Home / Cerpen / Terang di Ujung Jalan

Terang di Ujung Jalan

Ilustrasi: Samuel Sihaloho

Oleh: Samuel Sihaloho

Apa yang aku mimpikan tadi malam? Aku bertanya pada diri sendiri. Di dalam sebuah ruang tempatku belajar dan juga beristirahat di malam yang melelahkan aku coba mengingatnya kembali. Aku resah akan mimpi tadi malam yang sangat terbayang-bayang dalam pikiran.

Seolah-olah cahaya jauh di depan dan aku masih di lorong gelap.

***

Hari masih samar muka ketika aku berlari-lari kecil dari sebuah gubuk reyot. Keranjang besar menggantung di pundak. Kehidupan bukanlah seperti yang sering diilustrasikan serial televisi. Keluarga harmonis punya ayah-ibu dan anak-anak sedang makan roti serta minum segelas teh di teras rumah.

Bagiku itu hanya ilusi.

***

Di TPA Bantargebang. Di genggamanku sepit dari besi menjadi alat yang saat ini senjataku bertahan hidup. Hiruk-pikuk mobil-mobil truk sampah berjalan beriring membawa beban muatan masing-masing. Hal yang menjadi beban mereka adalah rezeki bagi orang sepertiku.

Satu per satu sampah yang laku dijual menjadikan hatiku bahagia. Senyuman selalu mengembang kecil ketika melihat keranjangku hampir penuh.  Bahagia tak selalu berasal dari indahnya hidup.

Aku hanya seorang dari ratusan anak di gunung sampah tempat kami mempertahankan hidup. Tak peduli hari besok perayaan hari kemerdekaan. Kami hanya butuh sampah yang bertebaran setelah perayaan itu.

Bukan gara-gara tak punya rasa nasionalisme atau istilah lain namun ketika kami memperingati kemerdekaan negara, yang tertinggal hanya sebuah tanya.

Apakah aku merdeka atau setidaknya sudah merasa merdeka?

***

Suatu malam selesai mengumpulkan sampah aku segera pulang untuk terlelap tidur. Dalam mimpi aku  sedang sendiri di puncak gunung sampah itu. Di atas langit gelap sebuah pintu gerbang yang bersinar terbuka.

Wujud-wujud yang bercahaya menyembul seperti hamburan bintang yang berjatuhan dari langit. Datang mendekat dan semakin mendekat kepadaku. Tujuan mereka lurus kepadaku.

Aku hanya bertanya dalam hatiku. Apakah ini malaikat yang diutus menyampaikan kabar bahwa aku segera menjadi orang kaya. Karena hanya ada itu di pikiranku. Tapi tidak.

Wujud-wujud cahaya itu mengelilingiku bagaikan pemburu menangkap buruannya. Siaga penuh.

“Hai, apakah kalian juga ingin mencari botol-botol bekas?” tanyaku gugup.

Aku melihat mereka hanya bergeming dan berbahasa yang tak dapat kumengerti.

“Hai anak manis, di manakah rumahmu?” tanya salah satu wujud bercahaya.

“Aku tidak punya rumah atau setidaknya pantas disebut rumah.’’

“Apakah kamu tidak pernah berpikir punya rumah di hidupmu?” sahut wujud cahaya lainnya.

“Bagiku makan saja mempertaruhkan nyawa di gunung sampah yang bisa saja menimbunku ketika bekerja. Rumah mungkin hal yang tak akan kupikirkan.”

“Kau harus memikirkan tentang kehidupanmu,” sebuah wujud cahaya lain berkata dan mendekat.

“Untuk apa aku berpikir lagi kehidupan ini. Seorang pemulung tiada berubah setelah berpuluh tahun menjadi pemulung. Seorang penarik becak tidak berubah menjadi toke becak. Becaknya makin rusak tapi pendapatannya segitu saja.”

Aku merajuk sambil bertanya dalam pikiranku apakah wujud cahaya itu tidak tahu kehidupan yang sebenarnya.

“Aku tahu yang kau maksud. Kamu memang anak yang cerdas dalam berpikir. Tapi kami tidak mempersalahkan siapa pun. Kamu harus tahu bahwa sebenarnya semua dapat berubah.”

“Itulah mengapa kamu harus memikirkan kehidupanmu anakku.” sang wujud cahaya lainnya membelai rambutku.

“Aku tidak tahu maksud perkataan kalian,” jawabku sambil menggaruk-garuk kepala.

“Manusia sejatinya dilahirkan sama, tak membawa apa-apa sama sekali. Yang membuat mereka  berbeda adalah lahir di keluarga yang berbeda derajatnya. Kehidupan keluarga berbeda tapi ada satu yang membuat semua orang memiliki kesempatan sama.”

“Tapi apakah kamu berkata yang sebenarnya?” aku menatap ke arah wujud cahaya memastikan mereka sedang tidak berhalusinasi.

“Ya, tentu saja. Aku menceritakan kepadamu sejujurnya bahwa dengan ini kamu dapat mengubah segala sesuatu yang kamu ucapkan tadi,” sang wujud cahaya menunggu reaksiku.

“Aku tak ingin menebak, bisakah kau beritahu padaku apa itu?”

“Namanya pendidikan. Sesuatu yang kami ciptakan agar seseorang berkualitas dan berkarakter, punya pandangan yang luas ke depan untuk mencapai cita-cita. Karena pendidikan itu sendiri memotivasi untuk lebih baik dalam segala aspek kehidupan.

“Hahaha… kau bercanda, kau sedang berfantasi dengan ceritamu!” aku tertawa lepas. “Kau berpikir aku akan pergi ke sekolah membawa tas berisi buku dan belajar di ruang kelas?”

Aku menggeleng-gelengkan kepala.

“Kenapa kau tertawa, apa kami ada salah?” sang wujud cahaya kebingungan.

“Ya, kalian benar. Aku akan pergi ke sekolah dan setelah pulang akan memasak semua buku-buku menjadi makan siangku. Pendidikan hanya untuk yang berduit,” ucapku lantang.

“Itu adalah jalan yang kami ciptakan untuk orang-orang sepertimu dapat mengubah hidupnya,” wujud-wujud bercahaya itu menyakinkan.

“Tapi kenapa kalian diam saja ketika pendidikan menjadi gudang duit bagi para pengusaha yang membuat pendidikan untuk kekayaan mereka?”

Tiba-tiba suasana hening. Wujud-wujud bercahaya itu terdiam.

“Apakah kamu akan bertindak jika sudah punya kesempatan?”

Sang wujud-wujud bercahaya itu pergi meninggalkanku dan menghilang setelah masuk ke dalam pintu gerbang itu.

Tiba-tiba aku terbangun dari mimpi dan tersadar bahwa hujan sudah membasahi seluruh alas tidurku yang dari kardus.

***

“Apa arti dari mimpi seperti itu, Bu?” aku bertanya pada Ibu.

“Ibu tidak mengerti mimpimu, Nak!”

“Tapi, mengapa itu selalu terngiang di pikiranku?”

“Sebaiknya tak kau hiraukan. Pekerjaan masih banyak dan kita tak punya waktu hanya untuk memikirkan arti sebuah mimpi.”

Ibu pergi melanjutkan pekerjaanya.

***

Sekarang aku mengerti akan arti mimpiku itu. Aku melihat gunung sampah Bantargebang masih seperti dulu. Anak-anak putus sekolah mengais-ngais sampah. Aku merasa diriku tak berdaya melihatnya. Aku coba memahami bahwa pikiran mereka pasti sama denganku ketika aku masih belum kenal dunia pendidikan.

Tapi aku hanya duduk saja sambil berpikir sendiri. Tas ranselku masih tergantung di pundak. Kubayangkan jika anak-anak di sini memakai tas ransel bukan keranjang yang berisi sampah.

Tiba-tiba dalam lamunanku ada yang berbisik, “Apakah kamu akan bertindak ketika memiliki kesempatan?

About SUARA USU

Check Also

Pemuda dan Sang Penenun Waktu

Oleh: Samuel Sihaloho Hidup manusia bertempat dalam tenunan waktu pada pola yang tak mampu dilihatnya. Sementara …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *