Home / Editorial / Suara Senyap Pengiring Pesta Demokrasi

Suara Senyap Pengiring Pesta Demokrasi

Komisi Pemilihan Umum (KPU) USU sudah punya surat keputusan sah. Tandanya, pemilihan umum raya (pemira), yang dinanti begitu lama, akan segera digelar. Pertanyaannya, sadarkah mahasiswa USU tentang ini? Sudah siapkah kita berpesta demokrasi lagi?

Ilustrasi: Aulia Adam
Ilustrasi: Aulia Adam

SUDAH lebih dua tahun Pemerintahan Mahasiswa (Pema) USU dipimpin presiden yang sama. Sejak pemira terakhir 4 Mei 2011, Muhammad Mitra Nasution diamanahkan sebagai presiden:pemimpin mahasiswa USU menjalankan roda ‘pergerakan’ kampus ini.

Ia dan segenap menterinya rumuskan program mercusuar, bentuk keseriusan merawat semangat mahasiswa USU. “Program ini untuk meningkatkan konsolidasi tingkat internal mahasiswa USU,” kata Mitra kepada SUARA USU, 5 Januari 2012, setelah dilantik bulan sebelumnya.

Di kesempatan itu, Mitra juga menyampaikan kegelisahannya tentang Tata Laksana Ormawa (TLO) yang ia nilai mengandung keambiguan dan perlu diluruskan. Kala itu, ia akan segera selenggarakan kongres guna memperbaiki isi TLO. Garis bawahi kata segera! Karena hingga kini, dua tahun berlalu, kongres tak kunjung terjadi.

Sebab tak jadinya kongres pun beragam. Mitra ditinggalkan tujuh menterinya karena wisuda. Fajar Soefany, sang wakil presiden juga meninggalkannya dengan alasan yang sama: mengejar gelar. Jadilah pergerakan Pema USU kian melambat. Tapi semangat menggelar kongres tampaknya tak surut.

Pema USU sempat ngotot akan adakan kongres sejak April 2013, tapi terkendala dana dan bingung memilih lokasi kongres. Mereka juga sempat minta bantuan Pembantu Rektor III Raja Bongsu Hutagalung perkara tempat. Kendati begitu, kongres tetap tak jadi-jadi.

Yang Tak Kalah Penting Disoroti

MENGAWASI Pema USU dipimpin Mitra memang menarik. Bukan hanya Mitra sebenarnya. Siapa pun yang memangku jabatan itu tetap saja menarik dipantau. Sebab, itu memang tanggung jawab mahasiswa USU.

Sebagai buah demokrasi, Mitra telah dipilih sebagai Presiden oleh mahasiswa USU yang analoginya rakyat. Sayang, saling pantau malah tak terjadi selama dua tahun terakhir. Fungsi pema yang harusnya tempat keluh kesah mahasiswa atau tempatnya menyalurkan aspirasi tak kentara terasa. Keberadaan sekretariat Pema USU saja tak banyak mahasiswa tahu.

Siapa yang salah? Tak bisa dibilang seratus persen pema yang kena getah. Keapatisan mahasiswa yang sudah sampai tahap akut, juga jadi sumber masalah.

Keberadaan Pema USU yang bisa dibilang sunyi senyap selama ini tak terlalu ditanggapi serius oleh kebanyakan mahasiswa. Buktinya, kongres yang direncanakan sejak awal Mitra terpilih luput disorot. Sehingga Pema USU lalai dan TLO masih saja mengandung keambiguan. Harusnya, mahasiswalah yang paling merasa terganggu jika Pema USU tak jalankan kewajibannya.

Pema Sekawasan memang muncul lagi. Mereka yang mengaku gabungan pema fakultas se-USU, menuntut diadakan kongres. Tapi akhirnya, Pema USU dan Pema Sekawasan sepakat menunda kongres dan membentuk KPU USU guna lekas pemilu.

Kemunculan Pema Sekawasan ini bisa dibilang sebuah kemajuan bagi mahasiswa USU yang mulai sadar politik. Lebih jauh lagi, mereka sadar Pema USU memanglah penting ‘dijaga’. Tapi, kehadirannya bisa dibilang terlambat. Andai mereka menuntut lebih cepat, kemungkinan diadakan kongres lebih besar.

Sebab-musababnya tak jauh-jauh karena pema fakultas punya masalah yang sama dengan Pema USU, yakni tak diacuhkan mahasiswanya. Kebanyakan mereka bermasalah di regenerasi. Mahasiswa yang peduli eksistensi pema jauh kalah jumlah dibanding yang apatis.

Obatnya? Tak ada selain memelekkan mahasiswa untuk perkara satu ini!

Sejumlah pema fakultas bahkan sedang sekarat. Sebut saja Pema Fakultas Kedokteran Gigi. Fakultas asal Mitra ini ternyata dipimpin Gubernur yang sama dua tahun terakhir. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik kosong kepemimpinan sudah sebelas bulan. Belum ada juga pemilu ulang menuntaskan masalah ini.

FKM? Ia sudah lama ditinggal gubernurnya wisuda. Dan FE, sejak terbentuk November 2013, KPU-nya belum tentukan tanggal pemira karena masih sibuk dengan masalah internal. Ini benar-benar kondisi parah.

Mengutip Pemimpin Redaksi SUARA USU 2010 Khairil Hanan yang coba mengingatkan mahasiswa melalui tulisan ini, SUARA USU kembali mengingatkan: Jangan mengaku mahasiswa jika perilaku tak ubahnya para elite politik negeri ini!

Secara etimologis mahasiswa berarti siswa yang di-maha-kan, siswa yang dihormati dan menjadi panutan. Mahasiswa sebagai kaum intelektual dengan idealisme yang dimilikinya harus berfungsi sebagaidirector of change (pengarah perubahan).

Ingat, KPU USU tengah menyusun jadwal pemira. Pantau mereka, bantu mereka, wujudkan pesta demokrasi yang jarang jarang kita nikmati sebagai mahasiswa pascaalam reformasi. Tak sedikit uang habis tiap kali pesta ini digelar.

Pemilu 2008 mencapai Rp 52 juta, 2010 sekitar Rp 25 juta dan terakhir sekitar Rp 30 juta. Dana ini juga berasal dari kantong kita, mahasiswa. Setidaknya jangan mubazir dengan tidak peduli sama sekali. Giring pesta demokrasi kali ini dengan kepedulian penuh, bukan lagi suara senyap yang melahirkan pemerintahan yang senyap.

Jangan kalah dengan mahasiswa yang dahulu berhasil membawa reformasi 1998! Kembali pedulilah! Hancur USU ini, hancur juganya kita! Hidup USU! HIDUP MAHASISWA!

About Portal Berita Pers Mahasiswa SUARA USU

Check Also

Empat Dosa Penghuni Rumah Dinas USU

  Oleh: Redaksi Surat peringatan yang dilayangkan rektorat terkait peyalahgunaan rumah dinas terkesan lamban. Dari …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *