Home / Sosok / Swurf, Pendatang Baru yang Siap Majukan Musik Rock Medan

Swurf, Pendatang Baru yang Siap Majukan Musik Rock Medan

Oleh: Dewi Annisa Putri

Empat mahasiswa yang sama-sama hobi bermusik ini kini bersatu. Mereka membentuk Swurf, band baru yang punya cita-cita memajukan genre rock di Medan.

Muhammad Syarfan Khair Akbar alias Nunu, Vokalis Grup Band Swurf. | Dewi Annisa Putri

Sebenarnya selera musik itu kan beda-beda tiap orang. Tapi, penikmat musik rok di Medan enggak banyak lagi sekarang,” kata Muhammad Syarfan Khair Akbar saat ditanyai pendapatnya soal kondisi musik rock di Medan.

Atas kesadaran akan kondisi ini, ia dan tiga temannya lantas membentuk sebuah band dengan aliran rock; Swurf. Band anyar ini dibentuk untuk ikut mengambil andil di pasar musik kota Medan dan meciptakan sebuah karya yang baru.

Syarfan, biasa dipanggil Nunu, adalah vokalis Swurf yang resmi dibentuk sejak 22 Desember 2016 lalu. Nama Swurf sendiri merupakan pemberian dari vokalis Bittersweet, Ferry Neldy. Swurf akhirnya terpilih karena mudah diingat dan cukup menarik.

Terbentuknya band ini diawali dengan beranggotakan tiga orang yaitu Nunu sebagai vokalis dan gitaris, Jeje memegang bas, dan Fadhil menjadi drumer. Nunu merupakan mahasiswa Departemen Antropologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) USU. Ia suka musik sejak kecil dan sudah pernah bergabung dalam grup band saat duduk di bangku sekolah menengah atas. Masuk kuliah, ia pun mulai belajar bermain gitar.

Javier Warganda alias Jeje, Bassis Grup Band Swurf. | Dewi Annisa Putri

Sang bassis, Jeje, juga kuliah di FISIP USU di Departemen Ilmu Politik. Pemilik nama lengkap Javier Warganda ini sudah mulai menjadi gitaris sejak di bangku sekolah menengah pertama. “Pas sekolah dulu ngeband untuk festival, ikut-ikut lomba aja. Waktu kuliah memang pengen berkarya,” cerita Jeje.

Begitu punya ide membuat grup band, Jeje dan Nunu langsung terpikir untuk mencari tambahan personel. Kebetulan, saat sedang berkumpul dan duduk bersama, Fadhil mengajak Nunu dan Jeje membuat band. Ketiganya memang sudah saling kenal dan berteman.

Fadhil yang bernama lengkap Muhammad Fadhil ini berkuliah di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Ia juga merupakan personel termuda di Swurf. Fadhil menguasai drum karena telah belajar sejak kelas enam SD secara otodidak. Ia pun pernah ikut band dengan aliran musik rock sejak kelas tiga SMP sampai kelas dua SMA. “Aku memang pengen kali bikin band lagi,” ujar Fadhil.

Setelah ketiganya berkumpul, Jeje lalu mengajak Muhammad Imam bergabung menjadi gitaris. Imam, mahasiswa Departemen Administrasi Bisnis FISIP USU ini langsung menerima ajakan Jeje.

Muhammad Fadhil, pemain drum grup band Swurf. | Dewi Annisa Putri

Keempatnya resmi membentuk band Swurf dan rutin berlatih. Minimal satu kali dalam seminggu, dan bisa sampai tiga kali jika sedang mempersiapkan diri untuk tampil. Studio musik di rumah Nunu menjadi salah satu saksi bisu perjuangan band baru mereka. Mereka sering berlatih di studio ini, atau terkadang di Redrock Cafe.

“Kita mulai mau seriuskan band ini. Band-nya enggak provit oriented, bukan nyari duit. Tapi pengen berkarya aja,” ujar Jeje.

Muhammad Imam, Gitaris Grup Band Swurf. | Dewi Annisa Putri

Nunu menambahkan, semua personel Swurf memang suka musik rock. Mereka lalu serius menggarap lagu sendiri untuk menghibur orang dan turut memeriahkan musik rock di Medan. Selain soal aliran rock yang tak terlalu digandrungi lagi sekarang, menurutnya band Medan selalu mendapat tempat kedua di rumahnya sendiri.

“Kalau ada band ibukota yang datang, pasti dibuat tampil di akhir dan meriah kali. Seakan yang paling ditunggu-tunggu dan paling baguslah. Padahal, band Medan enggak kalah. Semuanya keren-keren,” ujar Nunu.

***

 

Lagu pertama

Now Mr. D is gone

And your child with him

You don’t know where they are

Petikan di atas merupakan bagian dari lirik lagu Dalston Fantasy. Lagu ini berkisah tentang seorang pedofil bernama Dalston yang suka berfantasi dan menculik anak di bawah umur. Lagu ini ditulisnya dalam waktu sehari. Setelah itu, aransemen musik pengiring lagu disusun bersama sejak Februari hingga rilis Mei ini.

Nunu menulis lagu ini untuk menyindir dan mengecam tindakan para pedofil. “Kayak pelaku di JIS (Jakarta International School) itu, terus juga banyak lagi yang lain kan makin marak belakangan ini,” ujarnya. Ia berharap karya pertama Swurf ini dapat dinikmati pecinta musik rock dan dapat menghibur orang lain.

Kehadiran Swurf dibuktikan dengan cepatnya band ini hadir di atas panggung sejumlah acara di kota Medan. Pertama kali, Swurf tampil menjadi band pembuka di acara Medan Local Market X Bussinness Work Project di FISIP USU pada Januari lalu, tak sampai sebulan setelah Swurf dibentuk.

Lalu band ini mengisi acara Pentas Seni SMA Negeri 2 Medan pada 4 Maret, Pentas Seni SMA Harapan 3 Medan pada 11 Februari, dan Stoner Swamp di Rock Coffee pada 9 Maret. Bulan April, tepatnya pada tanggal 30, Swurf juga memeriahkan Art IE, acara yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Departemen Teknik Industri di Fakultas Teknik USU. Paling terakhir, Swurf tampil di Old Time Coffee pada 11 Mei lalu.

Ke depannya, band ini berencana terus membuat lagu sebagai wujud keseriusan mereka dalam mengembangkan musik rock.

About Portal Berita Pers Mahasiswa SUARA USU

Check Also

Ayulia Hasanah Pratami, Semua Prestasi Berawal dari Ilmu Komunikasi

Oleh: Dewi Annisa Putri Kuliah di Ilmu Komunikasi adalah salah satu cita-citanya yang telah terwujud. …