fi

 

Ketika fantasi absurd dinarasikan ke dalam film komedi untuk dijadikan bahan kritik sosial, maka jadilah Sorry to Bother You.

Dengan wajah was-was, Cassius Green (Lakeith Stanfield) duduk di dalam ruangan berukuran sekitar 4×5 meter. Di depannya, terlihat pria berbadan gempal sedang berdiri memegang secangkir kopi di tangan kanan dan beberapa lembar kertas di tangan kiri. Posisi mereka hanya dipisahkan oleh sebuah meja. Di atas meja tersebut, terpampang papan nama yang bertuliskan Anderson, Manajer dari perusahaan telemarketing bernama RegalView.

Bermodalkan nekat, Cash—panggilan akrab Cassius—mencoba melamar menjadi telemarketer di RegalView. Beruntung, walau sudah ketahuan berbohong, sang Manajer Anderson (Robert Longstreet) tetap menerima lamaran Cash. Langkah awal Cash dalam menggapai ‘the American dream’ pun dimulai.

Sebelumnya, Cash hanyalah seorang pria tanggung yang tak punya pekerjaan maupun keahlian khusus. Bersama pacarnya, Detroit (Tessa Thompson), ia tinggal di garasi pamannya Sergio (Terry Crews), yang sudah empat bulan tak ia bayar uang sewanya.

Hidup Cash mulai membaik ketika ia diterima bekerja sebagai telemarketer di RegalView. Awalnya, Cash sempat kesulitan menjual produk ke calon pelanggan yang ia hubungi. Namun, keadaan berubah ketika rekan kerjanya, Langston (Danny Glover), memberi tips agar Cash menggunakan ‘white voice’.

Mengacu dari urbandictionary.com, white voice diartikan sebagai cara berbicara atau pemilihan kata-kata orang non-kulit putih kepada orang kulit putih. Digunakan agar terdengar lebih sopan dan membuat orang itu tampak lebih ramah.

Tak disangka, ternyata Cash punya bakat tersembunyi menggunakan white voice. Ia tak lagi mengalami kesulitan menjual berbagai produk yang ia tawarkan kepada calon pelanggan. Bahkan, sang manajer tak ragu memberitahu bahwa Cash akan segera dipromosikan ke posisi yang lebih tinggi, yang disebut ‘penelepon sakti’.

Di tengah karir Cash yang sedang menanjak, teman sejawatnya, Squeeze (Steven Yeun) dan Salvador (Jermaine Fowler), memprakarsai gerakan mogok kerja untuk menuntut pihak RegalView menaikan gaji mereka. Mau tak mau, Cash juga ikut dalam aksi tersebut.

Berkat kejadian tersebut, Cash malah mendapat promosi menjadi penelepon sakti. Dengan tunjangan gaji yang fantastis, hidupnya kini serba berkecukupan, bahkan terkesan mewah.

Namun, kenaikan jabatan ternyata berdampak buruk pada kehidupan sosial Cash. Setelah tak ikut aksi mogok kerja, hubungannya dengan teman-teman sejawat menjadi renggang. Bahkan, ia harus putus dengan pacarnya Detroit, yang menganggap Cash telah menjadi orang yang berbeda..

Cash pun semakin larut dalam pekerjaannya. Di dalam kelarutannya tersebut, belakangan ia mengetahui rahasia gila dari perusahaan WorryFree, klien terbesar RegalView. Rahasia yang membuat pandangannya berubah 180 derajat: Cash mengutuk pekerjaannya.

Ia kembali mogok kerja. Bersama mantan pacar dan teman-teman sejawatnya, Cash mencoba membongkar rahasia dan menghentikan kegilaan WorryFree. Kegilaan yang sangat erat dengan praktek kapitalisme.

Itulah yang coba disoroti Sorry to Bother You. Praktek negatif dari kapitilasme yang rentang berorientasi ke arah ekspoitasi pekerja, pengusaha rakus, dan tetek bengeknya.

Lakeith Standfield, sebagai protagonis utama sukses memerankan karakter Cash yang sangat relevan dengan banyak orang masa kini: menghalalkan segala cara untuk meraih kepentingan pribadi.

Di sisi lain, sifat itulah yang coba dimanfaatkan kaum kapitalis. Sebagai contoh dalam mengumpulkan kekayaan, manusia akan menawarkan nilai yang berguna untuk manusia lain. Dalam hal ini, para pekerja menawarkan jasanya kepada para pengusaha, yang pada prakteknya acap kali disalahgunakan.

Sumber Istimewa

 

Dalam Sorry to Bother You digambarkan jelas hal tersebut: perusahaan WorryFree menawarkan kehidupan yang bebas pajak ditambah makanan dan tempat tinggal gratis kepada para karyawannya, namun dengan kontrak seumur hidup. Alhasil, terjadi eksploitasi pekerja yang bahkan lebih berorientasi ke arah perbudakan. Tak hanya itu, Cash juga menemukan rahasia WorryFree yang jauh lebih gila dari ekploitasi maupun perbudakan pekerja.

Walau menggali masalah yang terkesan serius, namun sang Sutradara rangkap Penulis Skenario Boots Riley secara cerdik dapat menarasikannya dengan jenaka. Tak ada kesan yang benar-benar serius sepanjang jalan cerita. Sorry to Bother You mengkritik praktek kapitalisme dengan cara halus namun cerdas.

Sedikit spesial ketika mengetahui ternyata Sorry to Bother You merupakan debut Riley sebagai sutradara dan penulis skenario. Rasanya, tak banyak film sejenis Sorry to Bother You. Riley berhasil membawa angin segar di kancah perfilman Hollywood.

Tak heran jika film debut pertamanya ini berhasil membawa dirinya menjadi pemenang dalam CPH PIX 2018 dengan nominasi sebagai Politiken’s Audience Award. Tak hanya itu berkat kepiawaiannya film tersebut mampu masuk dalam nominasi Golden Trailer Award sebagai film komedi terbaik.

Selain isu kapitalisme, Sorry to Bother You juga coba mengkritik praktek diskriminasi ras. Sepanjang cerita, digambarkan orang kulit hitam yang terus berbicara dengan white voice. Bahkan pada suatu adegan. Cash tak ragu mengejek rasnya sendiri untuk menghibur ras lain. Walau ditampilkan sebagai subjek komedi, hal tersebut rasanya juga dinarasikan Riley sebagai kritik halus.

Di atas kekompleksan kritik sosialnya yang disajikan, Sorry to Bother You tetap disajikan dengan cara yang santai. Penonton tak akan dibuat tegang. Sebaliknya, penonton akan terus dicekoki banyolan sepanjang jalan cerita.

Jika diporsikan, sepertiga awal cerita disajikan komedi santai, lalu sepertiga jalan cerita selanjutnya disajikan komedi-drama, dan sepertiga akhir cerita disajikan komedi-absurditas ditambah beberapa plot twist yang membuat penonton berteriak dalam hati.

Sorry to Bother You merupakan film santai dengan isi yang berat. Penonton dipersilahkan memilih, menikmati Sorry to Bother You sebagai film komedi penghilang rasa suntuk atau film komedi yang sarat akan pesan sosial.

Satu yang pasti, Sorry to Bother You berhasil menjadi pembeda di antara film-film komedi Hollywood lainnya. Ide cerita yang orisinil dan plot twist yang sangat absurd membuat film ini sayang untuk dilewatkan.

About SUARA USU

Check Also

Alicia Vikander, Hidupkan Sosok Arkeolog Muda Lewat Film Tomb Raider

  Oleh : Yael Stefany Sinaga Judul : Tomb Raider Sutradara : Roar Uthaug Penulis Skenario : Evan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *