Home / Cerpen / Terusir

Terusir

Oleh: Ridha Annisa Sebayang

“Ayah, aku mencintainya,” ucapku sungguh pada malam itu. “Tak bisakah Kau beri restumu?”

            Aku sungguh ingin menangis tersedu. Namun sekuat tenaga aku tahan. Aku tak mau ayah melihatku lemah.

            “Bukan aku tak mau merestui kalian, Anakku,” suara berat ayah menggema. “Aku hanya tak sanggup memikirkan apa yang akan orang bilang tentang keluarga kita? Ayah malu.”

            “Aku tak peduli apa kata orang. Aku hanya perlu restu Ayah dan Ibu,” kataku lantas menatap ayah dan ibu bergantian. Ibu terduduk di kursi ruang tengah. Memegangi ujung kainnya. Memalingkan wajah, menghindari tatapanku. Dia menangis.

            “Tapi Ayah peduli, Uli. Ini soal martabat keluarga kita di kampung ini,” ujar ayah tegas.

            Mau tak mau aku tak mampu menahan tangisku. Tak tahu harus bilang apa. berulang kali aku memandang ibu dengan tatapan memohon. Tapi percuma. Kata-kata ayah adalah sabda bagi ibu. Aku tahu dia pun bimbang dengan urusan ini.

            Dan malam itu berakhir dengan diam. Aku masuk ke kamar. Merenungi kembali keputusan yang akan kuambil. Akankah aku nekad menikah dengan dia yang tak seharusnya menjadi pendamping hidupku dalam kebudayaan kami? Atau tunduk pada titah ayah?

            Suara tempat tidurku berderak menopang tubuhku yang gelisah di atasnya. Semalaman mata tak terpejam. Memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dengan kedua keputusan yang akan kuambil.

***

            Aku terjaga dari tidurku. Ah, mimpi selama sepuluh tahun ini kembali menyambangiku. Haga masih terlelap di sampingku. Masih terbuai dalam mimpinya sendiri yang entah apa. Sementara aku bergegas menuju dapur. Mempersiapkan makanan untuk keluarga kecilku. Sebentar lagi, kedua putraku, Kula dan Kara, pasti menanyakan hal yang setiap pagi mereka tanyakan, “Pagi ini sarapan apa, Bunda?”

            Sungguh beruntung aku memiliki keluarga kecil ini. Suami yang sangat manis, penyabar dan pengertian. Seorang teman kecilku yang begitu memahamiku. Dua putra yang tak pernah merepotkanku bahkan sejak bayi. Kula sudah 9 tahun, sedang Kara 5 tahun. Hanya dua hal dari mereka yang merepotkanku. Pertama, bila mereka menanyakan keberadaan kakek dan neneknya. Kedua, ketika mereka mulai iri dengan teman-temannya yang sering dikunjungi atau mengunjungi kakek dan nenek mereka.

            Aku selalu hanya bisa berkata, “Nanti pasti Ayah dan Bunda ajak kalian menemui kakek dan nenek.” Dan baiknya mereka, menurut saja dengan jawabanku.

            Jangankan anak-anak itu, aku saja merindukan ayah dan ibuku. Haga juga pasti sangat merindukan ayah ibunya juga. Tapi inilah konsekuensi dari pilihan kami sepuluh tahun silam. Aku memutuskan mengarungi bahtera pernikahan dengan teman kecilku itu. Keluarga kami masing-masing memberi restu. Tapi tidak dengan masyarakat. Kami terusir dari keluarga besar. Bahkan mengunjungi orang tua pun kami tak bisa.

            Di tahun pertama pernikahan, pernah kami coba berkunjung ke kampung halaman tempat orang tua kami bermukim. Yang kami terima adalah tatapan sinis masyarakat. Di kedai kopi, orang tuaku dan Haga menjadi bahan cibiran. Mereka tak berni ke kedai. Sejak itu, kami putuskan untuk tak lagi pulang kampung. Bahkan ketika salah seorang dari orang tua kami sakit pun kami tak berani menjenguk.

            “Uli,” Haga memanggilku. Membuyarkan semua lamunan. Belum lagi aku menoleh, Haga sudah melingkarkan kedua tangannya di pinggangku dari belakang. “Mikirin apa, sih?” katanya sambil mencium pipiku.

            Aku tak menjawab. Kuteruskan membereskan meja makan untuk kami sarapan. Haga terus mengamatiku. Sesekali dia bantu aku menata piring di meja.

            “Bukan hanya kau yang berkorban demi kebahagiaan kita, Li. Aku pun meninggalkan keluarga demi bisa membangun keluarga ini.” Perkataan Haga barusan begitu menohokku. Ia tahu apa yang sedang aku pikirkan. Mungkin karena anak-anak kembali menanyakan kakek nenek mereka malam tadi.

            Sontak aku menatap Haga. Dengan wajah sendu kami saling menatap. Aku merasakan panas di mata dan hatiku. Tak mungkin, tidak. Aku pasti akan menangis. Setelah sepuluh tahun ini aku tak pernah menangis, bahkan ketika melahirkan kedua putraku.

            “Bukankah aku juga sudah ceritakan bagaimana saat aku meminta restu orang tuaku untuk menikahimu, Uli? Tidakkah kita berada di posisi yang sama? Aku tahu sakit rasanya.”

            Aku terguncang. Rasa rindu pada orang tua dan kampung halaman  menyergapku lebih cepat daripada rangkulan Haga yang hangat. Pernikahan ini memang tak harusnya terjadi. Meski begitu, aku tak pernah menyesalinya, tak akan pernah. Haga membenamkan wajahku di dadanya. Aku terisak dalam dekapnya. Aku tahu, Haga pun turut menangis bersamaku.

***

            “Apa kamu bilang, Haga? Mau menikahi Uli?”

            Haga mengangguk pasti. “Iya, Pak. Aku sangat mencintai Uli dan ingin menikahinya.”

            “Tapi kalian satu marga. Mana mungkin bisa,” Ibu Haga menimpali.

            “Adat kita memang menjadikannya tidak mungkin, Pak, Bu. Tapi aku yakin, Tuhan tidak pernah melarang dua insan yang saling mencinta untuk bersatu. Toh kami juga bukan saudara kandung.”

            “Tetap tidak bisa!” bapak Haga menyanggah dengan ketus. “Mau di taruh di mana muka Bapak?”

            “Kami hanya butuh kedua orang tua kami berada di samping kami saat pernikahan berlangsung. Kami butuh restu kalian,” ujar Haga memelas. “Aku tidak bisa mencintai gadis lain selain Uli.”

***

            Kedua orang tua kami memang akhirnya merestui. Sanak saudara tak sudi hadir. Hanya keluarga inti kami. Biarlah begitu. Konsekuensi dari semua ini kami tanggung berdua, juga anak-anak kami. Kami terusir dair kampung. Orang tua seperti tak punya harga lagi di kampung itu. Tapi dengan tidak menyesal aku tetap yakinkan, aku bahagia dengan keluargaku ini.

Check Also

Binasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *