Home / Resensi / Tampil Beda, Jati Diri Bukan Untuk Bahan Bully

Tampil Beda, Jati Diri Bukan Untuk Bahan Bully

Sumber Istimewa

 

Oleh: Mayang Sari Sirait

Judul : Freak Show
Sutradara : Trudie Styler
Penulis Skenario : Patrick J Clifton, Beth Rigazio
Pemeran : Alex Lawther, Abigail Breslin, Bette Midler, AnnaSophia Robb, Ian Nelson, Lorraine Toussain, Willa Fitzgerald, Laverne Cox
Rilis : 12 Januari 2018
Durasi : 1 jam 31 menit
Genre : Drama, Komedi

 

Dirasa aneh. Disini hadir Billy Bloom bersama segala tingkah ajaibnya. Billy menghipnotismu untuk hidup sebagai diri sendiri.

 

Billy Bloom tidak menyangka ketika dia harus mengalami cemooh dari murid-murid di sekolah barunya pada hari pertama hanya karena pakaian ala Disney yang dikenakannya. Hal itu menjadi tekanan ketika ia justru disukai banyak orang ditempat tinggal sebelumnya.

Billy yang baru saja pindah kerumah sang Ayah yang tidak pernah ditemuinya sejak bercerai dengan Muv—sebutan Ibu Billy terus menanti penjemputannya kembali.

Keadaan Billy sedikit membaik saat seorang gadis berkacamata yang ia sebut ‘bla bla bla’ menjadi teman sekaligus sumber informasi. Bla bla bla menceritakan beberapa murid popular sekolahnya, seperti Lynette si ‘Iblis’ yang terobsesi menjadi Ratu Sekolah, Bib Oberman yang pernah tergabung dalam grup vocal pria, Bo-Bo Paterson si bintang Football, serta para pengikut Lynette, Sesame dan Tiffany. Satu yang menarik perhatiannya, Flip Kelly si pangeran tampan nan baik hati.

Billy yang gemar memakai pakaian anak perempuan semakin tertekan ketika seluruh teman-temannya mencemooh. Puncaknya, ketika Billy tak mendapat respon saat mengadu pada guru bahwa Lynette dan teman-temannya mengganggu Billy.

Geram, Billy menjadi tak terkendali. Dia memakai pakaian yang semakin aneh setiap harinya, seperti Astronot dan beberapa tokoh kartun. Sampai suatu hari dia menghebohkan sekolah dengan gaun panjang ala pengantin dan riasan tebal.

Siapa sangka, gaun itu membawa dampak buruk ketika sekelompok murid jahat menyerangnya. Membuat Billy koma beberapa hari. Flip menjadi penolong dan menunggunya selama koma. Keduanya menjadi teman baik sejak itu. Flip yang selalu datang bermain kerumah Billy, membawa keceriaan tersendiri. Keduanya saling melengkapi.

Flip mengajarkan bagaimana Billy harus bersikap sebagai anak lelaki, sedangkan Billy mencoba membuat Flip sadar bahwa setiap orang harus berani memperjuangkan jati dirinya.

Cerita film ini cukup sulit ditebak, sampai adegan ini penonton tentu masih meraba kemana arah ceritanya. Patrick J Clifton dan Beth Rigazio seakan menyuruh penonton hanya diam dan memperhatikan Billy Bloom yang tingkahnya membuat gemas.

Datanglah hari dimana Billy harus kembali kesana, ke sekolah buruk itu dengan bekal yang sudah Flip berikan. Flip memaksa Billy menjadi anak lelaki pada umumnya agar tidak lagi ditindas. Meski sempat menolak, Flip berhasil meyakinkan Billy.

Sumber Istimewa

Banyak hal-hal tak terduga yang terjadi, mulai dari penyambutan manis, rumor gay, hadirnya Muv dengan kabar menyedihkan dan hubungan dengan Ayahnya yang kian memburuk.

Kesedihan dan kesendirian menyadarkan Billy akan satu hal, kemauan dari jati dirinya. Tanpa memikirkan masalah yang akan timbul, dia menyatakan akan bersaing dengan Lynette menjadi Ratu Sekolah. Tentu ini menjadi sejarah ketika untuk pertama kalinya murid laki-laki mencalonkan diri menjadi Ratu Sekolah, bahkan kabar ini menjadi viral hingga terdegar di telinga Ayah Billy.

Persaingan keduanya menjadi keseruan tersendiri dalam film ini, berlomba menarik perhatian para pendukungnya dengan cara masing-masing. Mulai dari kelompok tak terlihat hingga murid popular.

Secara keseluruhan, dapat dikatakan film produksi Flower Films dan Maven Pictures ini seperti kapal yang membawa penontonnya menikmati lautan, terik matahari, gelombang laut yang kecil, sedang, hingga besar. Kita hanya menikmati, tidak diberi kesempatan menebak arah cerita.

Film yang dibuat berdasarkan novel berjudul sama karya James St James benar-benar menyindir bagaimana tingkah remaja yang sesuka hati melukai orang lain. Film ini ,menyuguhkan banyak pesan moral. Bagaimana hubungan orang tua dan anak, antar teman, bersikap baik, hingga saling menghargai.

Dewasa ini, kita melihat banyak kasus bully yang terjadi. Khususnya pada anak remaja. Mirisnya, pembullyan kerap terjadi di wilayah sekolah.

Kita seakan disentak, untuk apa seorang anak dikirim kesekolah? Tentu untuk menjadi orang berintelektual tinggi yang diimbangi dengan moral. Nyatanya, justru banyak manusia kejam yang lahir dari sekolah.

Terlepas dari kaya akan pesan moral dan alur cerita yang membuat penasaran, Alex Lawther patut dipuji totalitasnya dalam memerankan sosok Billy Bloom.

Semua aktor hebat jelas memiliki totalitas, tapi Alex benar-benar nyata dan sulit dikatakan bagaimana cara dia membuat geli penonton dengan ekspresi manjanya, membuat penonton menggelengkan kepala dengan segala kostum anehnya. Seperti, pasti kau akan histeris dan berteriak, “Apa? Dia memakai gaun pernikahan ke sekolah?”. Itu maksudku, Billy benar-benar nyata. Bukan Alex Lawther yang memenangkan penghargaan kategori Young British Performer of The Year dalam London Film Critics’ Circle.

Film ini menjadi debut pertama Trudie Styler sebagai sutradara setelah sebelumnya memproduksi beberapa film dokumenter dan film unggulan seperti Guy Ritchie’s Lock, Stock, and Two Smoking Barrels and Snatch; Duncan Jones’ Moon; dan Moving the Mountain yang memenangkan International Independent Documentary Award.

About SUARA USU

Check Also

Gadis Pantai, Kontradiksi Feodalisme Jawa

  Oleh: Widiya Hastuti Judul Gadis Pantai Penulis Pramoedya Ananta Toer Penerbit Lentera Dipantara Tahun …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *